Senin, 04 November 2013

Kenapa Kebanyakan Anak Polisi “Resek”

Jurnalis Independen: Kemarin ramai berita seorang anak polisi, berinisial APT, mengendarai mobil Honda Jazz mengamuk dan menabrak belasan siswa SMA Hang Tuah 2, Gedagan, Sidoarjo, Jawa Timur. Kasus itu terjadi lima hari lalu, tepatnya Kamis (31/10). Hingga kini, kasus itu masih diselidiki polisi, sementara anak polisi itu masih bebas.


Penyebab APT mengamuk belakangan diketahui karena masalah sepele. Dia ditegur satpam agar tidak membawa mobilnya masuk ke dalam sekolah. Dia kemudian menggeber mobil hingga menabrak siswa.

Kasus APT itu merupakan salah satu saja dari beberapa kasus ugal-ugalan anak polisi yang meresahkan masyarakat. Berikut ini 4 kisah kurang ajar anak polisi di jalanan yang disarikan merdeka.com dari berbagai sumber:

1. Anak polisi jadi anggota geng motor Klewang
Anda tentu masih ingat kisah sadis geng motor Klewang di Pekanbaru, Riau. Ternyata, di antara anggota geng motor itu ada nama Rahmad (16), seorang anak anggota polisi warga Kota Pekanbaru, Riau. Dia diduga sebagai pelaku kejahatan di jalanan seperti perampasan, penganiayaan dan pengrusakan hingga pemerkosaan berhasil ditangkap.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Pekanbaru, Kompol Arief Fajar Satria dihubungi per telepon mengatakan, Rahmad juga diduga sebagai anggota kelompok geng motor yang selalu berbuat brutal.

Kompol Arief mengatakan, seorang anak anggota polisi ini juga masih berstatus pelajar di salah satu sekolah di Pekanbaru. "Dia kami jemput dari sekolahnya bersama tiga anggota geng motor lainnya," kata Arief.

Dihubungi terpisah, Kepala Polresta Pekanbaru, Kombes (Pol) Adang Ginanjar mengaku telah mendapat laporan adanya seorang anggota geng motor brutal yang ternyata anak seorang anggota polisi itu. "Kami tidak akan memilah-milah, kalau memang bersalah, maka akan diberikan sanksi hukuman," katanya.


2. Anak polisi mengamuk di SMA Hang Tuah 2, Sidoarjo
Akibat ulahnya itu, satu di antara puluhan pelajar SMA Hang Tuah 2, mengalami luka serius dan harus dirawat di RS Mitra Keluarga, Waru, Sidoarjo. Alif Kurnia Safitri (15), mengalami patah tulang di bagian tangan dan kaki kanannya serta mengalami patah tulang ekor.

Menurut informasi di lapangan, APT mengamuk dan menabrakkan mobil Honda Jazz L 177 AY yang dia kendarai ke arah puluhan siswa-siswi dan guru di halaman sekolah saat jam istirahat berlangsung. Penyebabnya karena APT tersinggung kata-kata satpam SMA Hang Tuah 2.

"Dia datang ke sekolah, katanya mau ngasihkan makanan ke salah satu siswi yang bersekolah di situ (SMA Hang Tuah 2). Siswi itu entah adiknya atau pacarnya, saya kurang paham, yang jelas saat hendak masuk ke halaman sekolah, ditegur oleh satpam sekolah," kata sumber tadi saat ngobrol di warung kopi dekat SMA Hang Tuah 2.

3. Terlibat balapan liar
Kisah ini terjadi di Makassar pada 22 Oktober 2013 lalu. Polrestabes Makassar, waktu itu melakukan operasi pemberantasan geng motor dan balap liar di sepanjang Jalan Veteran. Dalam operasi itu, seorang anak dari Kasubag Humas Polres Gowa AKP Andri Lilikai, dicokok karena diduga terlibat balap liar itu.

Tak terima anaknya digaruk, Andri pun protes dan tidak terima karena anaknya ditangkap. Mendapat protes, Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polrestabes AKBP M Ridwan mengklaim bahwa operasi sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Polisi, kata dia, menangkap sejumlah pemuda sedang beraksi balap liar.

"Anak itu geng motor kan, dan terlibat balap liar. Kalau memang ada yang keberatan silakan melapor," kata Ridwan, kepada wartawan, Senin (21/10).

Putra AKP Andri Lilikai yang terlibat balap liar itu bernama Reza Andika (20). Dia dikabarkan mengalami luka di wajah, dan tulang pergelangan tangan kirinya bergeser setelah dihantam menggunakan senjata api oleh petugas Brimob karena saat penangkapan dia berusaha kabur dari pengejaran petugas.

Saat kabur, Reza dan beberapa rekannya terperangkap di sebuah gang sempit, dan digiring bersama kendaraannya ke Polsekta Makassar.Saat tertangkap itulah, diduga anggota Brimob melakukan penganiayaan dengan memukul pakai popor senjata laras panjang kepada anak polisi tersebut.

4. Jadi jambret di jalanan
Kasus ini juga terjadi pada Oktober tahun ini. Polresta Samarinda mengungkap kasus penjambretan yang ternyata dilakukan oleh seorang anak polisi di kota setempat. Korban penjambretan merupakan seorang ibu rumah tangga bernama Hernawati warga Jalan Rajawali Samarinda. Tasnya berisi uang Rp 22 juta ditarik, mengakibatkan korban jatuh dan tak sadarkan diri.

Saat hendak dibawa ke kantor polisi, orangtua tersangka ikut campur dan mengaku akan menyerahkan sendiri anaknya ke kantor polisi. Tapi janji anggota polisi itu molor, hingga akhirnya keluarga korban mendatangi kantor Polresta menanyakan penangkapan tersebut.@

Tidak ada komentar: