Selasa, 30 Januari 2018

Pidato Asal Moncrot

Soal Pidato Tito, Hidayat Nur Wahid: Jangan Hilangkan Jejak Ulama
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid turut mengomentari pidato Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian soal organisasi kemasyarakatan atau ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Hidayat meminta Tito tidak melupakan sejarah (jasmerah) dan jangan sekali-kali menghilangkan jejak ulama (jashijau).

Jumat, 26 Januari 2018

Akhir Kekuasaan Gus Ipul Di Perang Tanding Pilgub Jatim

Bharatayudha di Pilkada Jatim 2018, Balas Dendam, Perang Politik Merah dan Hijau

Jurnalis Independen: Hampir pasti, pemilihan Gubernur Jawa Timur hanya di ikuti Dua Pasangan Kandidat. Yaitu, Pasangan Syaifullah Yusuf dan Pasangan Khofifah Indarparawansa. dan ajang perang tanding ini, menjadi ajang "berakhirnya"  karir Gus Ipul di Pilgub Jatim 2018.

Banteng Panik! “Angkat Polisi Aktif” Jadi Plt Gubernur, Mendagri Tjahjo Kumolo Melempar Dadu

Jurnalis Independen: Selama Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), ada banyak hal dilakukan, termasuk dalam mengambil kebijakan. Hal itu, tidak saja dilakukan oleh Presiden Jokowi sendiri, tetapi juga kalangan menterinya. Termasuk saat menghadapi lawan politiknya, panik, takut kalah, PDIP melalui kadernya yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, peralat pemerintah lakukan segala cara.

Kamis, 18 Januari 2018

Luhut Panjaitan berkata telah menyetop pembersihan alur laut di pelabuhan karena jadi modus pencurian kapal perang

Dulu sebenarnya, kan, boleh ngambil, jadi banyak yang ditemukan di dalam alur. Sekarang sudah tidak boleh lagi. Itu saja bedanya.
tirto.id: Sejak kabar hilangnya tiga bangkai kapal perang Belanda dan satu kapal perang Inggris di Laut Jawa mencuat pada November 2016, isu penjarahan menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Apalagi Indonesia mendapat kritik karena dituding melakukan pembiaran atas pencurian dan pengutilan kapal bersejarah.

Sedikitnya ada 48 kapal bersejarah dicuri, sebagian dari kapal ini karam pada Perang Dunia II

Upaya perlindungan kapal-kapal bersejarah di perairan Asia Tenggara kalah cepat dari gerak para penjarah.
tirto.id: Dalam ingatan Nia Laelul Hasanah Ridwan menyelam di lokasi bangkai kapal perang sudah menjadi kegiatan rutin. Nia sudah menekuni dunia bawah laut sejak 2005. Ia hobi menyelam di lokasi kuburan kapal bersejarah. Hobi ini didukung pekerjaannya sebagai periset arkeologi maritim Pusat Penelitian dan Pengembangan untuk Sumber Daya Laut dan Pesisir di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Saat penjarahan kapal-kapal perang di Laut Jawa

Saat penjarahan kapal-kapal perang di Laut Jawa diketahui oleh aparat negara. Lantas apa yang mereka lakukan?
tirto.id: Ada dua alasan PT Jatim Perkasa hengkang dari Pelabuhan Brondong pada Agustus 2017. Pertama, bangkai kapal yang diincar di Laut Jawa sudah habis. “Mereka lalu pergi,” kata Haji Abdul Ghoni, pengusaha lokal yang bekerja membantu perusahaan tersebut di area pengepulan besi.

Serpihan-serpihan baja dan pelat, serta puluhan mortir, terangkut di area operasional PT Jatim Perkasa

tirto.id: “Kalau dibuat persentase selama saya bekerja di sana, hampir 60 persen yang saya potong itu dari kapal perang, 40 persen sisanya dari kapal lain seperti kapal tongkang, kapal motor, atau kapal barang.”