Selasa, 11 November 2014

Pidato Mercusuar Presiden Indonesia Joko Widodo di Forum APEC

Jurnalis Independen: Tiga tahun lalu Joko Widodo (Jokowi) hanya dikenal sebagai Walikota Solo yang baik. Itupun masyarakat dunia terutama para tokoh politik, negarawan dan pengusaha manca hanya mengenal Jokowi dari media.


Tak disangka Indonesia yang dikenal lembek dalam percaturan dunia selama puluhan tahun belakangan, kini, hanya dalam hitungan hari setelah "lengsernya" Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), nama Indonesia kembali menjadi Mercusuar karena pidato Jokowi di Forum CEO APEC Beijing.

Pada pidatonya di hadapan pemimpin bisnis dalam pertemuan CEO APEC di Beijing, Senin 10 November, Presiden Indonesia (Jokowi) menyebut negaranya sebagai tujuan utama investasi.

Dilansir dari Wall Street Journal, Jokowi dalam pidato pertamanya di acara internasional itu berjanji memangkas subsidi BBM, yang disebutnya telah menghalangi kemampuan pemerintah untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan sosial.

Jokowi menyebut $27 miliar yang dihabiskan setiap tahun hanya untuk subsidi BBM, adalah jumlah yang sangat besar. "Kami ingin menyalurkan subsidi BBM kami dari konsumsi menjadi aktivitas yang produktif," kata Presiden ke 7 Jokowi.

Dana yang dapat berasal dari pemangkasan subsidi BBM akan digunakan untuk membangun pelabuhan, rel kereta dan infrastruktur lainnya. Presiden Jokowi menyebut Indonesia akan membangun 24 pelabuhan dalam lima tahun. Kelima pelabuhan itu tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Presiden Jokowi juga mengungkapkan rencana memperluas jaringan kereta api dan pembangunan jaringan transportasi massal di enam kota besar termasuk Jakarta, Bandung dan Surabaya. Proyek kunci lainnya adalah pembangkit listrik, yang akan membantu pembangunan sektor industri Indonesia.

"Ini kesempatan Anda," kata Presiden Jokowi bergaya seorang public relation dalam bahasa Inggris, pada pidatonya di hadapan para pemimpin bisnis kawasan yang disampaikan dengan bahasa Indonesia. Lebih lanjut, Presiden RI itu menyampaikan keinginannya membangun 25 bendungan dalam lima tahun, mengalihkan anggaran subsidi menjadi pengairan bagi pertanian.

Presiden Jokowi yang beberapa kali mengulang kalimat kesempatan dalam pidatonya, berusaha menjamin tentang resiko berbisnis di Indonesia. Dia mengakui bahwa Indonesia sebelumnya berada pada peringkat rendah dalam survei.

"Banyak investor, saat mereka datang pada saya, hampir semuanya, mereka selalu mengeluhkan tentang akuisisi tanah. Saya akan mendorong Menteri-menteri, Gubernur, Walikota di Indonesia, untuk membantu menyelesaikan masalah ini," ujarnya.

Presiden yang baru dilantik 20 Oktober lalu itu, menceritakan pengalamannya saat harus menyelesaikan sengketa tanah selama menjabat Gubernur DKI Jakarta, termasuk yang terkait dengan pembangunan jalan tol. Tidak lupa, Presiden RI itu juga mengingatkan latar belakangnya sebagai pengusaha.

Dia menjamin bahwa pemerintah Indonesia akan membantu para investor asing dalam percepatan izin usaha. "Ini kesempatan Anda, karena Anda tahu anggaran nasional kami terbatas," ucapnya.

Masih terkait Forum Bilateral Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Presiden Jokowi juga mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama bahwa Indonesia telah membuktikan Islam dan demokrasi bisa berjalan bersama.
 
"Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia dan telah melaksanakan pemilihan presiden serta pesta demokrasi yang bagus. Ini menunjukkan Islam dan demokrasi bisa berjalan dengan baik," kata Jokowi di Hotel Westin, Beijing, Senin, 10 November 2014 ketika ditemui Prersiden Amerika Serikat Barack Obama.

Dalam pertemuan tersebut, Jokowi juga membicarakan soal Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam mengatasi masalah ekstrimisme dan radikalisme.  Menurut dia, untuk menjaga suasana tetap stabil pendekatan dari sisi kebudayaan dan agama harus dilakukan.

Dalam pertemuan itu, Prersiden AS, Obama juga memuji Indonesia karena telah menjadi negara yang mejemuk.  "Melihat pemilu di Indonesia, menegaskan adanya transisi pada demokrasi. Indonesia merupakan contoh bagi demokrasi, toleransi, dan pluralisme bagi kawasan lain di dunia," katanya.

Tidak ketinggalan, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menemui Presiden Jokowi. Putin mengeluhkan hubungan ekonomi antara Rusia dan Indonesia yang belakangan mengendur. Ia berharap di masa pemerintahan Jokowi-Jk, kedua negara dapat memperbaiki hubungan ekonomi tersebut.

"Ada sedikit kekurangan di bidang ekonomi bagi Indonesia dan Rusia. Tapi, ini karena kondisi ekonomi di dunia," kata Putin dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Joko Widodo di Diaoyutai State Guest House, Beijing, Senin, 10 November 2014.

Putin berharap pertemuan bilateralnya dengan Jokowi bisa membahas masalah penurunan hubungan ekonomi kedua negara tersebut. "Kami yakin hari ini bisa membahas hal itu," katanya.

Putin mengaku senang bisa mengenal Jokowi secara pribadi. Ia juga mengucapkan selamat atas kemenangan Jokowi-JK pada pemilu presiden Juli lalu. Kemitraan Rusia dan Indonesia, kata Putin, sudah berlangsung lama dan memiliki sejarah baik dan panjang.

"Kemitraan juga berkembang secara mulus. Kita sudah menjalin kerja sama politik dan ekonomi. Ekonomi masing-masing juga sudah berkembang," katanya.

Tidak lupa, Jokowi juga mengundang Rusia untuk berinvestasi di Indonesia. Ia mengajak pemodal Rusia masuk ke sektor energi khususnya pembangkit listrik, manufaktur, pangan, irigasi, dan pembangunan jalur kereta api.

"Kita undang Rusia untuk berinvestasi di bidang energi, power plant, kereta api, irigasi, manufaktur, dan pangan," kata Jokowi. Ia berharap kerja sama dengan Rusia bisa terealisasi selama masa pemerintahannya.

Tidak ada komentar: