Senin, 20 Mei 2013

Dendam Korban Pesugihan (9)


Munculnya Pemuda Pengelana Bernama Syarif

Pemuda bernama Syarif ini entah muncul dari mana, yang jelas ia mengaku masih keponakan dari almarhum Bu Dewi istri Pak Cepi. Kemunculan Syarif pemuda pengelana, bertepatan dengan luka parahnya Kyai Abdullah.


Sebenarnya saat pertempuran hidup mati antara Kyai Abdulah dengan mahluk bersisik ular tadi, beberapa warga yang berada di dalam rumah pak Cepi turut menyaksikan. Akan tetapi semua warga seolah hanya melihat pak Kyai berduel sendirian, tak terlihat siapa yang jadi lawan dalam pertempuran dasyat tadi. Hal ini memang wajar dipahami dikarenakan sosok mahluk bersisik ular itu tak bisa dilihat secara kasat mata oleh orang biasa.

     Setelah dirasakan aman, maka semua warga berhamburan ke luar untuk segera menggotong Kyai Abdulah dan membawanya masuk ke dalam rumah. Walau semua pintu dan jendela sudah di kunci, semua warga termasuk keluarga pak Cepi serta tiga orang polisi berpakaian preman terlihat masih tetap merasa ketakutan.

     “waduuuhh . . . , gimana nih kalau mahluk itu datang lagi ? pak Kyai pingsannya lama banget neeehh . . .” sahut Budeg dengan nada suara gemetaran, yang disambut oleh semua warga dengan mimik muka ketakutan, “ho-ohhh . . . , gimana neeeh . . .?”, timpal Jahul dan Pilon serempak.
     “kita berdoa saja semoga mahluk itu gak datang lagi, paling tidak untuk malam ini saja . . . ”, ucap pak Lurah Ono dengan maksud menenangkan warga.

     Malam itu ketika Kyai Abdulah pingsan sehabis bertempur dengan mahluk bersisik ular, merupakan malam yang dirasakan sangat melelahkan bagi semua warga yang dengan terpaksa meronda di dalam rumah, tak satu orangpun yang berani memejamkan mata. Untunglah, hingga pagi tak terjadi apa – apa. Atas inisiatif Lurah Ono, pak Kyai akhirnya diungsikan dan diobati secara bathin di salah satu pondok pesantren desa tetangga yang berlokasi di tapal batas desa Sukro.

     Rasa was – was warga terhadap kondisi Kyai abdulah setelah pertempuran dasyat itu, memang wajar. Karena bagaimanapun juga warga merasa keselamatan dan kenyamanan seluruh warga di desa Sukro benar – benar menggantungkan harapannya kepada Kyai Abdulah dalam hal kasus kejadian aneh di daerahnya. Sudah kurang lebih lima hari tak kunjung ada perubahan yang cukup berarti berkenaan dengan kesehatan pak Kyai, menambah daftar kekhawatiran tentang kenyamanan dan keselamatan warga desa terhadap ancaman si Mahluk bersisik ular. Akan tetapi yang paling sangat merasa ketakutan dan paling merasa terancam keselamatannya adalah keluarga pak Cepi, terutama pak Cepi-nya sendiri.

     Dalam kegamangan rasa takut akan ancaman dari mahluk bersisik ular, secercah harapan muncul saat seorang pemuda bersahaja datang ke desa Sukro. Pemuda itu konon ternyata masih ada ikatan family dengan bu Dewi almarhum istri pak Cepi. Kedatangan pemuda yang bernama Syarif itu sebenarnya hanya sekedar mampir untuk bersilaturahmi dengan keluarga pak Cepi yang sudah lama tak bersua, dikarenakan pemuda Syarif konon lama berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya dan berbagai padepokan silat-pun tak luput di datangi oleh Syarif dengan satu tujuan yakni untuk menimba ilmu.

     Namun oleh keluarga pak Cepi malahan pemuda itu diminta untuk tinggal seterusnya dengan alasan bahwa Syarif merupakan satu – satunya dari keluarga bu Dewi yang bisa merapatkan kembali ikatan tali persaudaraan antara pak Cepi secara pribadi dengan pihak keluarga besar bu Dewi.
    
“saya mohon Syarif mau tinggal di rumah ini selamanya. Karena sejak saya berumah tangga dengan Dewi, keluarga besar Dewi seolah menjauhi bahkan terkesan memusuhi saya. Padahal saya merasa tidak pernah menelantarkan Dewi dan kedua anak saya ini”, ucap pak Cepi sambil tangan kanannya menunjuk kepada dua anak gadisnya yang bernama Liza dan Mezia.Kemudian tak lama pak Cepi-pun memerintahkan kepada dua anak gadisnya untuk meningggalkan ruangan, dengan alasan karena ada obrolan penting dirinya dengan Syarif yang tidak boleh diketahui oleh anak-anaknya. Mezia dan Lezi-pun menuruti kehendak bapaknya untuk segera meninggalkan mereka berdua di ruang tengah keluarga. Dua anak gadisnya sejak meninggalnya bu Dewi, mereka berdua tidur di satu kamar yang sama, yakni tidur bareng di kamar Mezia.

     “ya .ya .ya . . , saya bersedia tinggal disini. Tapi kalau om Cepi tidak keberatan, saya ingin tahu dengan pasti dan jelas dari mulut om berkenaan kronologis kematian tante Dewi, karena yang saya dengar diluaran isyu-nya simpang siur”, ucap Syarif dengan tatapan mata penuh selidik.

     Mendengar jawaban Syarif seperti itu, tak ayal membuat kaget pak Cepi.Sejenak pak Cepi-pun menghela nafas panjang, seolah melepaskan beban yang selama ini menggumpal di dalam hatinya. Dengan berurai air mata, pak Cepi mulai bercerita kepada Syarif, bahwa sebenarnya kekayaannya yang selama ini diperoleh, di dapat dengan cara Mujas Medi alias Ngipri.

     “saya gak tahan menanggung hidup sengsara, sementara saya begitu sangat mencintai Dewi dan anak – anakku. Dulu untuk makan saja susah banget. Karena mungkin gak tahan hidup sengsara, pernah suatu hari Dewi minta cerai dan akan membawa kedua anaknya untuk tinggal bersama orang tuanya Dewi”, sambil masih sesenggukan menangis, pak Cepi dengan terbata – bata melanjutkan kisah petualangannya melakoni Mujas Medi alias Ngipri.

“tempatnya diatas bukit yang berlokasi di perbatasan desa ini. Saya lakoni ritual ‘Kawin Goib’ dengan ‘Putri dari Keraton Kerajaan Ular’. Dan setiap satu tahun sekali saya diwajibkan memberi ‘Wadal alias Tumbal atau Korban’ kepada Siluman Raja Ular yang berdiam di atas bukit itu. Dan untuk tahun ini, saya lupa untuk memberikan Tumbal, makanya salah satu dari keluargaku ada yang ‘di ambil’ sebagai pengganti Tumbal-nya. Saya sekarang betul – betul menyesal dan ingin taubat . hik . hik . .’”, demikian pengakuan polos yang dilontarkan pak Cepi kepada Syarif yang diiringi tangisan penyesalan.@tamat

1 komentar:

H.ISKANDAR mengatakan...

بسم الله الحمن الرحيم
TERIMAKASIH KPD MBAH RUDUMAN YG TELAH MEMBANTU KAMI SEKELUARGA. ATAS BANTUAN PESUGIHAN 3HARI DARI MBAH RUDUMAN SEKARANG HIDUP KAMI SUDAH BERUBAH YG DULUNYA SUSAH TERLILIT HUTANG.
SEKARANG KAMI SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTANG-HUTANG KAMI DI BANK BRI YG JUMLAHNYA 750JT DAN SISANYA AKAN KAMI BELIKAN RUMAH,MOBIL DAN MODAL USAHA.
TEMAN-TEMAN YG DALAM KESULITAN HUB MBAH RUDUMAN DI NOMOR 08979523567
RITUAL INI AMAN TANPA TUMBAL SUMPAH DEMI ALLAH SAYA SUDAH MEMBUKTIKANNYA.
KAMI SEKELUARGA MENUCAPKAN BANYAK TERIMAKASIH KPD MBAH RUDUMAN.