Sabtu, 30 November 2013

Indosat dan Telkom Kacung Penyadap AS dan Australia

Jurnalis Independen:  Isu penyadapan yang diungkapkan Edward Snowden, mantan kontraktor dinas intelijen Amerika Serikat NSA, mulai terkuak perlahan. Teka-teki keterlibatan sekutu Amerika Serikat, yaitu Negara Korea Selatan dan Singapura mengakui peranannya dalam penyadapan atas Indonesia.


Terjualnya Indosat dan Telkom kepada pemodal asing, terbukti sudah, menjadi bumerang bagi bangsa, negara dan rakyat indonesia. pengembangan yang hingga hari dilakukan oleh ketua perusahaan telekomunikasi itu, ternyata juga digunakan untuk memata-matai penduduk indonesi atanpa terkecuali.  

Dari Snowden yang mengatakan bahwa Singapura dan Korea Selatan membantu Australia menyadap Indonesia, dibenarkan oleh Korea Selatan. Walaupun Singapura tidak mengakuinya, namun pengakuan Korea Selatan ini sudah jelas mengonfirmasikan bahwa penyadapan itu ada. Beranikah Menkominfo Tifatul Sembiring menjatuhkan sanksi kepada penyadap?

Pengakuan Korea Selatan disampaikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa . Menurut dia, Korea Selatan mengakui menyadap, sementara Singapura tidak membantah namun juga tidak membenarkan. Dan hal itu seolah menantang Indonesia apakah berani mengambil tindakan tegas berupa “sangsi diplomatik”.

"Dubes Korea di Jakarta juga sudah dipanggil dan tidak menyanggah berita tersebut. Kalau Dubes di Singapura mengatakan akan menyampaikan kepada pemerintahnya. Mereka menyatakan bahwa pemberitaan ini tidak ada dasarnya," kata Marty.

Marty mengatakan Korea Selatan sudah mengakui bahwa pihaknya benar menyadap melalui jaringan serat optik (fiber optic/FO).

Dari bocoran laporan yang diperoleh Indonesia ICT Institute, terkonfirmasi bahwa Singapura merupakan salah satu titik pertemuan (hub) telekomunikasi yang paling penting di dunia, merupakan kunci dari pihak ketiga yang merupakan mitra "Lima Mata (five eyes)" yang berdasar kesepakatan UKUSA terdiri dari AS, Inggris, Australia, Kanada dan Selandia Baru.

Dalam laporan Agustus lalu terungkap bahwa Defence Signals Directorate (DSD) Australia merupakan mitra dari intelijen Singapura untuk menyadap kabel SEA-ME-WE-3, kabel yang terbentang dari Jepang, melalui Singapura, Djibouti, Suez dan selat Gibraltar hingga menuju Jerman bagian utara.

Bukan hanya SEA-Me-WE-3 saja yang disadap karena ternyata juga SEA-Me-WE-4 yang terbentang dari Singapura hingga Prancis. Akses ke saluran telekomunikasi internasional ini disebut difasilitasi oleh Singapore Telecom atau Singtel yang merupakan operator telekomunikasi milik pemerintah Singapura. Singtel menjadi elemen penting intelijen Australia-Singapura dalam 15 tahun terakhir.

Singapura sendiri hadir di Indonesia melalui Bukaka SingTel, STT dan SingTel. Bukaka SingTel telah di buy back Telkom beberapa tahun lalu, sama dengan STT yang sahamnya beralih ke Qatar Telecom atau sekarang Ooredoo. Sementara Singtel menguasai 35 persen saham di Telkomsel, operator terbesar Indonesia saat ini dengan sekitar 130 juta pengguna telepon seluler.

Kementerian Komunikasi dan Informatika serius menanggapi isu penyadapan. Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring secara tegas menyatakan, akan menutup operator telekomunikasi yang terbukti menjual atau membocorkan data-data ke pihak asing. Dari perkembangan informasi yang mencuat, mulai terkuak adanya jejak Singapura dalam membantu penyadapan yang dilakukan Australia.

"Kita lihat motifnya, kalau memang ada keterlibatan secara kuat ini melanggar UU, bisa ditutup usaha telekomunikasinya," kata Tifatul Terkait hal tersebut saat memanggil operator ke kantornya untuk membahas isu penyadapan.

Informasi terbaru dilontarkan Menteri Pemuda dan Olah Raga yang juga pengamat multimedia KRMT Roy Suryo yang menegaskan bahwa operator telekomunikasi Indosat berada di belakang isu penyadapan yang saat ini mengemuka dengan tersadapnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono , Ibu Negara Ani Yudhoyono , dan para Menteri. Karena itu, Roy mendesak Indosat harus bertanggung jawab.


Tidak ada komentar: