Kamis, 18 Februari 2016

Lumpuh Layu, 137 terapis Gagal Sembuhkan Penderita



Jurnalis Independen: Selama 10 tahun menjalani usianya, Yasrani (36), perempuan asal Dukuh Pradok, Desa/Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, ini harus bergantung dengan mengonsumsi obat-obatan lantaran harus melawan penyakit lupus yang dideritanya.


Yasrani terus beristiqomah dengan terus mengonsumsi obat agar penyakit yang dideritanya lekas membaik. Dia tidak putus asa. Meski dia hanya bisa duduk dan sesekali tiduran di kasur kamarnya yang cukup sederhana.

Kedua orang tuanya setiap hari melayani kebutuhan Yasrani, sejak ia divonis dokter 2003 silam.

"Dulu itu saya flu, ya sudah seperti flu biasa. Tapi badan rasanya drop lalu saya bawa ke dokter. Tapi setelah obat habis saya drop kemudian dokter mulai curiga," begitu awal Yasrini menceritakan penyakit lupusnya.

Setelah mendapatkan pemerikaan dari dokter, Yasrini direkomendasikan untuk dirujuk ke Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya karena memang saat itu Yasrini sedang bekerja di salah satu Apartemen di Surabaya.

Menurutnya, saat di RSU dr. Soetomo dia menjalani serangkaian tes, bahkan dalam satu hari menjalani cek darah sebanyak 4 kali.

"Setelah beberapa jam dipanggil dan dinyatakan ini posistif kena lupus," imbuhnya menirukan pernyataan dokter yang memeriksanya.

Setelah dinyatakan positif mengidap lupus, rasa nyeri yang dirasakan oleh Yasrini semakin menjadi-jadi, terutama nyeri di bagian pergelangan tangan kanan hingga menjalar ke pergelangan tangan kiri, lutut, kaki, leher, dan juga sekujur kaki dan tangan menjadi bengkak.

Mengetahui hal itu, Yasrini memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya dan menjalani rawat jalan di RS dr. Soetomo. Meski bertahun-tahun menjalani rawat jalan, namun kondisinya tidak membaik.

"Waktu itu saya sempat jengkel ke dokter, saya ngeluh, dok ini sebenarnya lupus itu kaya apasih, saya sudah berobat sudah patuhi larangannya, tapi masih saja belum sembuh, katanya setiap penyakit ada obatnya," kata Yasrini menirukan keluhannya saat itu.

Yasrini mengaku setelah mendapatkan penjelasan tentang penyakit lupus dari dokter pada tiga tahun pertama mengidap penyakit lupus ini sudah seperti orang depresi, putus asa, dan marah besar. Bahkan dia belum bisa menerima kenyataan pahit dengan penyakit lupusnya tersebut.

Namun karena semangat luar biasa ingin bisa sembuh dari penyakit lupus, Yasrini melakukan kontrol lagi ke beberapa terapi pengobatan alternatif secara tradisional setiap satu bulan dua kali dan ganti terapis sebanyak 37 yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo dan Semarang.

"Pada saat itu mengonsumsi obat saya semakin drop dan obat itu malah nyerang organ tubuh saya karena sifat obat lupus itu steroid yang malah menyebabkan daya tahan tubuh menurun, seperti perut saya kena kista, ginjal saya bengkak sebelah, jantung bermasalah, tulang ekor sakit semua, dan kaki saya bengkak-bengkak," tuturnya lirih sembari menitikkan air mata.

Saat itu, Yasrini benar-benar ada pada titik nol. Dia sudah drop dan putus asa, bahkan hanya ada satu doa yang dipanjatkan waktu itu yakni keinginannya kepada Tuhan untuk mencabut nyawanya.

"Badan saya saat itu benar-benar sakit, tidak ada yang bisa dirasakan enak sama sekali," imbuhnya.

Pengobatan secara alternatif setelah itu tetap dilanjutkan sembari mengumpulkan mental Yasrini yang sudah down karena tidak siap menghadapi kenyataan.

Hingga saat ini proses penyembuhan penyakitnya sudah hampir 70 persen dengan pengobatan alternatif tersebut. Namun meskipun begitu Yasrini tetap berharap ada uluran tangan dari para dermawan untuk meringankan beban yang ditanggungnya selama ini.

Jika dilihat secara kasat mata Yasrini terlihat sehat dan baik-baik saja, namun tubuhnya yang semakin kurus dan rasa nyeri di sekujur tubuhnya ditahan sejak 10 tahun silam hanya bisa dirasakan olehnya.

Sementara itu, ayah dari Yarsini, Daswaji (61) juga sangat berharap mendapat uluran tangan dari para derwaman untuk membantu biaya penyembuhan putrinya yang hanya bisa terbaring di kamar.

"Saya sudah punya Kartu BPJS tapi anak saya yang belum, selama pakai biaya pribadi," ungkapnya. [air/uuk]

Tidak ada komentar: