Sabtu, 27 Juni 2015

Wanita Suku Tuareg Boleh Bercinta dengan Banyak Pria

Selama ratusan tahun, suku Tuareg hidup nomaden melintasi Gurun Sahara di Afrika. Terkadang, mereka dituntun pemimpin mereka yang buta, namun memiliki indera penciuman dan rasa yang kuat untuk menunjukkan arah hidup mereka di gurun. Wanita suku Tuareg menjadi jalur utama keturunan, seperti tradisi bangsa Yahudi.



Laki-laki di suku Tuareg dikenal dengan sebutan 'orang biru dari Sahara' lantaran pewarna yang dibalurkan ke wajah mereka sehingga memunculkan aura misterius. Suku Tuareg membangkitkan kembali citra orang-orang terlupakan yang hidup seperti di masa romantisme.

Dalam kehidupan mereka yang masih mempertahankan tradisi kuno, suku Tuareg memiliki budaya yang progresif. Bahkan jika dibandingkan dengan standar budaya barat yang liberal.

Contohnya, wanita Tuareg diperbolehkan memiliki pasangan seks lebih dari satu di luar pernikahan alias selain suami. Perempuan Tuareg juga berhak atas seluruh harta mereka setelah cerai. Mereka pun dihormati oleh menantu laki-laki sehingga sang menantu tidak berani makan dalam satu ruangan.

Yang lebih mengejutkan lagi, meski mayoritas anggota suku Tuareg memeluk Islam, mereka tetap melestarikan budaya mereka yang bertolak belakang dengan mayoritas dunia muslim. Misalnya, dalam budaya Tuareg, bukan kaum Hawa yang memakai cadar, tetapi kaum Adam.

Fotografer Henrietta Butler, yang takjub dengan suku Tuareg sejak mengikuti mereka pada 2001, pernah bertanya soal hal tersebut. Jawaban suku Tuareg sederhana. "Wanita adalah keindahan. Kami ingin melihat wajah mereka."

Bukan hanya itu saja budaya Tuareg yang berbeda dengan mayoritas muslim di dunia. Sebelum seorang wanita Tuareg menikah, dia bebas memilih pasangan bercinta sebanyak mungkin.

"Mereka memilih dengan mata tertutup," kata Butler. "Perempuan-perempuan muda Tuareg punya kebebasan yang sama besarnya dengan pemuda di sana."

Selama bertahun-tahun, pemuda suku Tuareg diperbolehkan masuk ke tenda milik pemudi yang disukainya. Sedangkan, unta milik pemuda tersebut menunggu di luar tenda. Saat pemuda dan pemudi Tuareg bermalam di tenda tersebut, keluarga pemudi di dalam tenda berpura-pura tidak tahu.

Jika keesokannya sang pemudi memilih pemuda lain untuk bermalam di tendanya, itu diperbolehkan.

Tapi ada kode etik yang tidak mereka tak berani langgar. Privasi masing-masing pasangan tetap dijaga. Jika kode etik saat masa pacaran tersebut dilanggar,  hasilnya bisa bencana. Sang pemuda pasangannya akan pergi.

"Suku Tuareg sangat bijaksana. Semua dilakukan dengan pertimbangan dan rasa hormat," kata Butler.

Budaya soal pasangan seksual yang relatif longgar membuat para pemudi Tuareg lebih telat menikah ketimbang muslimah lainnya. Hampir tidak ada wanita Tuareg yang menikah di usia 20 tahun.

Padahal, para pemuda Tuareg biasanya berusaha sekuat tenaga untuk menggaet wanita Tuareg. Kaum Adam Tuareg kerap membuat puisi khusus untuk wanita yang dia taksir. Puisi tersebut dibuat selama berjam-jam agar bisa meluruhkan hati sang pujaan hati.

Gadis-gadis Tuareg pun dikenal jago menulis dan membuat puisi. Mereka memiliki alfabet sendiri yang diajarkan oleh ibu mereka. "Wanita Tuareg juga membuat puisi untuk memuji pemuda Tuareg," ujar Butler. "Ada kisah cinta tingkat tinggi dan pemujaan."

Tidak seperti budaya lain, wanita Tuareg tidak kehilangan kekuasaan saat mereka menikah. Kaum Hawa Tuareg tidak hanya membuat makanan dan merawat anak mereka. Perempuan Tuareg bahkan merupakan pemilik rumah dan binatang peliharaan. Binatang peliharaan adalah harta tak ternilai suku Tuareg di tengah Gurun Sahara.

Wartawan Peter Gwin mengingat pesan seorang nomaden sesepuh kepadanya. "Hewan-hewan adalah segalanya bagi seorang Tuareg. Kami minum susu mereka, makan daging mereka, menggunakan kulit mereka, menukar mereka. Jika hewan peliharaan mati, seorang Tuareg mati,"

Banyak pernikahan suku Tuareg yang berbuntut perceraian. Ketika itu terjadi, perempuan yang berhak atas hewan peliharaan dan tenda. Dan biasanya, wanita Tuareg yang memutuskan untuk bercerai. Tidak pernah ada sengketa mengenai harta gono-gini.

Jika perceraian terjadi, sang pria akan kembali ke rumah ibunya. Sedangkan sang wanita memiliki semua harta termasuk anak-anak mereka.

Menurut Butler, ibu pemilik tenda Tuareg merupakan sosok penting di suku tersebut. Tapi suku Tuareg tidak bisa disebut menganut budaya matriarki. Sebab, kata Butler, pria Tuareg masih berperan mengurus politik.

Namun, Tuareg dianggap menganut budaya matrilineal. Garis keturunan mengikuti perempuan. "Menurut tradisi di sana, pria menjadi milik kelompok wanita. Bukan sebaliknya," kata Butler.

Ada satu lagi tradisi yang unik dari Tuareg. Seorang pria dianggap tidak sopan jika makan di depan wanita yang tidak bisa diajak seks. Makan di depan mertua perempuan pun dianggap tabu.

Menurut Butler, Tuareg sangat menjunjung tinggi martabat pribadi. Mereka tidak akan meminta air jika tidak ditawari, meski sedang sangat kehausan. Tetapi, mereka tidak pernah lupa menawari air kepada pengunjung. Bahkan tamu asing selalu mereka perlakukan seperti raja.

Suku Tuareg saat ini tersebar di Afrika Utara. Mereka ada di dekat Libya dan menghadapi ancaman ISIS. Sedangkan mereka yang hidup di Mali, Niger, dan Nigeria terancam Boko Haram.

Perubahan pun mulai terjadi. Butler mengatakan kini beberapa wanita Tuareg mengenakan hijab. "Itu membuat saya sedih. Anda bisa melihat kemunduran," kata Butler.

Tidak ada komentar: