Senin, 05 Desember 2011

"Ketika Ingin Masuk Islam, Berat Rasanya Menyampaikan pada Keluarga"

Jurnalis Independen: Melinda Baily pertama kali mengenal Islam setelah kakak perempuannya berkenalan dengan seorang lelaki Muslim. Keluarga Baily yang kini menetap di North Carolina adalah keluarga Kristiani, namun mereka menerima kehadiran lelaki muslim itu di tengah keluarga mereka.


Awalnya, Melinda yang lahir dari perkawinan campuran ayah asal Polandia dan Ibu asal Italia ini tidak tertarik dengan Islam. Dengan latar belakang penganut agama Kristen Katolik yang cukup taat, Melinda dan keluarganya mencoba menyelidiki tentang cara pandang, tentang agama Islam dan semua hal yang terkait dengan lelaki muslim tersebut karena hubungannya dengan kakak Melinda makin serius.

Akhirnya, kakak Melinda menikah dengan lelaki muslim itu. Namun kakak Melinda belum masuk Islam, dan memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak dulu tentang Islam sebelum mereka punya anak.

"Kakak saya tidak mau mengenalkan pada anak-anaknya agama yang dia sendiri tidak meyakininya. Dia ingin anak-anaknya kelak mendukung sesuatu yang dia yakini. Sejak itu, kakak saya rajin menggali informasi tentang Islam dan itu berlangsung selama dua tahun.

Dari dua tahun pencariannya itu, kakak Melinda membulatkan tekad memeluk Islam. Pada keluarga, kakaknya mengatakan bahwa ia tidak percaya lagi dengan konsep trinitas dalam agama Kristen.

"Mulanya, saya dan keluarga benar-benar takut melihat perubahan besar pada kakak saya, pada sistem keyakinannya, pada cara ia bertingkah laku, bahkan pada caranya berpakaian," ungkap Melinda yang membuatnya sama sekali tidak berminat pada Islam.

Suatu ketika, kedua orang tua Melinda tidak lagi pergi ke gereja meski mereka masih mempercayai dan memeluk agama Kristen. Waktu itu, Melinda masih duduk di sekolah menengah atas. Melihat orang tuanya tak lagi ke gereja, membuat Melinda bingung tentang agama apa yang ia yakini. Itulah titik dimana Melinda membuat keputusan untuk mencari sendiri agama apa yang ia anggap benar dan ia yakini, dan tidak cuma menerima agama yang harus dianutnya sejak ia dilahirkan.

Melinda meyakini, pencariannya akan memperkuat keyakinannya pada Kristen atau memperkuat keyakinannya jika ia memang ingin masuk Islam seperti kakak perempuannya. Namun, usia remajanya saat itu, belum membuat Melinda punya keberanian untuk memilih antara keduanya. Layaknya seorang remaja, ia masih lebih senang melakukan banyak aktivis lainnya sebagai remaja, dibandingkan memikirkan soal agama apa yang akan dipilihnya.

Sebelum Memutuskan Masuk Islam
Kakak Melinda yang menikah dengan lelaki muslim, pindah ke luar negeri. Tiap kali pulang untuk liburan, Melinda melihat kakaknya makin relijius dan lebih ketat dalam menjalankan ajaran Islamnya. Kakaknya lalu mengenalkan Melinda dengan seorang muslim, dan Melinda mulai menjalin hubungan dengannya.

"Sebelum hubungan kami makin serius, kami memutuskan untuk tidak saling bertemu. Saya ingin betul-betul mempelajari Islam dan akan memutuskan agama apa yang benar-benar ingin saya anut," ujar Melinda.

Ia mengakui, motivasinya untuk mendalami Islam adalah untuk mengambil keputusan apakah ia akan melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan lelaki muslim yang dikenalkan kakaknya itu. Bagi Melinda, keputusan itu akan menjadi langkah besar.

"Kita hidup dengan seseorang yang beda agama dalam sebuah perkawinan dengan campuran bukanlah hal yang mudah, seperti dua orang menikah yang menjalankan ajaran agama yang berbeda. Saya betul-betul ingin melakukan riset sebelum saya membuat keputusan," kata Melinda.

Hal pertama yang ia cari tahu tentang Islam adalah tentang hak kaum perempuan dalam ajaran Islam. Melinda mengakui dirinya terpengaruh dengan berbagai cerita miring tentang perempuan dalam Islam dan tentang agama Islam pada umumnya dari media massa. Setelah mempelajari sendiri tentang hak-hak perempuan dalam Islam, Melinda baru menyadari kesalahan pandangan yang ia dengar selama ini tentang Islam.

"Sebelumnya, saya pikir, Islam memaksa perempuan untuk mengenakan jilbab, menyuruh perempuan berjalan di belakang suaminya, harus duduk di bangku belakang saat naik kendaraan, dan berbagai hal negatif yang ternyata tidak benar," tutur Melinda.

Semakin dalam mempelajari Islam, Melinda sangat terkejut karena ternyata banyak hal yang ia setujui dalam ajaran Islam, termasuk bahwa Islam memberikan banyak hak dan kesempatan bagi kaum perempuan.

Karena banyak hal yang ia sepakati, Melinda pun makin termotivasi untuk terus mempelajari agama Islam.
Beberapa kisah dalam Al-Quran, kata Melinda, mempermudahnya memahami Islam. Apalagi banyak hal dan cerita dalam Quran yang mirip dengan apa yang ia ketahui dalam ajaran Kristen, kecuali konsep Trinitas yang tidak ada konsep ajaran Islam. Di sisi lain, Melinda bisa menerima dengan terbuka dan lapang dada perbedaan-perbedaan yang ada dalam ajaran Islam dan ajaran Kristen.

"Yang saya suka dari Islam, Islam memberikan kebebasan bagi umatnya untuk mempertanyakan dan mencari tahu atas sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, dan dicari kebenarannya secara ilmiah, historis dan secara logika," ungkap Melinda.

Pada tahun 2008, Melinda memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sekarang, setelah tiga tahun menjadi seorang muslimah, Melinda mengakui beratnya menjadi minoritas di negara yang memiliki kecurigaan besar terhadap Islam dan Muslim, ditambah lagi dengan pemberitaan media yang bias.

"Saya ingat ketika pertama kali mempertimbangkan untuk menikah dan masuk Islam, susah rasanya menyampaikan pada keluarga yang dari generasi ke generasi sebagian beragama Katolik, sebagian beragama Kristen, dan AS adalah negara Kristen," tukas Melinda.

"Ketika banyak prasangka buruk, sangat berat menghadapinya ketika Anda meyakini sebuah kebenaran. Kondisi semacam itu menghalangi orang untuk mencari tahu dan melihat sesuatu dengan optimis," sambung Melinda.

Di tengah kesulitan itu, Melinda bersyukur akhirnya bisa menikah dan memilih Islam. Ia kini menjalani kehidupannya sebagai seorang muslimah. (emi/mnt)

Tidak ada komentar: