Rabu, 19 November 2014

BBM Naik Presiden Jokowi dalam Genggaman Asing

Jurnalis Independen: Berita ini disadur dari Liputan6.com, yang ditulis pada 18 Mar 2014. Jakarta Bank Dunia memandang masalah permanen yang menjadi beban Indonesia dari beberapa tahun lalu adalah mengenai tingginya subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM).


Salah satu cara jitu yang diusulkan Bank Dunia untuk menyelamatkan fiskal Indonesia kedepan yaitu dengan kembali menaikkan harga BBM Bersubsidi.

"Subsidi BBM adalah topik permanen bagi kami (Bank Dunia) karena ini akan memberikan tekanan terhdap kebijakan demestik," kata Jim Brumby, Lead Economist World Bank di Hotel Intercontinental Mid Plaza, Jakarta, Selasa (18/3/2014).

Dalam hal ini Bank Dunia memiliki dua skenario pilihan yang nantinya bisa diambil oleh pemerintah Indonesia untuk mengurangi jumlah subsidi BBM tersdebut.

"Skenario satu adalah menaikkan harga BBM menjadi Rp 8.500 per liter dan skenario kedua adalah menaikkan subsidi BBM sebesar 50%," jelasnya.

Jim menilai kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah pada Juni 2013 dinilai masih kurang berdampak pada fiskal Indonesia.

Hal itu dibuktikan dengan masih tingginya impor BBM dan kurang ada realisasi kebijakan pendukung untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi tersebut.

"Juni memang harga BBM dinaikkan, tapi hal itu tidak berpengaruh karena disebabkan adanya depresiasi rupiah dan semakin tingginya konsumsi," kata Jim.

Mengingat Indonesia akan menggelar Pemilu pada bulan April dan Juli 2014 maka kebijakan kenaikan BBM itu bisa dilakukan di pemerintahan selanjutnya yang akan dilantik bulan Oktober 2014 dengan melakukan perubahan anggaran (APBNP).

Sementara itu Kwik Kian Gie pernah mengatakan,  "Istilah 'BBM Bersubsidi' adalah Pembohongan Publik!

"Berapa sebenarnya keuntungan Pemerintah dari minyak (asumsi bensin premium)?1 barel = 159 liter1 USD = Rp12.000Menurut Kwik Kian Gie, biaya untuk mengangkat minyak dari perut bumi (lifting) + biaya pengilangan (refining) + biaya transportasi rata-rata ke semua pompa bensin adalah 10 USD, atau jika dalam rupiah 10 : 159 x 12.000 = Rp754,7 dibulatkan = Rp755/liter.

Jadi sebenarnya dengan menjual premium Rp6.500/liter, Pemerintah sudah untung sebesar 6.500 - 755= Rp5.745/liter. Sekarang tinggal dikalikan berapa liter kebutuhan (konsumsi) dalam negeri, itulah 'keuntungan' yang diperoleh Pemerintah dari hasil jualan bensin premium pada rakyatnya sendiri!

Minyak dari perut bumi sendiri dan menurut UUD’45 Pasal 33 untuk kesejahteraan rakyat Indonesia: jangankan GRATiS, malah rakyat disuruh beli dengan harga Rp6.500? Sekarang Pemerintah mau ambil untung berapa rupiah lagi dengan menaikkan BBM menjadi Rp9.500?Subsidi itu ada kalau Pemerintah merugi, artinya harus ‘nombokin’ (memberi bantuan tunai). Kenyataannya dengan menjual Rp6.500 per liter, Pemerintah masih untung, bahkan untung besar.

Lantas, di mana letak subsidinya? Pemerintah selalu bilang “Rugi, tekor, dll…!” Di mana ruginya? Di mana tekornya? Istilah 'BBM bersubsidi' adalah pembohongan publik!Sekarang yang juga jadi pertanyaan adalah “Adakah negara-negara di dunia ini yang menjual minyaknya (untuk konsumsi dalam negerinya) dengan harga di bawah harga pasar (harga New York Mercantile Exchange/NYMEX)? ”

Jawabnya ada! Beberapa negara yang menjual minyak di bawah harga NYMEX, di antaranya Venezuela Rp585/liter* Turkmenistan Rp936/liter* Nigeria Rp1.170/liter* Iran Rp1.287/liter* Arab Saudi Rp1.404/liter* Libya Rp1.636/liter* Kuwait Rp2.457/liter* Qatar Rp2.575/liter* Bahrain Rp3.159/liter* Uni Emirat Arab Rp4.300/literSelama bertahun2, rakyat cuma ‘dikibulin’ Pemerintah! Dan ini akan terus berlanjut pada masa pemerintahan Jokowi-JK

Tidak ada komentar: