Senin, 21 November 2011

UI Ganti Nama Jadi UPI (Universitas Pluralisme Indonesia)

Jurnalis Independen: Siapa yang bisa menguasai UI, maka dia akan menguasai Indonesia. Tampaknya pepatah itu membuat UI menjadi seksi untuk diserang oleh gagasan pemikiran asing seperti Pluralisme Agama.

Topan Bayu Kusuma, Ketua LDK Nuansa Islam UI (Salam UI) mengamini kenyataan tersebut. Ia menandaskan kian hari Gerakan Islam Liberal semakin bercokol kuat di kampus yang pada Zaman Soeharto akrab disapa ‘Kampus Pembangunan’ itu.


Hal ini dibuktikan dengan kedatangan mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB), baru-baru ini. “Dan memang selama ini kajian pemahaman liberal banyak berkembang di FIB,” jelasnya kepada Eramuslim.com, Selasa, 15/11.

Kenyataan ini semestinya harus disikapi serius oleh tiap pihak. Salama ini UI sendiri meski belum intens melakukan perlawanan namun tergolong responsif ketika isu Pluralisme Agama mencuat.

“Ketika muncul (Isu Pluralisme Agama) itu biasanya kita langsung mengadakan kajian. Misalkan di awal tahun kemarin kita membahas seminar kerukunan Umat Beragama saat adzan di katakan bagian dari intoleransi,” tambah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer semester akhir ini.

Menurut Ustadz Abdi Kurnia, Dosen Mata Kuliah Agama di UI, salah satu faktor yang menyebabkan berkembangnya Pluralisme Agama di UI tidak lepas dari peran mahasiswa itu sendiri. Meski digadang-gadang sebagai kampus nomor wahid, namun kualitas berfikir mahasiswa UI saat ini cenderung pragmatis. Kesan acuh itu membuat mereka rentan diserang gagasan Pluralisme agama.

“Kita lihat kualitas lulusan SMA saat ini tidak sama pada tahun 70-90. Dulu bobot berkfikir mereka lebih kritis dalam mengkonter pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan mainstream,” terangnya di Mesjid UI, kemarin.

Faktor lain yang menjadi permicu adalah minimnya kepekaan dosen dalam menjelaskan permasalahan ini kepada para mahasiswa. Meski tidak bisa digeneralisir, namun menurutnya beberapa dosen belum mempunyai awareness terkait gagasan nyeleneh seperti Pluralisme Agama,

“Karena jika kita peka, mungkin tema-tema seperti itu bisa diklarifikasi. Karena Pluralitas itu berbeda dengan Pluralisme,” imbuhnya yang berniat melanjutkan S3 Studi Hukum Islam ke Sudan ini.

Sebelumnya Ustadz Abdi Kurnia menjelaskan bahwa telah terjadi perubahan paradigma pendidikan di UI. Perubahan itu tercermin dari masuknya tema Liberal Art pada semua mata kuliah.

Dampak dari penerapan kebijakan itu terlihat dari masuknya sub pokok bahasan tentang Islam dan Multikulturalisme serta Islam dan Pluralisme dalam mata kuliah. “Karena itu mesti ada klarifikasi yang jelas karena dikhawatirkan Pandangan Barat yang menempatkan agama sebagai fenomena sosial itu akan diikuti oleh mahasiswa,” paparnya. (Pz)

Tidak ada komentar: