Selasa, 09 April 2013

Prabu Sitawaka Gilingaya Persembahan Kepala Kerbau Tundukan Gaib Hitam dan Kuasai Alam


Sesaji ini dilakukan untuk para siluman, jin, genderuwo, peri dan mahkluk gaib lainya. Semua itu dilakukan demi menjaga keseimbangan seluruh mahkluk hidup di alam semesta.


Manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan harus menyadari betapa pentingnya keselarasan hidup di alam semesta. Keselarasan sudah menjadi  kodrat Gusti Kang Murbeng Dumadi. Segala perilaku di alam semesta harus ada keseimbangan yang di tentukan oleh alam. Kebaikan akan ada keburukan sebagai penyeimbang, sebaliknya juga demikian. Kodrat seperti ini menjadi satu keseimbangan yang harus ada di dalam kehidupan alam semesta. Suatu kebaikan yang berlebihan tak akan mungkin menjadikan kebaikan tersebut akan semakin lebih baik. Begitu pula dengan keburukan, suatu keburukan yang berlebihan juga akan mengakibatan retaknya kebaikan keseimbangan alam semesta.

Karena yang dipandang buruk bagi manusia, belum tentu buruk bagi mahkluk hidup lainya. Sebab itu, keseimbangan alam ini harus terus terjaga selama hayat dikandung badan. Tanpa terkecuali antara keburukan dan kebaikan yang ada di dalam dunia gaib. Sifat jin hitam dan jin putih dalam dunia gaib juga sangat mempengaruhi perilaku manusia dalam kehidupan. Untuk itulah tempat tempat yang dianggap keramat dan hitam dalam dunia gaib tetap harus kita jaga keselarasannya. Harapanya agar manusia terlepas dari bencana pagebluk yang datangnya dari para gaib jin hitam.

Berbagai tradisi adat budaya jawa kuno salah satunya bermakna menjaga keselarasan tersebut. Tempat-tempat sakral dan keramat yang di huni para jin, siluman, demit, genderuwo peri, banaspati dan mahkluk hitam lainya agar tak menggangu kehidupan alam semesta maka dilakukan sesaji atau penumbalan. Dalam hal ini biasanya dengan kepala kerbau. Dan dilakukan di karaton Betari Durga.

Penumbalan sesaji kepala kerbau di hutan krendawahana ini merupakan sesaji yang di persembahkan kepada Batari Kalayuwati, putri Batari Durga yang mendiami alas Krendawahono,” jelas KP. Winarno kusumo, wakil Pengageng Sasana Wilopo Karaton Surakarta.

Berbagi macam sesaji di persembahkan pada saat upacara ritual kuno di alas Krendowahono. Hal itu dilakukan demi menjaga keselarasan antara jin, siluman dan umat manusia. Hutan Krendawahono di kenal sebagai salah satu tempat paling angker di tanah jawa. Selain salah satu dari empat pancer di tanah Jawa,  keberadaan para penunggu hutan krendawahono konon merupakan raksasa lelembut, jin, siluman dan mahkluk gaib lainya yang sangat menyeramkan.

Menurut KP.Winarno, berbagai macam sesaji yang dipersembahkan di alas Krendawahono diantaranya pakan setan, jajan pasar, ayam ingkung , ikan lele, satu kepala kerbau. Selain itu, empat kaki kerbau serta rangkaian daging kerbau yang telah di masak dalam berbagai rupa juga menjadi sajian bangsa jin. Dupa kemenyan, wewangian dan arak ciu yang disiramkan ke semua daging sesaji menjadi prasyarat sebelum disantap bangsa siluman Krendawahono. Dari beberapa sesaji yang pasti dan harus ada yaitu bunga matahari, dan Kutu Walang Atogo.

Bunga Matahari yang dihias menyerupai bentuk asli matahari yang tengah bersinar memiliki makna yang melambangkan kembalinya ke kehidupan kepada Sang Maha Kuasa. Mekarnya membawa kehidupan bagi umat manusia, namun setelah layu biji biji yang di bawa oleh bunga matahari akan berjatuhan ketanah. Namun setelah itu, bunga matahari akan tumbuh lagi dan berkembang seperti dalam kehidupan umat manusia di dunia.

Sedangkan Kutu Walang Atogo sejenis belalang yang dulu sering di pakai sebagai sesajian, tetapi  kini sudah sangat jarang sekali di jumpai. Pada jaman dahulu Kutu Kutu Walang Atogo  di persembahkan oleh para penduduk kerajaan kepada raja sebagai bakti wujud rasa syukur terhadap kepemimpinan sang raja yang telah mengayomi seluruh rakyat. Beberapa persembahan bakti tersebut salah satunya adalah kutu kutu Walang Atogo. Terang Wakil Pengageng Sasono Wilopo.

Masih menurut Kanjeng Win, hampir seluruh sesaji yang dipersembahkan di hutan krendawahono adalah daging mentah. Ikan lele yang berada di dalam wadah kendil yang terbuat dari tanah liat serta daging ayam seluruhnya mentah. Setiap satu sesaji daging mentah disiram dengan menggunakan arak ciu agar tak menimbulkan bau amis. Tak terkecuali kepala kerbau yang masih utuh juga di siram dengan menggunakan arak ciu. Persembahan sesaji yang telah dilakukan sejak ribuan tahun silam merupakan satu keharusan bagi manusia. Hal itu dilakukan untuk menghormati dan menghargai seluruh mahkluk ciptaan Tuhan. Tentu dengan tujuan agar terjadi keselaran dan menjaga keharmonisan jagad raya.

Seluruh sesaji biasanya diletakan di atas altar batu. Altar berada di bawah pohon besar yang telah berusia ratusan tahun. Pada saat di persembahkan kepada penguasa hutan krendawahono harus jangkep ( lengkap ). Tidak boleh ada yang tercecer atau tertinggal satupun. Tetapi yang paling utama dalam ritual ini adalah sesaji kepala kerbau Mahesa Lawung. Kerbau Mahesa Lawung adalah kerbau jantan yang masih liar. Konon pada jaman dulu setiap kali melakukan sesaji di Krendawahono terdapat  salah satu sesaji berupa daging manusia.

Keberadaan hutan Krendawahono yang terkenal sangat angker dan keramat tak lagi bisa dipungkiri. Hutan ini di kenal dengan julukan jalmo moro jalmo mati. Siapapun  manusia yang datang ketempat ini, pasti akan mati. Para siluman gaib penunggu hutan Krendawahono bahkan difungsikan sebagai pagar bagi karaton di tiap tiap gapura perbatasan seluruh karaton di Jawa. Tak terkecualai empat gapura pintu masuk keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 

Seluruh kekuatan para siluman juga di pergunakan untuk menjaga Lawang Gapit atau   pintu masuk karaton. Konon kekuatan para siluman mahkluk gaib yang berasal dari Alas Krendawahono mampu menetralisir kekuatan jahat yang hendak di bawa masuk oleh manusia maupun gaib dari luar keraton. Bahkan kekuatan para siluman ini juga dipergunakan untuk menjaga pintu Gerbang Gapit  dan Arca Gupala di dalam lingkungan keraton Surakarta.  

Tak sembarang orang berani memasuki hutan krendawahono. Hanya mereka yang ingin menjalani laku dan sesaji saja yang berani datang di malam hari untuk ritual.

Bismilahhirohmanirohim sluman slumun slamet slamet kersaning Allah sengkolo-sengkolo podo nyingkiro jatu’ kramaku cepakno  lailahahilallah teguh rahayu – rahayu. “Itu merupakan kata kunci untuk masuk hutan Krendawahono”, kata jurukunci Krendawahono.

Mantera ini di anjurkan di baca pada saat hendak memasuki hutan krendawahono agar tak terjadi hal hal yang tak di inginkan. Mantera yang diajarkan oleh sang juru kunci menjadi satu keharusan bagi para pelaku ritual pada saat mereka hendak menjalani laku di alas krendawahono.

Menurut Kanjeng Pangeran Winarno kusumo, penunggu hutan krendowahono adalah eyang Batari Durga, sosok wujudnya pada saat penampakan memakai kebaya warna ungu terong dan nyamping ( jarik) motif parang rusak berambut panjang. Betari Durga merupakan ibu dari Betari kKlayuwati penguasa krendawahono. Konon menurut cerita, Betari Durga merupakan ratu dari seluruh raksasa bangsa lelembut yang ada di alam semesta ini. wujudnya berubah menjadi dewi welas asih setelah di ruwat oleh sadewa, ksatria pandawa.

Lantaran itu demi menjaga keselarasan antara yang putih dan yang hitam, para leluhur terdahulu sudah melakukan upacara sesaji di Krendawahono. Upacara sesembahan yang sudah di lakukan sejak jaman Prabu Sitawaka dari Gilingaya pada jaman  kuno hingga sekarang ini masih terus berlanjut demi keseimbangan alam semesta. Upacara tradisi ini di gelar pertama kali setelah kerajaan Gilingaya di terpa berbagai pagebluk yang menyebabkan kerajaan lumpuh. Brahmana Radhi yang menjadi utusan Prabu Sitawaka mencari jalan keluar untuk mengatasi pagebluk ini. Maka di lakukakan penumbalan sesaji pada tahun 387 yang di tandai dengan Candra Sengkala Pujaning Brahmana Guna.

Setelah dilakukan ritual persembahan sesaji oleh Brahmana Radhi, seluruh pagebluk yang menimpa kerajaan dan penduduk Gilingaya sirna seketika. Tradisi ini akhirnya berlanjut hingga pada masa Majapahit, Demak hingga Mataram Islam di tanah Jawa. Karena itu, rangkaian doa yang dipanjatkan saat sesaji dilakukan, menggunakan tiga doa dari tiga keyakinan. Yaitu,  Budha, Jawa dan Arab. Upacara sesaji ini sudah dilakukan sebelum masuknya seluruh agama di tanah Jawa. Jelasnya.

Selain sosok wujud Eyang Betari Durga, kadang terlihat sosok gaib lainya yang berwujud laki laki berjenggot panjang mengenakan pakaian serba putih. Penampakan ini sering kali terlihat jika hendak memberi pesan atau wisik kepada sang Juru kunci. Tak jarang berbagai sosok gaib lain juga tampak sering terlihat para pelaku ritual saat mereka menggelar laku spiritual”.tegas Darsono, Juru kunci Krendawahono.

Upacara sesaji penumbalan kepala kerbau di Alas Krendawahono tak hanya dilakukan oleh Keraton Kasunanan Surakarta saja. Masyarakat di sekitar Alas Krendawahana juga melakukan hal yang sama apabila akan melakukan hajatan. Meski tak sekomplit sesaji keraton, namun upacara ini bagi penduduk sekitar harus dilakukan agar tak terkena sengkolo saat hajatan di lakukan”, jelas Darsono.

Darsono menambahkan, sesaji tersebut di persembahkan dengan harapan agar para leluhur yang menjadi lantaran dari Sang Maha Pencipta  memberikan perlindungan dan  keselamatan pada saat upacara hajatan tengah berlangsung. Nasib yang berbeda akan datang apabila penduduk yang tak mempercayai tradisi ini nekad tidak melakukan upacara sesaji di Krendawahono.

Berbagai kejadian pernah menimpa beberapa warga desa yang tak mengindahkan anjuran ini. Salah satu contoh, saat menggelar hajatan pernikahan, temanten putri tiba-tiba menderita sakit ingatan. Bahkan berlanjut menjadi gila. Semua ini dikarenakan si empunya hajat dan warga sekitar melupakan persembahan sesaji kepada para leluhur. Dan penghuni Alas Krendawahono murka hingga mengakibatkan mempelai wanita menjadi gila”, papar Sang Juru Kunci menceritakan

Upacara sesaji yang dilakukan tiap bulan Rabiul Akhir ini tak hanya di datangi para abdi dalem dan kerabat karaton Solo saja. Beberapa praktisi spiritual dari Surabaya dan kota besar lainya juga turut mengikuti jalanya upacara penumbalan.

Tempat ini menjadi salah satu pancer tanah Jawa yang sangat angker dan dikeramatkan. Penumbalan ini sebagai salah satu cara agar jin dan siluman hitam lainya yang ada di tanah Jawa tak membuat gonjang ganjing jagad dan alam semesta. Untuk itulah penumbalan ini harus terus di lakukan”, tegas Santosa, spiritual sekaligus pematung yang berasal dari Surabaya. @ Judiantoro

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
agar di berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur,
saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik,
jika ingin seperti saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau