Kamis, 23 Mei 2013

Fahri Hamzah: Media Tempo Pemfitnah


Jurnalis Independen: Fahri Hamzah menulis ini tiga hari lalu. Fahri Hamzah berteriak keras menghujat tempo yang mencari makan dengan memfitnah orang lain lewat berita-beritanya yang tendensius alias ingin menghancurkan PKS dan kader-kadernya.


Berikut tulisan asli Fahri Hamzah yang disalin dari tweternya.

Teganya TEMPO mencari makan dengan memfitnah orang...apa sanggup kalian makan bangkai?

Tadi pagi karena TEMPO masuk meja kerja saya, saya baca sekilas...isinya fitnah hampir semua..

TEMPO nampaknya mendapat bocoran lanjutan hari ini...dari mana? Darimana lagi...?

TEMPO berusaha memfitnah PKS dengan cara yg sangat kasar...sangat tdk enak dan tidak perlu...

Kami akan tahan dengan fitnah kalian..tapi kalian tak akan tahan dengan perasaan berdosa..

Tak perlu kita bicara agama, karena dosa kalian pada etika jurnalisme pun pasti membuat kalian tersisih...

Dalam agama, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan dan kalian membunuh dengan cara yg sadis...

Sadisme jurnalisme TEMPO memprihatinkan..saya yakin gunawan muhammad yg mem-blokir saya mulai tua dan sentimentil..

Kita tak bisa lagi berdiskusi secara intelek sebab hak untuk didengar telah ia matikan...

Orang2 ini memang sinis sekaligus cemburu pada kami yang memakai sarung karena partai kami lebih eksis dari mereka...

Mulailah mereka berkampanye agar kami ditinggal dan agar kami dinista...tapi media beginian tinggal menghitung hari..

TEMPO mengirim anak2 muda yang mengaku kaderku sekedar untuk mendapat konfirmasi..ini mereka sebut hak jawab...

Aku bilang, bagaimana mengkonfirmasi plot yang sudah ditulis tuntas? Dan ia pergi..

TEMPO memang korban industri media yg dibuka. Dulu dia menikmati eksklusifitas ijin yg terbatas...

Sekarang TEMPO hampir kalah. Industri ini saling mematikan..ada social media lagi...

TEMPO terpaksa menjadi majalah dan koran Gossip...sensasi lebih penting dari substansi...

Jurnalismenya minim sastra kejujuran. Menghasut bagian dari pilihan dan berdusta hanya jadi bagian dari..salah kutip rutin..

Seperti kita menitipkan Demokrasi para partai politik. .kita juga menitipkannya pada media...

Seperti kita ingin parpol berbenah kita juga berharapa media berbenah...media adalah kekuatan penting dlm demokrasi.

TEMPO harusnya jadi contoh karena sejarahnya yg panjang...tapi sudah melenceng...

Saya tahu orang2 TEMPO gak akan baca tulisan saya karena mereka mem-block saya...

Semoga ada yang bisa menyampaikan...terutama ke mas gun...yang dulu saya kagumi...end

Telat baca Tempo, rupanya Anis Matta jadi koruptor ya di edisi minggu ini? Minggu depan siapa? Mahfudz Sidik? Gue harus bilang wow?

Niatku baca Tempo itu mau ngecek hasil wawancara Ka Bin. Ternyata topik utamanya soal PKS. Hmmm

Menilai sikap resmi redaksi media idealnya tidak dari beritanya. Sebab berita jurnalistik itu idealnya imparsial, netral.

Berita harus fair, pasti didasari kode etik jurnalistik. Nah Sikap, analisa atau pandangan redaksi diberi porsi sendiri.

Di setiap media ada tajuk rencana atau editorial. Inilah sikap redaksi. Bukan news. Di Tempo itu ada rubrik yang dijuduli #opini.

Editorial atau yang di Tempo disebut #opini itu bebas mau pakai kalimat apapun. Sekali lagi, itu bukan berita. Itu sikap redaksi.

Bolehkan #opini redaksi dibuat tidak berdasar fakta? yaa, namanya juga opini, suka suka dong. Camkan, #opini bukan berita.

Sila baca dulu #opini Tempo hari ini. Judulnya Pat Gulipat Partai Dakwah. Biasakan membaca langsung dari sumber pertama. Beli dong.

Sudah baca? Oke, ini saya kutip beberapa kalimat di #opini Tempo pekan ini. Lalu kita komentari di bawahnya.

Asyik lho kalau jadi konsumen kritis. Tapi kalau udah terlanjur ada hate ya love nya nggak bisa muncul sih. Wajar kok.

“STORI tentang Ahmad Fathanah dan Partai Keadilan Sejahtera adalah cerita tentang politik buruk rupa.” Kutipan opening #opini Tempo.

Komentar: #opini ditulis AF dan PKS sebagai satu kesatuan. Seakan semua aksi PKS adalah buruk rupa. Benarkah begitu tweps?

“Politik yang tak ditujukan untuk kemaslahatan orang ramai, tapi menghamba pada urusan perut dan bawah perut” Kutipan #opini Tempo.

Komentar: aku tanya aja ke kader PKS di TL ku, Benarkah aksi kalian utk menghamba perut dan kelamin? Jawab!!

Karena di logika #opini Tempo, Fathanah = PKS maka, aksi bawah perut Fathanah = aksi partai. Pembaca diarahkan secara halus?

“Ditangkap bersama seorang perempuan tak jelas pada akhir Januari lalu, Fathanah "ikon aib" partai dakwah” Kutipan #opini Tempo.

Komentar: perempuan itu namanya Maharani Suciyono. Mahasiswi. Apa maksud “tak jelas”? pelecehan? katanya pro ham.

“Aksi Fathanah disangkal petinggi PKS. Politik amputasi ini terkesan strategis meski sesungguhnya amatiran.” Kutipan #opini Tempo.

Komentar : AF yang mengaku sendiri di depan hakim bukan kader PKS. *lgsng dijawab haters: ah nggaakk percayaa *

“Yudi Setiawan, sang pembocor. Ia tersangka kasus pengadaan alat peraga pendidikan d Kbupaten Barito Kuala.” Kutipan #opini Tempo.

Komentar: kali ini Tempo juga nulis soal Yudi sebagai pembanding. Dulu saat dekat pilgub Jabar Yudi jg > http://chirpstory.com/li/56843

“Jauh sebelum ditangkap, Yudi membobol banyak proyek pemerintah, ditengarai dengan BANTUAN Fathanah dan Luthfi.” Kutipan #opini Tempo.

Komentar: Oh ya ? Mari kita lihat kasus apa yang dibobol Yudi dan kapan tanggalnya.

Yudi membobol Bank Jatim Rp 52 Miliar pada 2005. Ini bukan #opini, link berita sidangnya >> http://www.koranmadura.com/2013/02/11/hari-ini-korupsi-bank-jatim-disidangkan/ …

Yudi mengkorupsi proyek Dinas pendidikan Barito pada 2011. Ini bukan #opini, link beritanya >> http://regional.kompas.com/read/2012/10/22/0020265/Yudi.Setiawan.Masih.Ditahan …

Kapan Yudi mengenal Fathanah dan Luthfi? Ada jawabannya di segmen wawancara Tempo dan Yudi, di majalah yg sama.

Saat ditanya wartawan Tempo, kapan Anda mengenal Fathanah? Yudi menjawab: 13 Juni 2012. Jreeeng.

Sejak kapan anda komunikasi dengan petinggi PKS? Jawab Yudi: Saya dikenalkan dg Luthfi Hasan 16 Juni 2012. Jreeng.

Tanya : Bagaimana Fathanah dan Luthfi yg baru kenal 2012 bisa bantu Yudi bobol bank tahun 2005 dan 2011. Maafkan IQ saya .

Atau ini semacam Yudi memiliki mesin waktu, jadi kenalnya di masa depan tapi di masa lalu sudah ketemu? Hehe..

“Yudi mengajukan proposal, yang lain memuluskan dengan mengatur anggaran”. Kutipan #opini Tempo.

Komentar : di segmen wawancara Tempo dan Yudi jelas sekali siapa yang berinisiatif mencari duit.

Fathanah si makelar dibawa Deni Adiningrat untuk kenalan dengan Yudi. Itu pengakuan Yudi pada Tempo.

Ditanya Tempo : Buat apa Fathanah mengenalkan Anda ke Luthfi?

Yudi : karena Deni dan Elda kalah terus dlm lelang proyek jagung.mereka sdh kasih ratusan ribu dolar ke pejabat kementrian.

Masih Yudi : Dari situ saya berpikir siapa selain Menteri Suswono yg mengendalikan kementrian. lalu ketemu fathanah.

Darisana jelas alurnya : Pengusaha gagal lelang, ketemu makelar alias calo. Si Fathanah yg palugada : apa lu mau gua ada.

Hebat ya Suswono, anak buahnya disuap Elda ratusan ribu dolar tapi lelang tetap fair. Usut tuh siapa yg dikasih Elda dolar ?! (#upss)

“Keterlibatan Luthfi dan Anis Matta menunjukan perkara AF bkn sekadar mslah "oknum", melainkan organisasi” Kutipan #opini Tempo.

Komentar :Ya, itu mau anda sih Om. PKS mau bantah sekuat apapun bukti-buktinya,anda boleh nulis gitu kok. Kan #opini bkn berita.

“Diskusi pembubaran partai yang terbukti melakukan kejahatan korporasi selayaknya dilanjutkan” Kutipan #opini Tempo.

Komentar : klop sudah, #opini Tempo segendang sepenarian dengan komentar –komentar yang se fikrah. Lsm apa ya yg juga komen gitu?

“Partai yg scr organisatoris lancung adlh partai yg menyelewengkan perannya sbg penyalur aspirasi org bnyk.” Kutipan #opini Tempo.

Komentar : Ndak papa, itu versi #opini redaksi Tempo kok. Kader PKS kan nggak cuma dinilai oleh Tempo.

Aku tanya lagi : Apakah penilaian manusia yang kau cari wahai kader? Jawab !! Jujur !

Nggak usah sedih kalau aksi-aksi pelayanan, dakwah tetangga, generasi muda, dll disebut lancung. Aksimu toh nyata bukan #opini.

Kalau aksi-aksi harian PKS tidak ada di media, yo ra sah mutung. Setidaknya di web piyungan masih ada beritanya. #eh

Itu aja yo komentarku soal #opini Tempo. bukan beritanya lho ya. mas @wisat @jonru atau @SetiaLesmana. Monggo ditambahi.

Mari sama sama kita tunggu sasaran dan peluru berikutnya dengan merawat akal sehat, IQ dan hati bening. Nuwun.@Fahrihamzah


Tidak ada komentar: