Senin, 22 Juli 2013

Misteri Gunung Emas Tumpang Pitu

Jurnalis Independen: Kecamatan pesanggaran merupakan satu satunya wilayah di kabupaten Banyuwangi yang menyimpan sejuta harta karun berupa gunung Emas. Hal ini bukan sebuah mitos belaka karena memang realitanya saat ini di sana tepatnya di Gunung Tumpang Pitu Pulau Merah Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi ada aktifitas penambangan emas yang dilakukan oleh PT Indo Multi Niaga dan ratusan penambang liar yang 24 jam.


Saiful Hadi dilahirkan dan di besarkan di desa Ringin Agung Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Sejak kecil Hadi sering di dongengi oleh orang tua dan kakeknya jika suatu hari nanti Desa Pesanggaran akan menjadi kota. Orangnya akan kaya-kaya karena adanya emas di Tumpang Pitu, konon katanya di jaga oleh Ular yang bertapa, ular itu sangat besar dan melingkari gunung.

Cerita tersebut memang berasal dari lisan kelisan atau mungkin memang kisah tersebut berasal turun-temurun dari nenek moyang warga Pesanggaran Banyuwangi. Namun bagi generasi muda disana saat itu memang tidak percaya dan menganggap hanya sebagai dongeng pengantar tidur saja karena memang hingga Saiful Hadi dewasa belum pernah terbukti adanya orang yang menemukan Emas di daerah tersebut.

Tapi seiring berjalannya waktu sekitar tahun 2009 hingga 2010 lalu, banyak masyarakat berbondong bondong ke sana untuk melakukan aktifitas penambangan liar. Sebabnya, ada seseorang yang menemukan butiran emas di kawasan itu. oleh pemerintah daerah setempat,  diberi Patok/tanda dan kabarnya akan dilakukan aktifitas pertambangan.

Sejak saat itulah kawasan Gunung Tumpang Pitu Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi mulai dikenal oleh masyarakat diluar daerah kabupaten bahkan propinsi. Mereka datang untuk melakukan aktifitas pertambangan liar sehingga lambat laun menyulut konflik sosial baik antara sesama penambang, masyarakat setempat maupun dengan pihak aparat.

Ketika liburan Saiful biasanya mencari informasi terkait perkembangan terkini kondisi pertambangan emas Tumpang Pitu tersebut. Dari beberapa informasi yang sempat didapat, ada beberapa cerita dibalik penambangan emas Tumpang Pitu. Terlepas itu benar atau tidak atau mungkin hanya sekedar mitos.

Penemuan awal tambang emas ini di daerah Kucur (Sumber mata air di pegunungan yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau) namanya petak 56. Kawasan ini terletak di  Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Daerah Kucur ini merupakan lereng pegunungan yang sejak dahulu digunakan masyarakat Pesanggaran dan sekitarnya untuk bercocok tanam. Bahkan  sebagai tempat untuk mencari bambu wuluh (Pohon Bambu kecil-kecil) serta mencari Rebung (Bambu muda untuk sayur). Pokoknya daerah kucur ini merupakan lahan mata pencaharian penduduk Pesanggaran sehari-hari.

Sejak dahulu wilayah Kucur ini terkenal singit dan kisah mistis. Hal ini dibuktikan oleh beberapa orang yang ingin mencari sarang wallet di gunung Tumpang Pitu. Karena memang ditempat itu menjadi kawasan hidup burung wallet. Bahkan karena banyaknya sampai-sampai burung surga itu menutupi awan. Sehingga orang berjalan di bawahnya seperti berada dibawah payung karena tidak tersinari oleh cahaya matahari. Namun anehnya setelah ditunggu beberapa saat sedikit demi sedikit burung walet tersebut menghilang tanpa jejak. Anehnya para pencari sarang burung walet tersebut tidak menemukan dimana letak sarang burung walet tersebut.

Cerita lain, dikisahkan oleh seorang penambang liar yang mengambil tanah disana untuk dibawa pulang guna dilakukan pengayaan. Pengayaan dimaksudkan untuk mencari emas dari bongkahan batu yang didapatnya. Namun anehnya mereka malah bermimpi di datangi penunggu Tumpang Pitu untuk mengembalikan tanah yang telah di ambil tersebut.

Ada cerita lagi, dikisahkan ada seorang penambang dari daerah Silir baru yang telah mendapatkan emas yang cukup melimpah. Namun pada malam harinya saat tidur, dia bermimpi didatangi oleh seorang yang pemuda yang memberikan arahan kepadanya dimana letak emas tersebut. Ketika ditanya dalam mimpi pemuda tersebut mengaku bernama WAKIJO. Tentu saja penambang tersebut kaget dan sebagai rasa terima kasihnya tersebut ia mencari seseorang yang bernama wakijo. Beberapa hari kemudian baru bertemu dengan pemuda bernama Wakijo. Ternyata Wakijo itu adalah tetangga Saiful Hadi dan kondisi kejiwaannya sangat labil alias gila. Betapa kagetnya penambang itu, bagaimana mungkin sebelumnya ia belum pernah bertemu Wakijo namun ia dipertemukan dengan Wakijo di alam mimpi, yang di alam nyata Wakijo adalah orang gila.

Supiah Dipercayai Jelmaan Nyi Blorong dan Simbol Malapetaka
Keanehan lain juga dialami oleh seorang nenek. Seperti biasanya si nenek selalu menunggu sang suami yang memiliki pekerjaan mencari ikan. Sehari-hari selalu pulang tepat waktu, yaitu menjelang sore hari. Sore itu, si suami hingga menjelang masuk waktu Mahgrib, belum pulang juga. Lantaran khawatir terjadi sesuatu pada suaminya, si nenek menyusul sang suami. Akhirnya sang nenek tersebut menyusul ke pantai Grajakan. Tepat waktu Mahgrib ada salah seorang nelayan yang melihat nenek tersebut jalan diatas air. Selangkah demi selangkah menuju ke tengah laut. Namun ketika di pergoki dia mengaku agak linglung dan marah-marah jika rumahnya di ganggu. Si nenek mengaku bahwa rumahnya yang berada di Tumpang Pitu telah dihancurkan oleh para penambang.

Si Nenek tersebut dikenal sebagai Supiah. Nama Supiah saat itu sempat menjadi buah bibir. Ada yang meragukan namun tak sedikit juga yang mempercayai. Nenek yang dipergoki duduk mengambang di laut Pelawangan, Grajagan, Banyuwangi itu dipercaya disusupi penghuni laut selatan dan bahkan kehadirannya bisa menimbulkan musibah.

Pandangan itu diungkap Mbah Syaid, tokoh yang dituakan dari Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Menurut pria yang mampu melakukan peneropongan secara gaib ini, Supiah sejatinya adalah perempuan berkepala manusia berbadan ular. Atau biasa disebut oleh masyarakat Jawa selama ini sebagai Nyi Blorong.

"Makhluk halus yang dikenal kejam itu sudah lama ada di dalam tubuh Supiah. Supiah itu sejatinya Nyi Blorong," ungkapnya.

Dijelaskan juga, tujuan Supiah ke laut bukan untuk mencari anaknya saja. Tapi meminta bantuan sesama makhluk halus, akibat pemukiman mereka (makhluk halus) di Gunung Tumpang Pitu rusak akibat penambangan emas. Sebab itu pula, sudah mulai ada tanda-tanda jika permintaan Supiah direspon oleh rekan-rekannya di laut selatan.

"Tak akan lama lagi akan ada goro-goro (masalah) yang berawal dari tambang emas, penghuni laut selatan dan Alas Purwo mulai turun gunung," jelas dia seakan memperingatkan. Apalagi sebelumnya Supiah mengaku berasal dari Gunung Tumpang Pitu. Padahal dia sehari-harinya tinggal di Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo. Pernyataan serupa juga disampaikan Syueb Akbar, sesepuh Pesisir Grajagan. Laki-laki yang terkenal dekat dengan para penunggu laut Grajagan itu, mengaku, jika dirinya sudah ditemui Ki Ageng Wilis, penunggu Gunung Tumpang Pitu.

Dalam pertemuannya itu, Ki Ageng Wilis yang dulunya penunggu laut Pelawangan tersebut mengingatkan, jika akan ada masalah besar akibat adanya tambang emas. "Ki Ageng Wilis bertemu dengan saya, beliau sesaat turun dari kudanya, bilang jika dalam waktu dekat akan ada marabahaya yang disebabkan dari tambang emas," ungkap Syueb. @
  
Penambangan Emas dan dampak sosial
Biasanya ketika melakukan penambangan emas masyrakat menggali tanah sedalam mungkin untuk mengambil butiran-butiran emas dengan menggunakan alat jenset dan betel. Saat itu ada sekitar 9 orang yang mengambil sampel tanah untuk diteliti. Setelah diteliti, kesembilan orang tersebut menyatakan bahwa tanah yang mereka bawa tersebut tidak memiliki kandungan emas sedikitpun. Setelah tanah tersebut dianggap tidak berharga, maka dibuanglah tanah tersebut. Anehnya, setelah dibuang, menjadi rebutan banyak orang dan tanah tersebut mengandung butiran emas yang tak ternilai banyaknya.

Disamping kisah-kisah yang bernuansa mistis mengiringi mereka ternyata ada dampak sosial yang menimpa mereka akibat penambangan emas Tumpang Pitu. Dari banyak cerita tersebut antara lain beberapa orang dari masyarakat pesanggaran saat ini mulai malas melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti Tahlilan, Jumatan atau selamatan dengan masyarakat sekitar. Mereka lebih disibukan melakukan pengubangan untuk mencari emas yang memang amat menjanjikan. Dampaknya, warga atau para pemburu illegal emas Tumpang Pitu, melupakan altivitas ibadah dan aktivitas sosial lainnya demi memburu emas. Akibatnya, aktifitas masjid menjadi sepi.

Sejak ditemukan tambang Emas di Tumpang Pitu, matapencaharian masyarakat, yaitu mencari bamboo wuluh dan bertani, menjadi terbengkalai. Warga Pesanggrahan lebih memilih menjadi penambang emas dari pada menjadi petani dan pencari bamboo yang penghasilannya tidak seberapa dibanding hasil dari tambang emas. Penghasilan ratusan juta dalam waktu relatif singkat, merubah gaya hidup masyarakat. Pemenuhan kebutuhan sekunder, menjadi mimpi nyata khususnya warga Pesanggrahan. Kasus perselingkuhan seakan meledak tak terkendali, seiring naiknya pendapatan warga. Akibatnya, banyak kasus perceraian terjadi dan menjadi hal biasa bagi warga Pesanggrahan.

Tak berhenti sampai disitu, pertengkaran antar keluarga, seperti ayah dan anak juga tak terhindarkan. Seorang ayah dan anak bisa bertengkar memperebutkan sebongkah tanah yang memiliki kandungan emas. Mereka saling berebut di area penambangan. Melakukan ibadah sholat, khususnya waktu Dhuhur, menjadi ujian yang tak ringan bagi warga di sana. Seorang penambang mengalaminya sendiri, ia bernama Samad. Jika saat Dhuhur tiba, tanah yang digali kelihatan kekuning-kuningan menandakan ada kandungan emas. Lalu Samad keluar dari sumur penggalian, membersihkan diri dan melakukan sholat Dhuhur di kamp nya. Selesai melakukan sholat, makan dan istirahat sebentar, ia kembali menuruni galian pertambangan. Wal hasil, setelah dodalam sumur, ia tidak mendapati lagi bongkahan-bongkahan batu yang mengandung emas. Kelipan emas di dinding sumur telah sirna seiring waktu sholat Dhuhur.

Samad mengatakan kepada Saiful, “memang kebanyakan sepengetahuan saya, yang mendapatkan emas disana adalah orang yang gak pernah melakukan aktifitas keagamaan,” jelas Samad.

Dampak sosial lain adalah tumbuh suburnya pelacuran. Pelacuran-pun juga semakin merebak. Hal ini terlihat adanya fenomena pelacuran terjadi di area pertambangan. Mungkin hal ini terjadi karena menurut para PSK adalah sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan. Mungkin karena banyaknya pria kurang belaian karena memang banyak perantau yang datang disana dan jauh dari sang istri. “Sebenarnya banyak pendududk setempat miris melihat kondisi ini. Orang yang sudah tua-tua sekitar umur 35-40 an masih berdandan menor dan menjadi seorang penghibur dengan berkedok jual makanan. Meskipun gak semua penjual makanan disana sebagai pengibur. Warga berharap mudah-mudahan fenomena ini segera berakhir dan masyarakat Pesanggaran bisa beraktifitas dengan tenang, jelas Saiful.@


Walet Siluman
Wilayah Banyuwangi memang di identikkan dengan banyak misteri. Sebagian besar masyarakat di luar wilayah ujung timur Pulau Jawa tesebut selalu mengindentikkan peninggalan wilayah Kerajaan Blambangan ini dengan santet.

Suatu hari, seorang penduduk setempat menemukan banyak sarang burung walet di sekitar hutan Gunung Tumpang Pitu, Pesanggaran, Banyuwangi. Ketika ia akan memanen keesokan harinya, ternyata sarang walet itupun sirna entah ke mana.

Sejak dahulu wilayah kucur ini terkenal dengan berbagai kisah mistis hal ini dibuktikan oleh beberapa orang yang ingin mencari sarang walet di gunung tumpang pitu karena memang saat itu banyak burung walet berterbangan di udara pada siang hari bahkan saking banyaknya sampai-sampai menutupi langit sehingga orang berjalan di bawahnya seperti berada dibawah payung raksasa karena tidak tersinari oleh cahaya matahari. Namun anehnya setelah ditunggu beberapa saat sedikit demi sedikit burung walet tersebut menghilang tanpa jejak sehingga pencari sarang burung wallet tersebut tidak menemukan dimana letak sarang burung wallet tersebut.

Pada malam harinya beberapa pencari sarang walet tersebut ditemui oleh sepasang kakek nenek yang mengaku sebagai sepasang suami istri dari jogja. Beliau berpesan agar tidak mengganggu tempat itu karena menurutnya pemilik tumpang pitu belum mengijinkan untuk mengambil harta karunnya suatu hari nanti jika sudah saatnya akan diberikan kepada masyarakat pesanggaran dan sekitarnya. Akhirnya dengan tangan hampa mereka pulang tanpa membawa hasil harta karun berupa sarang wallet yang ada hanya kelelahan karena harus begadang berhari-hari untuk mendapatkan wangsit.

Cerita tentang penemuan sarang walet oleh penduduk di sekitar Gunung Tumpang Pitu yang kemudian hilang, juga diceritakan si penjual bakso. Cerita si penjual bakso tentang keberadaan sarang burung walet di sekitar gunung, ternyata bukan hanya monopoli masyarakat awam di sana. Hasnan pun mengatakan, bahwa di sana terdapat banyak sarang burung walet, tetapi dalam dimensi mistis.

Jika seseorang menemukan sarang walet tersebut pada saat tertentu, maka ia harus memanennya saat itu juga. Namun bila ia menunggu untuk memanennya di hari berikutnya, bisa dipastikan sarang tersebut akan lenyap seperti ditelan bumi.

Hal ini bukan terjadi lantaran ada orang terlebih dahulu memanen sarang tersebut. Sarang walet yang ditemukan, syaratnya memang harus dipanen saat itu juga. Cerita ini sangat dipercaya dan dipahami banyak penduduk di sana.

Namun kenyataannya pemandangan pada siang hari amat berbeda dengan cerita mistik yang menyelimuti wilayah Banyuwangi umumnya. Jalan berkelok-kelok dengan lebatnya hutan di kanan dan kiri jalan kawasan Alas Mrawan semakin memperlihatkan keindahan wilayah tersebut. Kesan mistis atau angker sama-sekali tidak mampu mengalahkan keindahan alam dan tatapan ramah penduduk di tepi jalan.

Setelah sekitar tiga jam menempuh perjalanan dari kota Jember, kita akan sampai, tepatnya di kawasan Pantai Pulau Merah, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di atas pantai itu, berdiri dengan tegap jajaran perbukitan bernama Gunung Tumpang Pitu. Disanalah terdapat penambangan emas, konon pemodalnya asal Jakarta yang kini dampaknya dicemaskan sebagian masyarakat di wilayah tersebut.

Di sekitar Pantai Pulau Merah, terdapat banyak penjual makanan, diantaranya penjual bakso. Berjejer para penjual bakso yang berusaha mengais rejeki dari para pelancong maupun para penambang yang sedah rehat dari aktivitasnya. Salah satu penjual bakso dilokasi itum terdapat seorang perempuan yang belum terlalu tua. Dari perempuan itulah, cerita-cerita mistis di sekitar Banyuwangi meluncur deras, terutama yang terkait dengan tambang emas Tumpang Pitu.

Ia bercerita tentang banyaknya harta karun di Gunung Tumpang Pitu. Perempuan itu juga menunjukkan contoh uang berbentuk koin berwarna keemasan yang sempat ditemukan dalam jumlah banyak.

Bagi pendatang yang baru menginjakkan kakinya di kawasan itu, tentu dicurigai akan melakukan penambangan seperti yang lainnya. Dan itu akan doianggap sebagai pesaing bahkan akan mengurangi jatah penambangan, para penambang kawak alias lawas. Hingga tak jarang para penambang terdahulu juga menyebarkan isu, jika diatas pegunungan itu banyak terdapat binatang buas dan liar. Bahkan cerita mistik yang amat menakutkan bagi pendatang bernyali ciut.

Tak jarang suara bisik-bisik terdengar dari kumpulan pemuda. “Kasih tahu kalau di atas (Gunung Tumpang Pitu) ada macan.” Perkataan seperti ini kerap dilontarkan sebagai refleksi ketidaksenangan atas kehadiran orang asing di wilayah tersebut.

Jika ada rombongan baru naik ke punggung gunung Tumpang Pitu, para penambang seakan bersepakat melakukan gerakan tutup mulut. Mereka tak mau memberikan sedikitpun informasi kepada pendatang baru. Tidak satupun dari mereka mau memberikan informasi terkait penambangan emas di gunung tersebut. Meski di antara mereka ada yang menyempatkan diri berbicara, tapi tak ada jawaban memuaskan muncul dari mereka.

Pura Segara Tawang Alun
Jika dilihat sekilas, pura tersebut tidak berbeda dengan kebanyakan pura lainnya. Akan tetapi letakknya yang berada di kaki gunung dan hanya berjarak beberapa meter saja dari pantai laut selatan, posisi ini jelas menunjukkan bahwa pura tersebut bukan pura biasa.

Ternyata, Pura Segara Tawang Alun memang bukan pura biasa. Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan menuturkan, bahwa di kawasan tersebut dahulunya merupakan tempat pertapaanWong Agung Wilis.

“Di wilayah Banyuwangi sebelah selatan, dulunya tempat pertapaan Wong Agung Wilis. Tokoh setelah Prabu Tawang Alun pada abad 16. Beliau adalah pejuang melawan kompeni Belanda di daerah Grajagan sampai wilayah selatan hingga ke Pulau Merah,” demikian pemaparan Hasnan.

Masih menurut Hasan, hutan di sekitar pantai selatan, tepatnya di sepanjang Meru Betiri dan Alas Purwo sangat dipercaya masyarakat Banyuwangi sebagai tempat yang banyak menyimpan kekuatan mistis.

Begitu pula dengan keberadaan harta karun berupa koin emas yang ditemukan dalam jumlah besar, menurut Hasnan, koin emas tersebut merupakan sesaji persembahan masyarakat tempo dulu ketika melakukan upacara keagamaan.

“Akibat banyaknya sesaji itu, maka sekarang para kapitalis Jakarta termasuk Bupati Banyuwangi pun ikut-ikutan menganggap ada tambang emas padahal tidak ada sama sekali,” begitu lanjut Hasnan.

Jika pendapat sang budayawan Banyuwangi saja seperti itu, yakni yakin tentang tidak adanya potensi tambang batuan emas di sana, maka bisa dibayangkan bagaimana keyakinan masyarakat di sana terkait potensi kandungan emas di gunung tersebut.

Masyarakat di sana tentu lebih yakin lagi, bahwa tidak ada potensi tambang batuan emas di sana. Bagi mereka, emas yang ada di Gunung Tumpang Pitu hanyalah emas berbentuk harta karun.

Sehingga untuk mendapatkan emas tersebut diperlukan “laku batin” bagi mereka yang menginginkannya. Masyarakat awam di sana tentu tidak ada yang menyangkalnya, apalagi cerita itu telah ratusan kali turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya.

Seorang bernama Kartono, juga menceritakan kemesteriusan harta karun Tumpang Pitu. Pria  paruh baya yang ditemui setelah pendakian Gunung Tumpang Pitu juga menceritakan tentang adanya petilasan keramat dan gua di ketinggian gunung tersebut.

Menurut pria itu, goa tersebut merupakan lokasi meletakkan sesaji berbentuk koin emas. Harta karun berbentuk koin emas inilah yang banyak diburu masyarakat di sana.

Anehnya, pernyataan si budayawan ternyata berbeda dengan kondisi sesungguhnya di lapangan. Pada kenyataannya menunjukkan, bahwa di Gunung Tumpang Pitu memang sedang ada aktivitas penambangan batuan emas.

Di wilayah penambangan tersebut, terdapat tak kurang sekitar seratus pekerja. Beberapa di antaranya terlihat orang kulit putih, konon mereka berasal dari Belanda dan Australia. Mereka dengan sebuah bendera perusahaan pertambangan tampak aktif mengebor batuan dari perut bumi di gunung tersebut.

Tampaknya masyarakat sekitar gunung dan Pantai Pulau Merah kecolongan. Emas yang menurut mereka hanya bisa didapatkan dengan upaya spiritual, ternyata justru bisa didapatkan lewat upaya rasional berbentuk pertambangan batuan emas.

Ya, perut bumi di Gunung Tumpang Pitu ternyata menyimpan kandungan batuan emas dengan potensi menggiurkan. Kini, sebuah perusahaan penambangan besar telah menikmati kilauan emas sesungguhnya. Lalu bagaimana nasib masyarakat di sana? Akankah nasib mereka sama dengan nasib saudara kita yang memiliki harta tambang super fantastis Freeport di Papua yang amat dijaga bahkan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno atau Bung Karno? Semua tergantung pada Pemerintah Indonesia dan para pemimpin bangsa.

Penambang Emas Mimpi Didatangi Penunggu Gunung Tumpang Pitu
Pemburu emas di Sungai Gonggo, lembah Gunung Tumpang Pitu, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi saat itu ketakutan. Pasalnya, saat rehat dari aktivitas penambangan, saat tidur, mereka mengaku mimpi didatangi wujud kakek dan putri yang diyakini penunggu kawasan Gunung Tumpang Pitu.

Dalam mimpi itu warga diminta untuk segera mengembalikan tanah yang diambil. Jika tidak, musibah atau bencana akan terus menghantui sepanjang hidupnya. Sejak mendapat mimpi tersebut, diam-diam mereka mengembalikan tanah hasil ‘jarahan’ ke tempat asalnya.

“Saya mimpi ditemui kakek-kakek yang mengaku penunggu Tumpang Pitu dan menyuruh mengembalikan tanah yang saya ambil dari Sungai Gonggo. Jika tidak saya kembalikan, katanya akan kualat,” jelas seorang warga yang sempat ikut mendulang emas, sesaat menyerahkan tanah yang sempat diambilnya ke Petugas yang berjaga. Kisah itu terjadi pada Jumat, (1/5/2009) siang.

Anehnya, tak hanya satu dua orang saja yang bermimpi serupa. Rata-rata pendulang emas asal Kecamatan Pesanggaran juga mengaku mimpi yang sama. Karena mendapat wangsit itulah, warga secara sukarela mengembalikan tanah yang diduga mengandung emas tersebut. Namun, untuk mengembalikan tanah itu mereka harus dikawal polisi atau petugas dari TNI.

“Saya jadi malu, tapi dari pada kualat mending saya kembalikan saja,” jelas salah seorang warga asal Desa Sumbermulyo Kecamatan Pesanggaran Samsuri di lokasi.

Sedangkan Kapolsek Pesanggaran, AKP Jodana merasa geli mendengar pengakuan warga tersebut. Hal yang sama juga diungkapkan Danramil Pesanggaran, Lettu Zainuri, saat memimpin anggotanya berjaga di pintu masuk antara kampung 56 dan hutan produksi.

“Ada-ada saja mereka ini, kemarin ngotot nambang emas. Tapi tidak mengapa kalau memang hal itu membuat mereka sadar untuk tidak menambang emas lagi,” jelas Jodana setengah menahan tawa.

Sementara jika sebagian penambang emas tradisional mengembalikan tanah dan perburuannya, namun banyak warga luar Pesanggrahan justru sebaliknya. Mereka berusaha terus mencari emas melalui hutan lindung, sekitar 3 kilometer, timur dari lokasi awal penambangan. Tepatnya, melalui petak 25 dan Pantai Lampon yang memang tidak dijaga oleh petugas.

“Kami pergoki mereka di perbatasan hutan produksi dan hutan lindung, timur petak 79. Mereka langsung semburat lari saat mengetahui kedatangan kami,” jelas Sastriyadi, salah satu petugas Perhutani KPH Banyuwangi Selatan. Batas antara pemukiman dan areal hutan produksi kampung 56, memang menjadi pos penjagaan bagi pihak Perhutani.

Dari sekian puluhan penambang emas tradisional yang bandel tersebut, identitas mereka sempat diketahui oleh anggota perhutani yang memergokinya. Meski hanya dari bahasa yang digunakan dalam percakapan mereka.

“Saya dengar percakapan mereka itu pakai bahasa Sunda,” jelas Sastriyadi lagi saat berkoodinasi dengan petugas dari Polri dan TNI.

Merasa kecolongan, petugas Polri/TNI yang berjaga di beberapa titik langsung melakukan pengejaran. Beberapa petugas dengan menggunakan sepeda motor, masuk ke hutan menuju lokasi yang dimaksud.

“Kita kejar mereka, siapa tahu masih ada yang di lokasi,” jelas Danramil Pesanggaran, Lettu Zainuri didampingi Kapolsek Pesanggaran AKP Jodana Gunadi.
Kejadian ini terjadi pada pertengahan tahun 2009, kini lokasi pegunungan Tumpang Pitu telah terkapling menjadi milik banyak perusahaan. Bahkan perusahaan asal Australia memiliki puluhan ribu dan menjadi “pengelolah” pegunungan emas Tumpang Pitu. @





Tidak ada komentar: