Senin, 20 Mei 2013

Umbul Pengging Pesugian para Artis dan Konglomerat


Jurnalis Independen: Banyak tokoh, pejabat, artis, pengusaha, syukuran tumpeng di Umbul Pengging. Bahkan seorang pengusaha dari Solo sampai rela menyumbang dana untuk merenovasi serta membangun bangunan penunjang lain di tempat ini, karena keinginannnya selalu terpenuhi setelah sering ritual di Umbul Pengging.


Kabupaten Boyolali, dulu adalah salah satu wilayah dari bekas atau eks-karesidenan Surakarta. Industri pariwisatanya berkembang pesat seiring dengan laju pembangunan. Salah satu wilayah yang terkenal karena potensi wisatanya adalah Umbul Pengging.
Sebuah tempat wisata di wilayah pinggiran Boyolali, tepatnya di desa Bendan, Pengging, kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah. Namun karena terkenalnya Umbul Pengging, masyarakat setempat sering menyebut desa tersebut dengan desa Pengging.
             Umbul Pengging, dalam bahasa Indonesia berarti mata air pengging, adalah tempat pemandian ritual yang ramai dikunjungi terutama setiap malam Jumat Pahing. Terletak sekitar 25 km ke arah barat dari arah kota Solo.
Apa yang menjadikan tempat wisata tersebut menarik hingga menyedot pengunjung setiap malam Jumat pahingnya? Bahkan banyak pula tokoh masyarakat atau pejabat yang sering mengunjungi tempat ini. “Yah karena memang banyak yang merasa yakin dengan kekuatan dari laku tirakat di tempat pemandian ini,” ungkap Surono.
              Menurut penjaga tempat pemandian ini, sudah banyak orang yang membuktikan jika bertirakat di tempat ini, keinginan orang tersebut banyak yang terkabul. “Saya sendiri juga sering melakukan tirakat di umbul sini, dan buktinya memang banyak masalah hidup atau keinginan dari saya atau keluarga yang terbantu atau terkabulkan,”akunya.
              Prosesi atau ritual di tempat Umbul Pengging cukup mudah. Pengunjung tinggal datang. Lalu membayar tiket tanda masuk seharga 1000 rupiah. Selanjutnya mandi kungkum (berendam) dalam kolam yang disediakan.
Selama berendam itulah cita-cita, keinginan, harapan, atau apa saja yang ingin disampaikan tinggal dipanjatkan. “Biasanya orang yang akan segera terwujud keinginannya, akan menjumpai tanda-tanda atau semacam wangsit dari penunggu kolam ini,” jelas bapak berputra 2 ini.
              Masih menurut bapak ramah ini, tanda-tanda atau wangsit bisa berujud penampakan dari alam sekitar. Beberapa pengunjung sering bercerita padanya, dan mereka rata-rata mengaku seperti didatangi atau melihat ular besar.
Selain itu kadang muncul juga penampakan berujud Truno Lele (ikan lele besar). Semuanya berlainan antara masing-masing pengunjung. Surono sendiri seringnya malah melihat sosok orang tua yang pakaiannya mirip-mirip Pangeran Diponegoro. Namun penampakan-penampakan itu sebetulnya cuma wujud lain dari Kyai Poleng.
Siapakah Kyai Poleng itu? Dia dipercaya oleh sesepuh-sesepuh desa setempat merupakan penunggu gaib dari pemandian Umbul Pengging ini. Sejarahnya memang belum pasti. Mitos atau kepercayaan itu turun-temurun begitu saja. Dari generasi ke generasi mitos tentang Kyai Poleng itu tetap lestari.
Bahkan penjaga sendiri juga kurang begitu tahu siapa kyai poleng. Penjaga cuma mendapat pesan dari kakek serta ayahnya yang dulu juga penjaga pemandian ini untuk meneruskan merawat serta memelihara tempat tinggal Kyai Poleng ini.

Mukjizat Air
Di tempat Umbul Pengging ini sebetulnya ada dua kolam pemandian. Keduanya memang berdampingan. Yang satu bernama Umbul Sungsang, terletak di sebelah barat. Sedang umbul lainnya di sebelah timur bernama Umbul Plempeng.
Masing-masing nama ini ada sejarahnya masing-masing. Menurut bapak yang sudah sejak tahun 1970-an menjaga pemandian ini, dinamakan Umbul Sungsang karena dulu memang di tengah kolam berdiri pohon beringin bernama Ringin Petak. Maka karena air mengelilingi beringin, hingga disebut sungsang.
Namun sejak meletusnya pemberontakan G30S/PKI 1965, entah mengapa pohon beringin itu-tiba-tiba tumbang. Hingga kini nama umbul Sungsang tetap dipertahankan oleh masyarakat sekitar.
                 Untuk Umbul Plempeng, baru terkenal sejak sekitar tahun 1980-an.
“Saat itu dulu air di sini akan diambil (dialirkan), tapi selalu gagal,” ujar Surono.
 Menurutnya saat pengambilan air itu dipasangkan pipa besar dari beton dan besi, pipa itu dalam bahasa  Jawa disebut plumpong atau plempeng.
Air itu rencananya akan dialirkan ke wilayah Panasan, sebuah wilayah yang identik dengan Bandara di pinggiran selatan kota Solo. Namun entah mengapa, proyek itu selalu gagal. Plumpong atau plempeng itu selalu patah dan bocor. Lalu proyek dihentikan.
“Nah sejak saat itulah kami dan warga sekitar menamai kolam yang ini dengan Umbul Plempeng,” ceritanya.
              Di Umbul Sungsang ini terdapat bak kecil di pinggiran kolam, menyatu dengan kolam, hanya dibatasi dengan dinding pendek setinggi 1 meteran. Air dalam bak ini dipercaya oleh pengunjung mempunyai jampi-jampi (daya gaib) untuk macam-macam kepentingan.
Untuk penglaris usaha, penyembuhan penyakit, keharmonisan rumah tangga, dan terutama bisa menjadikan peziarah menjadi kaya. Bisa diminum langsung atau ditaruh ditempat-tempat strategis, seperti kotak uang, warung, took, atau sudut-sudut rumah. “Air dari Umbul Sungsang ini ibarat air Zam Zam seperti mata air di Arab Saudi sana,” kata Surono meyakinkan.
Sangat dipercaya mendatangkan kebaikan bagi yang membawa atau memakainya. Bahkan banyak pengunjung terutama dari wilayah Bali yang jauh-jauh datang ke lokasi hanya untuk mengambil air dari bak ini. Terserah pengunjung mau mengambil berapa saja. Biasanya ada yang memakai botol air mineral, bahkan botol galonanpun juga dibolehkan.
Lain lagi dengan Umbul Plempeng. Di tempat ini ada sebuah pohon kelapa yang menjulang tinggi. Ia tumbuh dari pinggir kolam, lalu menjulang tinggi menjorok ke atas kolam hingga hampir ke sisi seberang kolam.
Aura mistis sudah terlihat dari badan pohon kelapa itu. Beberapa dupa sengaja diselipkan serta dinyalakan di batang pohonnya. Konon buah kelapa dari pohon ini airnya bisa mendatangkan manfaat bagi yang meminumnya.
“Minum air kelapa ini setelah kungkum (berendam) di kolam bisa membuat si peminum jadi enteng jodoh. Juga untuk pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak bertahun-tahun, insya Allah setelah minum air kelapa ini si istri akan cepat mengandung dan melahirkan.”

Syukuran Tumpeng
Lalu apakah setiap pengunjung selalu dikabulkan permintaannya? “Yah semua tergantung dari laku tirakat (prosesi ritual) yang bersangkutan,” ujarnya. Ada yang cepat terkabul namun ada juga yang terkabul namun prosesnya lama.
Biasanya ada semacam standart waktu proses ritual ini. Pengunjung yang belum mendapat wangsit kesuksesan akan mengulang ritual yang sama selama 40 hari berturut -turut.
Terkadang untuk lebih kusyuk atau lebih konsentrasi pengunjung juga melakukan laku puasa. Ia bisa datang kapan saja selama 40 hari berturut-turut. Namun sesuai kebiasaan kebanyakan pengunjung melakukan ritual kungkum di malam hari.
            Selain standart waktu seperti di atas, ada juga patokan yang sering dilakukan pengunjung. Yaitu mereka hanya datang selama waktu ganjil di malam Jumat Pahing berturut-turut. Minimal kedatangan 7 kali. Jadi bisa datang 7 kali, 9 kali, 11 kali, 13 kali, dll. Asal setiap datang di Malam Jumat Pahing.
             Ternyata meskipun tempat pemandian resminya ada di kedua umbul itu, namun banyak pengunjung yang melakukan ritual di kolam-kolam kecil sekitarnya. Atau kadang-kadang di aliran mata air dari kedua kolam itu.
Dan ada pengunjung yang menjadikan tempuran (tempat bertemunya kedua aliran dari sumber berbeda) sebagai tempat favorit berendamnya. Dipercaya di tempat itulah biasanya Kyai Poleng sering muncul menampakkan dirinya.“Kyai Poleng memang bisa saja berkeliaran di sekitar area kedua umbul ini,” terang Surono lagi.
Banyak pengunjung yang setelah merasa permintaannya terkabulkan, ia akan mengucapkan syukur dengan cara mengadakan tumpengan di lokasi Umbul ini. Tumpeng syukuran itu biasanya disertai dengan penyembelihan kambing atau hewan kurban lain. Lalu daging tersebut dibagi-bagikan pada warga sekitar Umbul.
Banyak tokoh, pejabat, artis, pengusaha, yang sering melakukan tumpeng syukuran di Umbul Pengging ini. Bahkan seorang pengusaha dari Solo sampai rela menyumbang dana untuk merenovasi serta membangun bangunan penunjang lain di tempat ini, karena keinginannnya selalu terpenuhi setelah sering ritual di umbul ini.
Tempat ini akan makin ramai jika musim Pilkada (pemilihan kepala daerah) tiba. Saat-saat seperti itu akan banyak calon yang ingin agar dirinya tampil sebagai pemenang. Nah Umbul Pengging inilah sebagai solusi spiritual alternatif selain kampanye tentunya. Kalau tak percaya datang saja ke sini di musim Pilkada, lebih-lebih saat malam Jumat Pahing, nanti di buku tamu, Anda akan tahu siapa tokoh-tokoh yang melakukan ritual di sini,” katanya meyakinkan.@red

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua,
Sengaja ingin menulis sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang kesulitan masalah keuangan
Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar 800juta saya stres hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu dengan ki sholeh pati, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KI SHOLEH PATI kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan penarikan uang gaib 5Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 5M yang saya minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada. Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya sering menyarankan untuk menghubungi KI SHOLEH PATI di 0852-1905-3025 situsnya www.PESUGIHANISLAMI.ye.vc agar di berikan arahan. Toh tidak langsung datang ke jawa timur, saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sama baik, jika ingin seperti saya coba hubungi KI SHOLEH PATI pasti akan di bantu