Senin, 24 Desember 2012

Ada Dajjal Soeharto di Kematian Soekarno

Jurnalis Independen: Pada akhir desember 2012 ini aku tidak hendak mengucapkan apapun kepada siapapun. Sebab, saat ini ingatan ku, melayang pada sosok Pemimpin Bangsa Bernama Ir. Soekarno dan Soeharto. Aku teringat akan akhir hayatnya yang amat mengiris hati nurani. Pemimpin negeri ini banyak yang mengaku telah lebih bermoral, beradab, bersosial, berhak azasi, berilmu, berhukum, berkeadilan dan beragama, namun pada kenyataannya tak mampu mengungkap dan menyajikan kebenaran sejarah, para tokoh, masyarakat dan bangsanya sendiri, Tidak mampu menguak tabir gelap kematian Bung Karno, Sebab Ada Dajjal Soeharto pada misteri kematian Soekarno?
...
Sejarah ditulis oleh jenderal yang menang perang ... Jadi sejarah akan selalu berkata baik tentang jenderal yang menang perang dan bicara jelek tentang jenderal yang kalah di perang ...
Itu sunnatullah di negeri Dajjal ini. Usaha untuk meluruskan sebenarnya sudah ada ... tapi kekuatan Dajjal negeri ini selalu memberangus orang - orang yang berusaha meluruskan sejarah di negeri ini.

Orang - orang yang berusaha meluruskan sejarah atau berani mencari tahu tentang kebenaran sejarah, biasanya akan diteror atau diancam. Keadaan paling parah, tidak jarang menimpah para pelurus sejarah. Mereka "dihilangkan" dengan cara-cara Yahudi yang terkenal licik dan bergerak dibelakang layar, memanipulasi sejarah bangsa nusantara.

Terus terang , memang sangat menyedihkan mendengar ataupun membaca akhir kisah perjuangan bung karno, setiap orang punya versi yang berbeda -beda mengenai bung karno namun kontek nya tetap sama dimana bung karno adalah orang yang terabaikan .namun yang paling saya tidak mengerti adalah dari dulu tidak ada action untuk meluruskan sejarah tersebut.dan ada beberapa yang perlu untuk di perjelas juga seperti supersemar, akan tetapi ceritanya stuck sampe disana.

Kebiadaban Penjegal Soekarno Bapak Guru Besar Bangsa Tak Tergantikan
Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat itu sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.

Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda " ( meninggal ) Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). 

Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata, " Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah
kata KKO ".

Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.

The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang
barang lain semuanya ditinggalkan.

" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya.

Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan
kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan
kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin, Gubernur Jakarta,
yang juga berasal dari KKO Marinir.

Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak. Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk.

Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !. Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah.

Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain. Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Sang Dajjal Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,
" Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara
yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. " (Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966)

Dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung
Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan. 
(Kompas 11 Mei 2006).

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
" Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga
bukan perawat. Tetapi dari Kowad ". (Kompas 13 Januari 2008)

Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap Dajjal mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !

Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran? atau Justru sebaliknya manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.@mnt/berbagai sumber

4 komentar:

Eri Purnomo mengatakan...

Terima kasih atas info nya..
Sangat bermanfaat bagi para pengagum Bung Karno.

hasnul uncu mengatakan...

Indepth reporting... Sangat enak dibaca... Sungguh menyedihkan...... Tapi jangan ambil negatifnya dulu.

Herry Haryady mengatakan...

SOEKARNO THE BEST PRESIDENT OF INDONESIA..!

dony herman putra mengatakan...

Apakah hanya semata mata karna tahta soeharto dajal begitu tega terhadap sang proklamator? # infonya yah