Rabu, 03 Juli 2013

Satria Illuminati Mesir Jenderal Abdel Fattah Al-Sisi Dalang Pemberontakan The Tamarot


Jurnalis Independen: Dengan bersumpah Panglima Militer Mesir Jenderal Abdel Fattah al-Sisi yang telah terbeli oleh musuh-musuh islam menanggapi pidato Mursi dengan mengatakan, “ Kami bersumpah akan korbankan darah Rakyat Mesir”.


Diposting di halaman resmi Facebook dari Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF), yang dipimpin oleh Panglima Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, mengatakan: “Kami bersumpah demi Tuhan bahwa kita akan mengorbankan darah kita bagi Mesir dan rakyatnya , untuk membela mereka terhadap teroris, radikal atau kebodohan. ”

Pernyataan itu dikeluarkan tiga jam setelah Mursi memberikan pidato televisi yang menolak ultimatum dari Al Sisi bahwa dia harus berbagi kekuasaan dengan lawan-lawannya atau menghadapi militer pada jam  5 sore waktu setempat (1500 GMT).

Satu sumber militer mengatakan pernyataan itu membuat jelas bahwa angkatan bersenjata tidak akan meninggalkan tuntutan mereka, menurut Reuters.

Mursi bersikeras  pertahankan ‘legitimasi konstitusionalnya ” dan meminta tentara untuk menarik ultimatum untuk melakukan intervensi jika semua partai politik tidak menyelesaikan perbedaan.

Presiden juga mengatakan ia  siap untuk “memberikan hidupnya” untuk mempertahankan legitimasi konstitusional, dan juga komentar pemimpin senior Ikhwanul Muslimin yang mendesak para pendukungnya untuk siap berjihad mengorbankan nyawa mereka untuk mencegah kudeta militer.

Dalam pidato Mursi , sekitar lebih  40 menit, dia mengakui pada tahun pertamanya , ia menghadapi tantangan dari ‘sisa-sisa korup “dari rezim lama yang didukung militer Mesir dan dunia internasional pro liberal, komunis dan Syi’ah..

Dalam menanggapi ultimatum militer untuk berbagi kekuasaan dengan lawan-lawannya, ia mengatakan ia telah mencoba dialog semacam itu sebelumnya dan belum berhasil. Tapi dia bersikeras dia akan terus memenuhi tugas yang diamanatkan rakyat  karena ia telah terpilih secara demokratis.

Presiden mengatakan bahwa penghormatan terhadap tatanan konstitusional adalah “satu-satunya jaminan agar pertumpahan darah tidak berlanjut.”

Sementara itu, dukungan militer yang kuat terhadap pemberontak yang benci Mursi lantaran Presiden terpilih secara demokratis dan pemimpn Ikhwanul Muslimin, anehnya justru dijuluki teroris, berkait nam aseorang Jenderal Abdul Fattah al-Sisi. Siapakah Jenderal Militer ini?

Jenderal Al Sisi telah membawa militer kembali ke panggung politik Mesir, sebuah ultimatum dikeluarkan olehnya mengatasnamakan kepala angkatan bersenjata Mesir, Jenderal Abdul Fattah al-Sisi, memberikan waktu 48 jam kepada Presiden Mursi untuk menyelesaikan kebuntuan di negara itu, dipandang sebagai usaha  kudeta di Mesir terhadap Presiden pertama yang terpilih secara demokratis, Presiden Mohammed Mursi.

Pernyataan itu muncul setelah satu tahun pengangkatannya sebagai komandan umum angkatan bersenjata Mesir dan menteri pertahanan pada tanggal 12 Agustus 2012, BBC melaporkan pada hari Selasa, 2 Juli.

General El Sisi lahir di Kairo pada tanggal 19 November 1954.

Setelah lulus dari Akademi Militer Mesir pada tahun 1977, ia bertugas di korps infanteri, mendapatkan pengalaman tempur dari Marshal Tantawi dan anggota SCAF lainnya.

Namun, karirnya melesat di jajaran militer, ia menempati berbagai posisi senior, termasuk komandan batalyon infanteri mekanik dan kepala informasi dan keamanan di sekretariat jenderal Kementerian Pertahanan.

Dia juga pernah menjabat sebagai atase militer Mesir di Arab Saudi.

Kemudian, Jenderal Al Sisi menjabat sebagai kepala staf Militer dan kemudian menjadi  Panglima Militer wilayah Utara, berkantor pusat di Alexandria, sebelum diangkat menjadi direktur Intelijen Militer.

Sebelum dipromosi menjadi kepala angkatan bersenjata pada Agustus lalu, dia menduduki jabatan Scaf sebagai kepala Intelijen Militer, dan merupakan perwira tinggi termuda.

Dalam berjalannya waktu sejak pengangkatannya, karismatik Al  Sisi menampilkan pesona publik yang tenang dan  jauh dari tokoh militer yang tegas.

Diangkatnya Mursi menjadi Presiden, banyak rumor menyebar tentang hubungan Al  Sisi dengan Ikhwanul Muslimin, organisasi Islam yang membesarkan Mohammed Mursi.

Rumor ini pada dasarnya dihembuskan media swasta dan saluran satelit, yang biasanya mendukung oposisi.

Pemilik dan presenter stasiun TV al-Faraeen yang pro militer, Tawfiq Ukasha, menuduh Al Sisi sebagai “orang mereka (Ikhwan)  di Scaf”, dan ada laporan yang menggambarkan bahwa istri Al Sisi mengenakan cadar menutupi wajah yang biasa dikenakan oleh beberapa Muslimah konservatif.

Namun, Scaf bersikeras bahwa anggotanya tidak memiliki hubungan apapun , apalagi partisan atau ideologis dari setiap kekuatan politik di Mesir.

Mutaz Abdul Fattah, seorang profesor di Universitas Kairo, juga mengatakan Al Sisi bukanlah anggota Ikhwanul Muslimin, ia menulis di Twitter.

“Dia bukan anggota Ikhwan, ia hanya orang yang religius,” tulis Mutaz Abdul Fattah.

Pada bulan Agustus 2012, surat kabar al-Tahrir juga melaporkan bahwa Jenderal Al  Sisi ternyata memiliki “hubungan yang kuat dengan para pejabat AS pada tingkat diplomatik dan militer”.

Dia pernah belajar di Washington, menghadiri beberapa konferensi militer di sana, dan terlibat dalam “kerjasama yang berkaitan dengan pelatihan perang dan operasi intelijen dalam beberapa tahun terakhir”, katanya.

Tindakan militer baru-baru ini juga telah memberikan angin segar kepada demonstran anti-pemerintah yang memperlihatkan bahwa sikap Al Sisi tidak akan memungkinkan pemerintah untuk membungkam suara demonstrasi mereka.

Setelah ultimatum kepada pemerintah dan lawan-lawannya untuk menyelesaikan krisis di negara itu dalam waktu 48 jam, maka helikopter militer membuat simpati pendemo dengan melemparkan ribuan bendera Mesir di atas para demonstran di Tahrir Square.

Kerumunan para demonstran bersorak menanggapi kejadian itu dengan meneriakan “Rakyat (Sekuler, Nasrani, Kiri dan Syiah)  dan militer (Al Sisi) di satu pihak “.

Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF), yang terdiri dari 21 tokoh senior militer yang dipimpin oleh Marsekal Mohamed Hussein Tantawi, pernah  memerintah Mesir  pada masa transisi setelah jatuhnya Presiden Hosni Mubarak pada bulan Februari 2011 hingga Presiden Mohammed Mursi dilantik pada bulan Juni 2012. Dewan SCAF ini dikritik selama periode transisi tersebut karena gagal melaksanakan tuntutan revolusioner. Jadi siapa sebenarnya Al Sisi? Boneka Barat yang benci kemenangan Islam dan generasi Qur’an?@JI
-------------


Tidak ada komentar: