Sabtu, 16 November 2013

Proyek Mercusuar Tommy Winata 2014

Jurnalis Independen: Sosok Tommy Winata sudah tidak asing lagi dalam dunia bisnis dan para pejabat tinggi di tanah air. Bos kerajaan bisnis Grup Artha Graha ini masuk jajaran pengusaha dan pebisnis tersukses dan misterius di Indonesia. Kali ini ia “mengincar” 4 unit megaproyek, mercusuar dan prestisius yang sudah masuk dalam daftar kesibukannya.


Yang pertama adalah proyek Giant Sea Wall. Proyek milik Pemprov DKI Jakarta, Giant Sea Wall (GSW). PT. Bangun Graha Sejahtera Mulia (BSM) sudah melakukan penawaran ke Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi.

"Itu yang nangani PT BSM, salah satu perusahaan yang di dalam PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS). Itu masih minat saja mau nanganin, punya konsep," ujar Direktur PT. GBLS, Winarjono, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (15/11).

Menurutnya, proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) dan GSW memiliki kemiripan penggunaan teknologi. Atas alasan itu, maka BSM yakin mampu mengerjakannya.

"Kemarin baru sounding tapi karakteristiknya mirip-mirip dengan hidro engineering, hampir sama. Kalau itu dapet itu juga bisa fokus kesitu, JSS tetep," jelasnya.

Megroyek yang kedua yaitu proyek Jembatan Selat Sunda. Dalam Peraturan Presiden Nomor 86 tahun 2011 tentang Pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda menunjuk PT Graha Banten Lampung Sejahtera sebagai pelaksana studi kelayakan megaproyek Jembatan Selat Sunda (JSS). PTGBLS merupakan gabungan konsorsium pemerintah dan swasta.

Di dalamnya ada BUMD Pemprov Banteng dan Lampung serta PT Bangungraha Sejahtera Mulia PT Bangungraha Sejahtera Mulia adalah merupakan perusahaan berbendera Grup Artha Graha alias milik Taipan Tommy Winata.

Berdasarkan pasal 21 dalam aturan itu, dibentuk konsorsium pemerintah Banten dan Lampung bersama Artha Graha Group melalui PT Bangungraha Sejahtera Mulia. Perusahaan dikuasai sahamnya oleh Tomy Winata. Karenanya, ia mendapatkan hak, seperti perencanaan, studi kelayakan, dan desain dasar, mungkin menjadi pemenang tender jika tidak ada yang menawar lebih rendah.

Direktur Artha Graha Network Wisnu Tjandra menuturkan, pihaknya ngotot bakal membangun proyek yang disebut-sebut bernilai Rp 100 triliun tersebut. "Kami bersama pemerintah provinsi Banten dan Lampung mulai menggagas pembangunan JSS ini sejak 2002. Kami mulai menggagas JSS saat masyarakat dan pemerintah masih sangat skeptis dan menganggap JSS hanya sebuah proyek mimpi," ujar Wisnu Tjandra.

Belakangan pemerintah meminta konsorsium GBLS untuk menggandeng konsorsium BUMN untuk studi kelayakan JSS. Namun, proyek yang diharapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bisa dimulai pengerjaannya pada 2014 ini dipastikan molor. Sebab, studi kelayakan proyek ini belum rampung.

Berikutnya yang ketiga, megaproyek Reklamasi Teluk Benoa. Lagi-lagi bendera Grup Artha Graha, berkibar dalam proyek yang menelan biaya puluhan triliun tersebut.

PT Tirta Wahana Bali Internasional berencana ikut serta dalam proyek reklamasi Teluk Benoa, Bali seluas 838 hektar. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan milik Tomy Winata ini dikabarkan bakal menyiapkan Rp 30 triliun.

Secara garis besar, Teluk Benoa akan disulap menjadi pulau-pulau kecil yang terbagi dalam tiga area. Sebagian besar akan dimanfaatkan menjadi culture park atau theme park. Disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat Bali.

Teluk Benoa juga direncanakan dibangun sebagai sarana pendukung pariwisata. Namun, reklamasi Teluk Benoa mendapat penolakan keras dari pegiat dan aktivis peduli lingkungan serta kalangan musisi dan masyarakat Bali.

Yang keempat yaitu proyek mercusuar berupa pembangunan Gedung tertinggi di Indonesia.
Menurut informasi yang didapat, Tomy Winata sudah lama berencana membuat sebuah gedung tertinggi di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, dia berambisi menjadikan gedung ini sebagai yang tertinggi nomor 5 di dunia.

Tomy disebut-sebut akan membangun gedung Signature Tower di kawasan bisnis ibu kota yakni SCBD. Diperkirakan, untuk membangun gedung ini, Tommy Winata harus menggelontorkan dana USD 1 miliar atau sekitar Rp 9 triliun. Tinggi Signature Tower direncanakan mencapai 638 meter yang terdiri dari 111 lantai. Demikianlah 4 proyek yang akan membuat selain gengsi Tommy Winata semakin mengkilap di negeri ini, namun juga akan semakin membekan kocek pribadinya.

Perusahaan Tommy Winata bergerak di pelbagai bidang. Sebut saja PT Jakarta Internasional Hotels and Development yang bergerak di sektor properti. Di bisnis perhotelan, Tommy punya Hotel Borobudur. Sementara di bisnis properti, kemegahan kawasan bisnis Sudirman Central Business District (SCBD) seluas 45 hektar menjadi bukti kekuatan Tomy Winata membangun pusat bisnis ibu kota. Di perbankan, Bank Artha Graha salah satu andalan Tommy Winata .

Nama besarnya di lingkungan pelaku bisnis tanah air, menjadikan pria kelahiran Pontianak ini cukup dekat dengan petinggi negeri ini. Terlepas dari pelbagai rumor yang menyelimuti kerajaan bisnisnya, Tommy bisa dibilang cukup sukses dan terus berambisi melebarkan sayap bisnisnya dengan menggarap pelbagai megaproyek.@JI


Tidak ada komentar: