Minggu, 28 Desember 2014

Film Exsodus, Penyelewengan Sejarah Islam dan Alquran

Jurnalis Independen: Sebagai pemeluk Islam, pernahkah Kita berpikir tentang banyaknya produksi film sejarah-sejarah islam yang difilmkan dan diproduksi produser film Amerika? Adakah itu semua gambaran kebenaran sejarah Islam khususnya yang terkait dengan para Nabi dan Bangsa Yahudi? Mengapa Produser Amerika  yang hebat-hebat itu tidak memfilmkan sejarah Yahudi dan para Nabinya sesuai dengan isi Kitab Suci Agama Yahudi yaitu Kitab Talmut?


Terkait dengan beredarnya di layar lebar film berjudul Exsodus atau Gods and King Produksi Hollywood Amerika Serikat (AS) yang mendapat larangan di Mesir dan Maroko, hanya sebagian kecil menjadi pertanyaan publik. Pertanyaan ituterkait kebenaran gambaran visual dari film-film yang memiliki keterkaitan Sejarah Islam dan agama samawi lainnya, Nabi-nabi dan sejarah kehidupan panjang Ummat Yahudi di dunia.

Lantaran Penyelewengan sejarah itu pulalah, Pemerintah Mesir dan Maroko melarang peredaran film terbaru arahan Ridley Scott dan dibintangi Joel Edgerton sebagai Firaun Ramses dan Christian Bale sebagai Nabi Musa.

Dikertahui, Kepala badan sensor Mesir mengatakan ketidakakuratan sejarah yang dimaksud meliputi adegan kaum Yahudi membangun piramida dan Nabi Musa membelah Laut Merah.

Bangsa Yahudi, menurutnya, tidak ambil bagian dalam proses pembangunan piramida. Anehnya, Kepala badan sensor juga menyebutkan Nabi Musa bukan penyebab "terbelahnya Laut Merah". Terbelahnya Laut Merah penyebabnya adalah gempa.

Sebelumnya Pusat Sinema Maroko (CCM) telah memberikan lampu hijau bagi penayangan film tersebut, situs bisnis Maroko Medias24.com mengatakan pihak berwenang memutuskan melarang film itu sehari sebelum tayang perdana di seluruh wilyah Maroko.

Seorang manajer bioskop mengatakan ia telah diperingatkan bioskopnya akan ditutup jika ia menentang larangan tersebut.

"Mereka menelpon dan mengancam akan menutup bioskop jika film tersebut ditayangkan," ungkap Hassan Belkady, seorang manajer.

Masih belum jelas mengapa para pejabat memilih untuk melarang penayangan film itu, setelah sebelumnya memberikan lampu hijau.

Awalnya, Exodus: Gods and Kings dijadwalkan untuk dirilis pekan ini.

Sarim Fassi-Fihri dari Moroccan Cinema Centre yang mengatur regulasi mengenai industri perfilman di Maroko menolak menanggapi larangan tersebut.

Sementara itu, dalam Islam sendiri menentang setiap penggambaran fisik seoarang Nabi, termasuk Nabi Musa yang mendapat posisi terhormat dalam Sejarah Islam dan Kitab Suci Al Quran.

Film Exodus ini mengisahkan pembebasan bangsa Yahudi dari perbudakan di Mesir, sayangnya, seperti biasa produksi-produksi film Hollywood, jika terkait Yahudi, Islam selalu mendiskreditkan Islam, sejarah Islam termasuk Al quran. Sebaliknya, mereka menstigmakan Bangsa dan Tokoh Yahudi sebagai simbol kebenaran.

Seperti biasa, pembuatan film-film produksi Hollywood, selalu menelan biaya sangat besar. Terlebih jika berkaitan dengan pendiskreditan Islam dan Sejarahnya. US$140 juta, adalah biaya yang dikeluarkan film yang mengisahkan pembebasan bangsa Yahudi dari perbudakan di Mesir. Film  itu meraup US$24,5 juta pada pekan perdana setelah dirilis.

Namun menurut sang produser, jika dibandingkan dengan film bertema keagamaan lainnya, pendapatan Exodus terbilang kecil.

Film Noah yang disutradarai Darren Aronofsky meraih US$43,7 juta pada pekan perdana setelah dirilis pada Maret 2014 lalu. Sedangkan film The Passion of the Christ mendulang US$83,3 juta pada 2004 silam.

Tidak ada komentar: