Senin, 11 Maret 2013

Siluman Rawa Onom Pulau Majeti (5)


Ruh Jendra Diculik dan Dibawa ke Kerajaan Siluman Rawa Onom

Setelah dinyatakan mati, ditemukan mayatnya, Jendra dimakamkan oleh Bendara Wedana. Padahal Jendra sendiri pada saat itu tengah berusaha dari belantara rawa onom pulau Majeti. Ia berjuang menemukan jalan keluar dari hutan yang menjadi tempat tinggal dan kekuasaan kerajaan siluman rawa onom.


Mendengar cerita ini, maka untuk yang kedua kalinya Jendra kembali pingsan dan tak sadarkan diri. Namun pingsan dan tak sadarkan diri ini hanyalah ukuran orang lain. Sebab untuk dirinya sendiri, sebenarnya dia tetap memiliki kesadaran. Yang sebenarnya terjadi, dia waktu itu tengah telentang di atas hamparan permadani. Jendra mengenal permadani bagus yang terhampar di ruang tengah rumah Bendara Wedana.

Namun hamparan permadani yang ini jauh lebih halus dan jauh lebih tebal. Kalau Jendra pernah mendengar ada permadani terbaik buatan Negri Parasi (Persia), maka barangkali inilah permadaninya. Kepala Jendra pun beralaskan bantal empuk dengan sarung bantal terbuat dari kain sutera paling halus berwarna biru tua. Sementara permadani tebal dan empuk itu berwarna merah dengan paduan warna-warna semarak lainnya.

"Di mana aku?" gumamnya meneliti ke langit-langit yang berwarna biru muda dan  menyegarkan pandangan mata.  "Engkau berada di rumah Nyi Indangwati ..." terdengar jawaban suara halus seorang perempuan. Dengan terkejut Jendra pun melirik ke arah datangnya suara. Memang benar, yang barusan menjawab pertanyaannya itu adalah seorang perempuan cantik dengan mata
bening, hidung mancung kecil dan bibir tipis. Perempuan muda usia sekitar 17 itu memakai
kain kebaya warna nila, begitu pun bagian bawahnya, sama berwarna nila hanya memiliki
corak batik.

"Siapakah engkau, Nyai?" tanya Jendra hendak bangkit, namun badannya terasa lemah tak
bertenaga. "Saya Naimah, pengganti Nyi Indangwati, Kakang ..." sahut gadis mungil itu.
"Nyi Indangwati?" Jendra mengingat-ingat. O, ya. Diakah gadis manis di hutan asing itu,
pikir Jendra. "Mengapa saya ada di sini? Bukankah tadi saya ada di rumah majikan saya?"
tanya Lendra bingung.

"Ah, apalah artinya sebuah tempat. Hidup kita ini sebenarnya tak memiliki sekat-sekat. Hanya
karena keterbatasan diri kita saja maka sepertinya hidup kita dibatasi oleh ruang dan waktu, "
kata gadis itu membuat Jendra bingung menyimaknya.

"Bisakah Nyai terangkan, mengapa saya ada di sini sekarang?" tanya lagi Jendra.
"Itu lantaran jasa Kakang terhadap Nyi Indangwati. Hanya jasa Kakang saja yang
menyebabkan majikan saya selamat tiba di kediamannya, "tutur gadis itu.

Jendra teringat kembali peristiwa beberapa hari lalu. Betapa dia telah membantu merawat luka
panah yang diderita Nyi Indangwati.

"O, ya ... saya sudah kenal dengan Nyi Indangwati," gumam Lendra membayangkan gadis
berkulit langsat berlesung pipit itu. Dan sementara ingat Nyi Indangwati, maka dada Lendra
bergetar aneh.

"Siapakah sebetulnya Nyi Indangwati itu?" gumamnya lagi. Namun kali ini hanya dibalas
dengan tawa cekikikan dari gadis yang menjaga di sampingnya. Sudah barang tentu Jendra
menoleh. Mengapa pertanyaannya dirasa lucu untuk gadis itu?

"Bagaimana tidak lucu, Kakang. Tadi Kakang katakan sudah kenal Nyi Indangwati. Tapi kini
malah tanya lagi? " kata gadis itu kembali tersenyum renyah sambil menutupi mulutnya
dengan punggung tangannya yang mulus.

"Saya hanya tahu namanya saja. Sementara, hal-hal lainnya saya tak tahu ..." gumam Lendra.
"Nyi Indangwati itu putri tunggalnya Sang Prabu Selang Kuning ..." kata gadis bernama Naimah ini.

Jendra terkejut mendengarnya. "Maksud, Nyi Indangwati itu putri seorang raja?" tanya Jendra melirik kembali pada Naimah. Naimah pun mengangguk mengiyakan. "Heran, seingat saya di zaman ini jabatan paling tinggi di daerah hanyalah bupati. Keatasnya, ya Gubernur Jenderal di Batavia sana .... " gumam Lendra lagi.

"Ah ... apalah artinya sebuah jaman. Sudah saya katakan, untuk hal-hal tertentu, kehidupan ini
tak dibatasi ruang dan waktu. Di sini tak ada bupati atau gubernur jenderal. Sebab yang ada
hanyalah penguasa tunggal Pemerintah Pulo Majeti bernama Prabu Selang Kuning, "tutur
Naimah.

"Pulo Majeti? Seingat saya, itu hanyalah sebuah gugusan pulau kecil di tengah rawa, Rawa
onom namanya ... "
"Ssst ... Jangan bilang onom. Juragan Selang Kuning adalah Prabu Anom. Jangan mengganti
kata Anom dengan onom, ya? " cegah Naimah menempelkan telunjuk ke depan mulutnya
yang tipis manis.

"Anom dan bukan onom, ya?" tanya Jendra.
"Iya, sebab onom adalah kata-kata lecehan dari orang Kerajaan Galuh terhadap kami," kata
Naimah.

Jendra mendadak terkejut. Dia teringat kembali pertempuran di sebuah hutan lebat berawa
hari-hari belakangan. Ada jeritan prajurit yang ingin membunuh Prabu Selang Kuning.
"Apakah Pemerintah Pulo Majeti pernah diserbu Pasukan Kerajaan Galuh?" Jendra mendadak
mengajukan pertanyaan seperti itu.

"Ya, bahkan pemerintah kami kerap diserbu tim-tim kecil dari Galuh. Secara diam diam,
mereka inginkan nyawa Sang Prabu. Minggu lalu sudah terjadi lagi penyerbuan dan Nyi
Indangwati yang tengah bermain di taman terkena serangan anak-panah orang Galuh, "kata
Naimah mengepal tinju seperti marah.

Jendra terkejut namun dia hanya berdiam diri saja. Bahu Nyi Indangwati bukan terkena
serangan anak-panah prajurit Galuh tapi oleh anak-panah milik Bendara Wedana dan bukan di
sebuah pertempuran. Ini aneh. Tapi tentu Jendra tak mau mendebatnya.

"Apa yang Nyi Indangwati inginkan dari saya, Nyai?" tanya Jendra memindahkan diskusi.

"Ya, seperti saya katakan tadi. Dia inginkan memberikan tanda terima-kasih."
"Seperti apa?" "Ah, masa saya harus mendahului apa yang akan dikerjakan majikan saya?" potong Nyi Naimah.

Jendra terdiam. "Tidurlah Kakang sebab kau tentu membutuhkan istirahat yang baik," tutur Nyi Naimah. Dan Jendra kembali tertidur sebab matanya mendadak mengantuk. Ketika siuman, Jendra menyebut-nyebut nama Nyi Naimah.

"Naimah ... Naimah ..." gumamnya. Kerongkongannya terasa kering dan maksudnya mau
minta minum pada Nyi Naimah. Namun yang jawab hanya suara parau seorang lelaki.
"Hai, siapakah Naimah itu, Jendra?" tanya suara parau itu. Sedangkan Jendra membuka
matanya, yang tampak adalah wajah Mang Sajum, sesama pegawai di Kewedanaan Rancah.
"Minum ... Minum ..." keluh Jendra sebab kerongkongannya serasa tercekik saking keringnya.

Mang Sajum menyodorkan air putih yang barusan dituangkannya dari sebuah kendi tanah liat.
Jendra minum dengan tergesa-gesa sebab tak sabar akan haus dan dahaga. Namun ketika air
masuk, perutnya terasa pedih dan sakit.

"Pelan-pelan, sebab kau lebih dari seminggu tak makan dan tak minum," kata Mang Sajum.
"Aneh sekali Jendra, ketika kuburmu digali, tak ada jasad kamu," sambung Mang Sajum .
Jendra terkejut dan tersinggung. "Saya kan belum mati. Mengapa musti ada kubur saya, Mang Sajum?" katanya mengerutkan dahi.

"Itulah yang menggemparkan semua orang. Tidak saja di sekitar Rancah sini, tapi pun sampai
ke Kota Ciamis sana ... " tutur Mang Sajum bingung.

"Sepuluh hari lalu kau ditemukan tewas ..."
"Katanya seminggu lalu?"

"Ya. Tapi tiga hari lalu begitu bangun kau pingsan lagi, tiga hari lamanya ..." potong Mang
Sajum. @bersambung

Tidak ada komentar: