Jumat, 08 November 2013

Melihat Ketakutan dan Kekuatan Amerila Serikat dari Media

Jurnalis Independen: Dari berbagai pemberitaan yang disampaikan atau dimuat oleh beberapa media massa baik cetak, elektronik ataupun online di Amerika Serikat, dapat diperoleh informasi-informasi penting khususnya terkait dengan permasalahan ekonomi yang dihadapi AS, disamping permasalahan keamanan nasional khususnya terkait dengan ancaman terorisme.


Berita soal Presiden Obama menominasikan Janet L Yellen sebagai Ketua Federal Reserve juga menarik perhatian beberapa media massa di AS. Yellen (67 tahun) adalah Wakil Ketua The Fed sejak 2010 dan merupakan satu-satunya wanita yang menduduki peranan penting di Bank Sentral. Berasal dari Brooklyn, Yellen adalah Presiden Bank Federal Reserve San Fransisco, penasehat Gedung Putih, Gubernur Fed selama pemerintahan Clinton dan professor dari Universitas California, Barkeley.

Sedangkan berita terkait dengan masalah keamanan nasional yang mendapatkan perhatian serius dari masyarakat AS adalah tertangkapnya Abu Anas Al Libi, operator Al Qaeda. Yang bersangkutan ditangkap pasukan AS sedang menjalani pemeriksaan di sebuah kapal perang yang berada di Laut Mediterania, dan segera akan dikirimkan ke New York untuk menjalani pengadilan. Abu Anas al Libi adalah pimpinan intelijen Al Qaeda dan pernah bersama Osama bin Laden di Sudan. Abu Anas al Libi ditahan di USS San Antonio. Al Libi bertanggungjawab terhadap pemboman Al Qaeda pada 1998 terhadap Kedubes AS di Kenya dan Tanzania. Penangkapan ini mengakhiri masa pelarian Abu Anas al Libi selama 15 tahun. Lahir dengan nama Nazih Abd al Hamid al Rughay telah menjadi buronan terkenal AS sejak tahun 2000 dengan tuduhan perencanaan penyerangan Kedubes. FBI bahkan menyediakan dana sebesar US $ 5 juta bagi informasi terkait al Libi.

Sebelumnya, media massa di AS menulis berita yaitu Tim Navy Seal menargetkan pemimpin senior kelompok militan al Shabaab dalam sebuah penyerangan di sebuah vila dekat laut di salah satu kota di Somali, Baraawe. Pemimpin senior al Shabaab ini sebagai tokoh yang paling bertanggungjawab dalam penyerangan Westgate Mall di Nairobi, Kenya. Informasi terakhir menyebutkan pemimpin senior al Shabaab (Saleh Ali Saleh Nabhan) ini telah tewas, namun sebelum Navy Seal menyakini informasi tersebut mereka tetap melakukan penyerangan yang disebut dengan sasaran yang tinggi prioritasnya. Baraawe adalah kota kecil di bagian selatan Mogadishu yang dikenal sebagai kota bertemunya pejuang atau anggota al Shabaab dari berbagai negara.

Masih terkait berita yang diduga “berbau” terorisme yaitu aparat penegak hukum terpaksa menembak mati seorang wanita yang menabrakkan mobilnya dekat Gedung Putih, sebelumnya wanita tersebut berusaha untuk menerobos “barikade” dekat Gedung Putih. Menurut Kim Dine, Kepala Polisi setempat, mobil yang ditumpangi wanita tersebut juga sempat menabrak mobil polisi di Capitol Hill. Belum ada informasi apakah wanita tersebut bersenjata sehingga aparat kepolisian menembaknya, di mobil tersebut juga ditemukan seorang anak. “Belum dapat dipastikan kejadian ini ada hubungannya dengan teroris atau tidak, atau hanya kejadian yang terpisah,’ kata Kim Dine.

Berita terkait keamanan lainnya yaitu Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel mengumumkan sebanyak 400.000 dari 800.000 PNS di Departemen Pertahanan AS harus dirumahkan disebabkan karena “shut down” pemerintah.

Sementara itu, berita terkait permasalahan internasional yang dipandang media massa di AS berpotensi menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional juga intens diberitakan, seperti sumber intelijen di Pentagon, ada assessment terbaru tentang kemampuan nuklir Korea Utara yang sudah berkembang kearah “moderat” dengan kemampuan membuat senjata nuklir yang dibawa melalui rudal balistik. Assessment yang dibuat Dephan AS tersebut disebarluaskan ke pejabat senior pemerintah dan anggota Kongres yang menyebutkan, persenjataan senjata Korut tersebut masih dalam “tahap rendah”, karena sebenarnya Korut masih mengalami kesulitan untuk mengembangkan nuklirnya karena lemahnya teknologi.

Masih terkait perkembangan negara lainnya yang berpengaruh terhadap sikon AS yaitu dalam empat bulan terakhir, dilaporkan bahwa hacker-hacker Cina telah menyerang The New York Times, menginfiltrasi sistem komputer dan mendapatkan password wartawannya serta pekerjanya. Setelah mengecek hacker yang mencurigakan dan bagaimana memblok atau menghambat hacker tersebut, ahli-ahli keamanan komputer The New York Times berhasil menghilangkan para penyerang dan menjamin tidak akan ada lagi serangan hacker. Penyerangan tersebut menurut hasil investigasi The New York Times setelah memberitakan kekayaan PM China Wen Jiabao.

Meskipun demikian, masih juga banyak informasi atau berita yang tidak terkait dengan ekonomi ataupun situasi Polkam atau keamanan nasional di AS, seperti berita terkait nama-nama dan prestasi pemenang Nobel Perdamaian dll juga menjadi perhatian media massa di AS.

Media Massa di AS Sangat Ultra Nasionalis

Dari berbagai pemberitaan yang ditampilkan media massa di Amerika Serikat, maka masyarakat di luar negara AS kemungkinan akan menilai bahwa kalangan jurnalis atau wartawan di AS adalah wartawan yang sudah mapan rasa nasionalisme dan kebangsaannya, mempunyai security alertness yang tinggi bahkan cenderung bersifat sangat ultra nasionalis. Seperti biasanya mereka menaruh atensi yang tinggi terhadap masalah terorisme, persoalan ekonomi khususnya “government shutdown” dan perkembangan di beberapa negara yang dinilai pesaing atau ancaman AS khususnya terkait Cina dan Korea Utara, bahkan Iran.

Kehidupan pers di AS berkembang sangat baik dan sangat independen disebabkan karena sistem demokrasinya yang bagus, bahkan ditunjang dengan kesejahteraan dan ekonomi media di AS yang sudah membaik, membuat atensi kalangan pers di AS menjadi sensitif, manakala kepentingan nasional negaranya terusik sehingga dengan profesionalisme dan kemampuannya terkait dengan pemberitaan, mereka (wartawan di AS) bahu membahu membela kepentingan nasionalnya dengan pemberitaan yang membangun optimisme, mengurangi pesimisme dan mengajak masyarakatnya untuk setia dengan kepentingan nasional. Rasanya, masih harus menempuh waktu yang lama, jalan yang cukup terjal dan kegiatan merangkul media massa yang perlu diintensifkan oleh berbagai pihak, agar pers di Indonesia selain netral, kredibel, sejahtera namun juga mengutamakan kepentingan nasional dan keselamatan bangsa ini ke depan melalui pemberitaan yang mencerahkan dan pemberitaan yang nasionalis. (Ananda Rasti /kw)

*) Ananda Rasti adalah pemerhati masalah strategis dan peneliti muda di Forum Dialog (Fordial), Jakarta. Tinggal di Jakarta Selatan.


Tidak ada komentar: