Senin, 13 Oktober 2014

Rachmawati Jadi Pelor Prabowo Tembak Mega dan Jokowi

Jurnalis Independen: Benarkah ini faktor kebetulan? Atau ini memang sebuah skenario dari musuh politik Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDIP) sebagai pelopor Koalisi Indonesia Hebat (KIH)? Atau hanya sentimen pribadi? Atau bisa juga ada kelompok yang mengunakan sentimen pribadi dan perbedaan prinsip politik antara Rachmawati dan Megawati Soekarnoputri. Untuk melakukan adu domba dan akhirnya menurunkan legitimasi Presiden Terpilih Jokowi-JK.


Masyarakat umum telah lama mengetahui jika anak ketiga proklamator Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri tidak pernah akur dengan kakak perempuannya Megawati Soekarnoputri. Hal itu seringkali memantik hujatan dari Rachmawati terhadap langkah politik kakak perempuan sulungnya yang juga menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan itu.

Kali ini, kebencian Rachmawati itu digunakan oleh lawan politik Megawati Soekarnoputri untuk menguliti kesuksesan, termasuk kemenangan dalam Pilpres 9 Juli 2014 lalu.

Tak hanya itu, Rachmawati pun melaporkan Presiden terpilih yang diusung PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi) terkait dugaan kasus korupsi kepada pimpinan DPR. Menurut temuan Rachmawati, kader kesayangan Megawati itu diduga terlibat beberapa kasus korupsi, salah satunya pengadaan bus Transjakarta.

Apakah sebenarnya yang melatarbelakangi kebencian Rachmawati terhadap kakaknya Megawati.

Soekarno sebagai bapak bangsa masih menjadi panutan. Salah satu yang tak lekang adalah ajarannya mengenai Marhaenisme. Inti ajaran itu adalah Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi dan Ketuhanan.

Peneliti Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai lawan politik dan pemikiran Soekarno masih mempunyai keinginan mengubur pemikiran sang proklamator yang tegas menolak penjajahan oleh bangsa lain dalam bentuk apa pun (neoliberalisme). Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memecah belah kelurga Bung Karno.

"Saya khawatir ada faktor intelijen yang melakukan infiltrasi di dalam keluarga Bung Karno. Gerakan untuk membusukkan dari dalam oleh lawan politik dan ideologi Bung Karno yang berperan menjadi pembisik membenturkan keluarga Bung Karno (Rachmawati dengan Megawati)," kata Karyono.

Menurutnya kemungkinan faktor infiltrasi intelijen sangat dimungkinkan. Sebelumnya cara-cara menghancurkan ajaran Soekarno pun pernah dilakukan dengan bantuan intelijen.

"Dalam dunia politik bisa jadi. Antitesa terhadap ajaran Bung Karno masih terus berjalan, seperti dulu isu harta karun Soekarno, perempuan-perempuan Soekarno, dan keterlibatan dengan PKI," terang dia.
Megawati dan Rachmawati merupakan anak biologis Soekarno yang sama-sama menyandang nama belakang Soekarnoputri. Namun, kedua perempuan ini memiliki perbedaan pandangan dalam politik yang lebar.

Deni JA dalam bukunya Partai Politik pun Berguguran terbitan LKiS (2006) mengungkapkan, jurang perbedaan politik yang dianut kedua saudara ini. Mereka masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda guna mencapai kesejahteraan rakyat.

Rachmawati dipengaruhi oleh paham populisme yang berkembang di dunia pada tahun 1930-an. Negara harus memiliki keberpihakan dan tidak boleh bersikap netral terhadap kompetisi pasar menurut paham ini. Program kesejahteraannya dengan memperkenalkan subsidi kepada rakyat.

Sebaliknya, Megawati menganut paham new-populism. Menurut pandangan paham ini, subsidi harus dikurangi secara perlahan. Secara gradual, ekonomi harus bersandar pada kompetisi bebas. Peran negara nantinya hanya sebagai wasit.

Ada aspek psikologis yang diduga menjadi penyebab ketidakharmonisan hubungan kakak-adik anak Soekarno, Rachmawati dan Megawati. Peneliti Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menyatakan faktor rasa iri dalam karier politik sebagai sesama anak biologis seorang proklamator menjadi salah satu penyebabnya.

Menurut Karyo Wibowo, "Dari aspek psikologi ada kecemburuan, kenapa Megawati yang lebih populer dan terkenal padahal sama-sama anak Soekarno. Sebenarnya tidak ada perbedaan pandangan secara prinsipil yang bisa dijadikan alasan Rachmawati selalu menyerang Megawati".

Diketahui, Rachmawati sempat mendirikan Partai Pelopor namun tak berkembang. Hal itu berbeda dengan PDI Perjuangan yang dinakhodai Megawati yang muncul sebagai salah satu partai terbesar di Indonesia.
Peneliti Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menyebutkan dalam sebuah wawancara Rachmawati mengaku sejak kecil tak akur dengan Megawati. Dia sering berebut sesuatu dengan ketua umum PDI Perjuangan itu.

"Dulu saya pernah membaca majalah, Rahcmawati pernah mengungkapkan cerita-cerita waktu kecil terjadi persaingan sampai perebutan barang, tapi saya lupa apa. Keterangannya Rachmawati itu dalam wawancara di Majalah Forum dan Tempo," kata Karyono mengulang ucapan Rachmawati.

Menilik hal itu, Karyono menilai ada perbedaan karakter yang mencolok dari Rachmawati dan Megawati. Karakter ini pun ditengarai menjadi salah satu faktor ketidakharmonisan hubungan anak Soekarno ini.

"Ini kan menyangkut karakter dalam satu keluarga yang punya karakter berbeda. Megawati cenderung diam dan memegang prinsip kuat kalau Rachmawati karakternya meledak-ledak, soal prinsip juga kuat," terang dia.

Sementara itu, perseteruan atau mungkin ras kebencian Rachmawati  kepada Megawati bagi KMP adalah moment mereka mampu mengalahkan KIH yang mendukung Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi).

Kesempatan itu jadi langkah KMP guna menggoyang pemerintahan Jokowi. Manuver politik pun mereka mainkan sedemikian rupa demi membalas kekalahan dalam Pilpres 2014 lalu.

Strategi baru yang dimainkan oleh KMP dengan membuat drama pengusutan dugaan kasus korupsi Jokowi. Drama tersebut dimainkan oleh Wakil Ketua DPR asal Gerindra Fadli Zon dan Rachmawati Soekarnoputri, anak ketiga proklamator Bung Karno. Saat Pilpres 2014 lalu, Rachmawati dikenal sebagai pendukung setia Prabowo Subianto.

Tidak ada komentar: