Minggu, 22 April 2012

Akhir Kehidupan Khalifah Umar Al Khattab

Pada suatu pagi yang hening dan syahdu, seorang hamba Allah yang beriman dan berkualitas dalam sejarah Islam , yang mampu tertulis dalam tinta emas penyebaran Islam, yaitu  Khalifah Umar Al khattab, Khalifah kedua generasi Islam pertama, generasi terbaik. Beliau saat itu bersiap siap hendak keluar menunaikan sholat subuh berjamaah.

Seperti biasanya sebelum melangkah keluar rumah, Khalifah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya hanya kepada Engkaulah tempat aku berlindung, dan hanya kepadaMu lah tempat aku berserah.” Seorang khalifah besar yang selalu tunduk dan pasrah kepada Raja diRaja, Penguasa Alam, Penguasa para seluruh manusia dan alam semesta , Allah SWT.

Lalu Khalifah Umar terus melangkahkan kaki menuju masjid, walaupun saat itu suasana dingin merasuk hingga ke tulang, namun kecintaan dan ketaatan sebagai mukmin hakiki , beliau tidak mengindahkan dan berjalan dengan tegap.

Sesaat waktu masuk sholat , Khalifah Umar , seorang pemimpin umat dan juga imam , senantiasa memimpin para sahabat untuk sholat berjamaah subuh, sebelum menunaikan sholat seperti biasanya beliau memeriksa dengan seksama shaf jamaah. Setiap melewati dua shaf, beliau akan berkata, “ berdirilah dalam shaf yang lurus. Sesungguhnya meluruskan shaf dalam jamaah itu termasuk dalam kesempurnaan sholat”. Begitulah pemimpin yang ideal, selalu memastikan pasukan dan umatnya selalu rapat dan kompak, berserasi dalam perjuangan maupun ibadah kepada Allah SWT.

Selepas memastikan shaf sholat sudah lurus dan rapi, barulah Khalifah Umar segera mengimamkan sholat subuh. Pada rakaat pertama, beliau membacakan surah Yusuf, sebuah surah yang cukup panjang, dengan panjangnya waktu di rakaat pertama , dengan maksud bila ada yang terlambat hadir ke masjid, akan banyak waktu untuk turut serta dalam sholat berjamaah. 

Ketika jamaah sedang melakukan sholat, sekelebat seorang laki majusi Persia menerobos pergi kebarisan shaf lalu menikam setiap orang di kiri dan kanannya secara membabi buta dengan menggunakan sebilah pisau. Secepat waktu dia sudah berada dibelakang Khalifah Umar, lelaki majusi itu lantas menikam Khalifah Umar Al Khatab sebanyak enam kali. Tikaman itu membuatkan khalifah terpaksa jatuh terduduk sakit.

Para sahabat yang terdekat dengan posisi Umar lantas membatalkan sholatnya lalu berusaha menangkap pembunuh itu, “ Terlaknat kamu karena berani membunuh Amirul Mukminin !” teriak salah satu sahabat.

Majusi Persia itu berkata sambil tertawa, “ Akhirnya dendamku kepada Umar terbalas, ingat, namaku Abu Lu’luah dan aku merasa bangga karena dapat membunuh Umar Al Khatab! “

Tersentak beberapa orang jamaah terdepan segera membatalkan sholat masing masing. Mereka segera mengepung Abu Lu’luah , keadaan menjadi rusuh, lalu penganut majusi Persia itu menyadari dirinya terkepung dan tak mungkin lepas dari kejaran kaum muslimin , maka Abu Lu’luah segera menancapkan pisau ketubuhnya sendiri lalu ia mati dengan cara membunuh dirinya sendiri .

Khalifah Umar Al Khatab yang terduduk kesakitan masih memikirkan kelanjutan tugas terakhirnya memimpin sholat subuhnya dan beliau memegang tangan Abdurrahman bin Auf yang berada di belakangnya sebagai isyarat agar segera menggantikan beliau sebagai imam sholat. Lalu Abdurrahman bin Auf mengimamkan sholat subuh secara singkat dan penuh syahdu. Khalifah Umar  walau tertikam dan terduduk dilantai  tetap menyempurnakan dan menunaikan sholat  subuhnya dalam keadaan sakit menahan akan perihnya luka tikaman, darah mengalir deras dari luka tikaman tersebut. Sholat saat itu menjadi lebih syahdu walau singkat.

Semua sahabat di masjid tersebut diposisi terdepan tetap menyempurnakan sholat mereka walau mereka sungguh melihat peristiwa yang terjadi penuh dengan kekhawatiran dan keharuan.

Jemaah yang berada dibarisan belakang yang tidak melihat apa yang terjadi menjadi risau karena tidak mendengar suara Khalifah Umar sebagai imam sholat, lalu mereka gemuruh mengucapkan tasbih , “ Subhanallah, subhanallah!”

Sesudah sholat subuh, khalifah Umar berkata kepada Abdullah bin Abbas dalam keadaan kesakitan, “Wahai Abdullah, carilah tahu siapa orang yang menyerang saya”

Abdullah bin abbas pergi menuju jenazah Abu Lu’luah yang bergelimpang berlumur darah, seorang daripada kaum muslimin berkata, dia membunuh diriya sendiri.

Tanya Abdullah bin Abbas, “ siapakah nama lelaki yang menikam Amirul Mukminin ini?

Lelaki disekelilingnya menjawab,” lelaki ini adalah budaknya Al mughirah yang bernama Abu Lu’luah, dia adalah penganut majusi Persia.

Lalu Abdullah bin Abbas kembali kepada Khalifah yang dipangku dan diupayakan pengobatan oleh beberapa sahabat, terlihat sangat lemah karena banyak kehilangan darah.

Lelaki yang menikam tuan itu namanya Abu lu’luah, Dia budaknya Al Mughirah,” kata Abdullah bin Abbas.

Mendengar kata kata Abdullah bin Abbas, khalifah Umar berkata, “budak yang bekerja sebagai tukang bangunan itu?”

“Ya” ujar Abdullah bin Abbas.

Khalifah Umar Al Khattab berkata, semoga Allah melaknatnya karena menyakiti saya, sedangkan saya tidak pernah menzaliminya. Segala puji bagi Allah yang tidak mewafatkan nyawaku ditangan orang muslim”. 

Terbitlah senyum bahagia di raut muka seorang pejuang , syuhada, pemimpin umat yang kuat dan kokoh. Dia bahagia karena dicintai rakyatnya, dia gembira bahwa yang menikamnya adalah musuh Islam, dia bersukacita bahwa dia berhasil menyatukan dan meneruskan keutuhan Islam semenjak ditinggalkan oleh Rasullullah SAW dan sahabatnya Abu Bakar…

Senyum yang membawanya ke surga kelak…senyum yang membuktikan kabar dari Rasulullah SAW bahwa dirinya memang ditakdirkan sebagai syuhada.

Tidak ada komentar: