Selasa, 16 April 2013

Kopassus! Semoga Panjang Umur Jaya NKRI


Jurnalis Independen: Komando Pasukan Khusus (Kopassus) hari ini berulang tahun. Serentetan prestasi dan catatan kelam menghiasi lembar kehidupan korps elit TNI itu. Di balik kisah kehebatan Kopassus, ada satu nama prajurit yang loyalitas dan semangat tempurnya banyak dikenang jenderal-jenderal Kopassus.


Serpihan Cerita Menarik di Setiap Palagan Operasi.
12 Maret 1958, satu kompi pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ditugaskan merebut Pekanbaru, Riau. Saat itu Sumatera telah bergolak. Sebagian daerah yang tak puas pada pemerintah Jakarta mendirikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Maka Jakarta membalas aksi PRRI dengan operasi militer. Mereka mengirimkan pasukan untuk menguasai Sumatera dari para kolonel pembangkang.

Kompi A RPKAD dipimpin Lettu Benny Moerdani. Mereka diberangkatkan dari Pangkal Pinang dengan pesawat Dakota untuk terjun di daerah landasan udara Simpang Tiga. Tugas mereka merebut landasan itu agar pesawat Angkatan Udara bisa segera mendarat membawa perbekalan dan pasukan tambahan.

Walau memimpin pasukan terjun, Benny Moerdani belum pernah terjun payung sebelumnya. Ketika RPKAD mengadakan latihan terjun, Benny sedang sakit.

Tapi Benny tak takut, dia hanya berpesan kalau ragu-ragu agar didorong saja keluar dari pesawat. Soal penerjunan pertama ini ditulis Julius Pour dalam buku Benny Tragedi Seorang Loyalis yang diterbitkan KAta.

Informasi intelijen menyebutkan Simpang Tiga dan Pekanbaru dijaga 800 tentara PRRI. Tentunya risiko penerjunan besar sekali, mendarat tepat di jantung musuh.

Benny dan pasukan terjun serta mendarat mulus. Walau tak pernah terjun, Benny bisa mendarat dengan baik.

Para pemberontak tak mengira pasukan dari Jakarta telah mendarat. Begitu melihat RPKAD yang datang, mereka ambil langkah seribu. Sama sekali tak berani melakukan perlawanan. Pasukan PRRI begitu saja meninggalkan peralatan perang dan bantuan dari Amerika Serikat yang baru dikumpulkan di landasan.

Saat itulah Letnan II Dading Kalbuadi, rekan Benny, menendang sebuah peti kayu. Perwira muda RPKAD itu terkejut setengah mati melihat isinya.

"Wah duit, Ben! Uang, gimana ini?" kata Dading.

"Sudahlah jangan kau hiraukan. Tinggalkan saja, nanti kamu mati," kata Benny.

Selain uang, pasukan baret merah itu dikejutkan dengan persenjataan para pemberontak yang ditinggalkan. Jumlahnya melimpah. Semuanya senjata modern, bahkan ada bazooka. TNI sama sekali belum memiliki senjata-senjata secanggih itu.

Walau menerima bantuan senjata dari asing, rupanya PRRI tak punya semangat juang yang tinggi. Setelah Pekanbaru, berikutnya TNI bisa merebut Padang, Jambi, Medan, Jambi dan daerah-daerah yang dikuasai pemberontak.

Seorang bintara pensiunan baret merah, Peltu Nadi (86) berkisah soal perebutan Sumatera pada merdeka.com. Dia membenarkan memang perlawanan PRRI tak begitu berat.

"Mereka punya senjata lebih canggih, tapi semangat bertempur lemah. Apalagi kalau sudah mendengar harus berhadapan dengan RPKAD. Sengaja juga dibuat kabar RPKAD yang diterjunkan satu batalyon. Padahal satu kompi pun tak ada. darimana jumlah satu batalyon? Jika dikumpulkan juga paling-paling cuma dua kompi," kenang Nadi sambil tertawa.

Benny Moerdani kelak menjadi Panglima ABRI dengan pangkat jenderal bintang empat. Dia menjadi salah satu tokoh legendaris ABRI di masa orde baru.

Pertempuran seru Kopassus dan pasukan elit Inggris di Kalimantan
Hari ini Komando Pasukan Khusus TNI AD berulang tahun. Banyak cerita menarik seputar operasi militer dan sejarah pasukan elit ini.

Tahun 1963 Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia. Presiden Soekarno memerintahkan Panglima TNI menggelar Operasi Dwikora untuk menggagalkan pembentukan negara Malaysia.

Tidak ada pernyataan perang resmi seperti saat operasi militer Trikora merebut Irian Barat. Karena itu TNI tidak mengirim pasukan secara terbuka. Mereka mengirim gerilyawan-gerilyawan untuk membantu Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang berperang melawan pemerintah Malaysia.

Walau disebut gerilyawan, sebagian besar anggotanya justru pasukan elit TNI. Seperti Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang disebut Kopassus. Selain itu ada juga Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dari TNI AU. Seragam TNI diganti dengan seragam hijau TNKU. Identitas mereka pun dipalsukan untuk menghapus jejak keterlibatan Indonesia.

"Semua identitas TNI dicabut. Jangan sampai ketahuan kami pasukan TNI. Kami dibuatkan identitas baru, pokoknya kelahiran Kalimantan. Pakaian TNKU hijau-hijau dengan topi rimba," kata Nadi, seorang bintara mantan anggota RPKAD saat berbincang dengan merdeka.com.

Tugas gerilyawan ini mengganggu perbatasan di sepanjang Sabah dan Serawak. Mereka juga bertugas melatih warga Kalimantan Utara tata cara bertempur.

Pasukan Malaysia yang terdesak kemudian meminta bantuan Inggris. Tidak tanggung-tanggung Inggris langsung mengirim sekitar satu batalyon pasukan komando Special Air Services (SAS). Inilah pasukan elite terbaik Inggris yang reputasinya melegenda ke seluruh dunia. Inggris juga mengirim pasukan Gurkha dan SAS tambahan dari Selandia baru dan Malaysia.

Komandan Pasukan Inggris di Malaya, Mayor Jenderal Walter Walker merasa perlu mendatangkan SAS karena merasa hanya pasukan elite ini yang bisa membendung pasukan gerilya asal Indonesia. Walker tak mau jatuh korban lebih banyak di kalangan Inggris.

Pertempuran antara SAS dan Gurkha melawan gerilyawan TNKU berlangsung seru. Lebatnya rimba Kalimantan menjadi saksi pertempuran yang tak pernah diberitakan media tersebut. Kadang pasukan Inggris mengalahkan gerilyawan TNKU dalam pertempuran. Kadang gerilyawan TNKU yang memukul pasukan SAS dan Gurkha. Sulit untuk mencatat secara pasti data-data pertempuran.

Dalam sebuah pertempuran di Kampung Sakilkilo tanggal 10 Juli 1964, tercatat TNKU meraih kemenangan. Saat itu dua peleton Gurkha melawan satu peleton TNKU. Dalam serangan tersebut, TNKU berhasil menewaskan 20 orang Gurkha tanpa satu pun korban jatuh di pasukan gerilyawan.

Dalam sebuah misi yang lain, kepala Komandan Pasukan Gerilya Mayor Benny Moerdani sempat dibidik penembak jitu SAS. Untungnya SAS tak jadi melakukan tembakan. Kalau gugur di Serawak, tentu Benny kemudian tak akan jadi Panglima ABRI di kemudian hari.

Pasukan Indonesia pun sempat menangkap prajurit SAS dalam sebuah pertempuran. Rencananya tawanan ini akan dibawa ke Jakarta sebagai bukti ada keterlibatan Inggris. Namun karena sulitnya medan, tawanan ini keburu tewas di jalan.

Dari pertempuran di Kalimantan ini pula kemudian SAS belajar mengembangkan taktik gerilya bertempur di hutan. Kalau tak pernah berhadapan dengan pasukan elit Indonesia, mereka tak akan punya taktik ini.

Dia adalah Agus Hernoto, prajurit yang harus kehilangan kakinya dalam medan tempur. Buku-buku biografi jenderal-jenderal lulusan Kopassus sering menyebut kehebatan Agus Hernoto. Dua di antaranya yang mengakui Agus Hernoto adalah Brigjen (purn) Sintong Panjaitan dan Letjen (purn) Kiki Syahnakri.

"Timbul kekaguman pada jiwa heroik dan karakter keprajuritannya yang patut diteladani para prajurit muda TNI," demikian ungkap Letjen Kiki Syahnakri yang kenal baik dengan Agus saat operasi di Timor Timur.

Asal Usul Pasukan Elit dan Lima Kehebatan Kopassus
Agus Hernoto adalah seorang veteran Operasi Trikora yang sarat pengalaman tempur. Dia mengalami cacat seumur hidup setelah kakinya diamputasi karena tertembak dalam kontak senjata dengan Belanda di Merauke, Irian Barat. Kariernya dimulai sebagai prajurit Kopassus (saat itu RPKAD) berpangkat bintara. Dia mengajukan diri ketika Benny Moerdani bertanya siapa yang siap ikut dalam pembebasan Irian Barat.

Pada Operasi Benteng Ketaton di Irian, dropping pasukan terjun payung dilaksanakan dengan sasaran sebelah utara kota Fak-Fak. Para penerjun mendarat tersebar. Beberapa tersangkut di pepohonan, beberapa mendarat di tanah.

Mereka yang berhasil mendarat terlibat kontak senjata dengan pasukan Belanda. Karena kekuatan tidak seimbang maka pasukan menyusup ke hutan. Pergerakan pasukan dilakukan dengan kondisi yang semakin lemah karena kehabisan bahan makanan. Terjadi kontak dengan pasukan Belanda yang menyebabkan 3 orang gugur yaitu Atjim Sunahyu, Suwito, Lestari dari dan 2 orang dari RPKAD. Agus Hernoto dan beberapa anggota tertembak.

Agus Hernoto ditinggalkan teman-temannya dengan harapan dirawat tentara Belanda yang memiliki satuan medis lebih lengkap. Selang beberapa hari setelah tertembak, Agus Hernoto ditemukan oleh pasukan Marinir Belanda yang melakukan pembersihan daerah pertempuran.

Diketahui bahwa luka-luka Agus sudah membusuk, bahkan sudah muncul belatung. Oleh pasukan Belanda, Agus dirawat hingga kedua kakinya diamputasi.

Agus dikenal sangat dekat dengan Benny Moerdani. Dia orang kepercayaan Benny Moerdani. Meski dua kakinya menggunakan kaki palsu, dia tetap dipercaya Benny Moerdani dalam Operasi Seroja, operasi masuknya TNI ke Timor-Timur. Agus Hernoto menjabat sebagai ketua tim intelstrat.

Pada perjuangan integrasi Timor-Timur 1975, Agus Hernoto sering mengemudikan Jeep Willis terbuka seorang diri di Atambua.

Dia sempat menjenguk korban pertempuran di rumah sakit di pinggir kota Atambua. Salah satunya adalah prajurit yang diamputasi kakinya. Prajurit itu tampak sedih.

Agus Hernoto membesarkan hati prajurit itu dengan mengatakan bahwa dia bukan satu-satunya prajurit yang diamputasi kakinya. Agus Hernoto menggulung celana panjang, melepas kedua kaki palsunya yang tertutup celana panjang kemudian menunjukkan kedua kakinya yang sudah diamputasi. Kaki kiri diamputasi di bawah lutut, kaki kanan di atas lutut.

"Demikian besar pengorbanan Agus Hernoto, seorang prajurit para komando Korps Baret Merah dalam perjuangan bagi bangsa dan negara," tulis Sintong Panjaitan dalam buku Perjalanan seorang prajurit Para Komando.

Hubungan Benny Moerdani dengan Agus Hernoto juga memunculkan kisah kesetiaan sejati antar prajurit. Pada 1964, muncul perselisihan antara Komandan RPKAD Mung Parahadimulyo dengan Benny Moerdani, saat itu memimpin Batalion I.

Mung protes saat Jenderal Ahmad Yani menyediakan Benny Moerdani sejumlah mata uang Belanda untuk operasi di Irian. Begitu juga penyediaan USD untuk misi ke Kalimantan. Saat Mung meminta kontrol uang, Benny menolak memberikan. Jengkel dengan Benny, Mung lantas memberlakukan aturan, semua prajurit yang invalid dilarang bergabung dengan RPKAD. Target Mung jelas, yaitu Agus Hernoto yang orang dekat Benny dan kehilangan dua kakinya.

Benny marah dan perselisihan keduanya dibawa hingga ke Jenderal Ahmad Yani. Benny akhirnya dipindah ke Kostrad, sementara Mung dikirim menjadi Pangdam ke Kalimantan. Selanjutnya, Agus selalu setia dengan Benny Moerdani.

Atas sumbangsihnya bagi negara, Agus mendapat anugerah kehormatan Bintang Sakti pada 1987, saat itu berpangkat Kolonel dengan jabatan Pamen BAIS ABRI.

7 Pasukan elite dan mematikan di dunia
Pasukan militer atau pasukan pertahanan adalah pasukan elit yang paling diandalkan untuk menjaga kedaulatan suatu negara. Maka tak heran, banyak negara yang berusaha untuk mengoptimalkan SDA dan peralatan militernya agar negara tersebut disegani musuh.

Para pasukan diharuskan menguasai banyak hal, mulai dari lihai medan berat dan pemakaian senjata, ahli bela diri hingga jago dalam memakai teknologi. Keunggulan sebuah tim elite menjadi kebanggaan tersendiri bagi suatu negara. Tak heran banyak negara yang berusaha menciptakan pasukan elite.

Ada 7 pasukan elite yang paling dianggap mematikan jika mereka berhadapan dengan lawan. Diantara ketujuh pasukan elit itu, nama Kopassus ternyata bertengger pada urutan ke lima dari daftar yang dilansir oleh thewondrous.com.

1. US Navy SEALs
US Navy SEALs adalah satuan militer yang dikenal punya kemampuan sempurna dalam operasi di dalam air dan dalam mengatasi tindak terorisme, pengintaian, menyelamatkan sandera hingga lihai dalam perang terbuka. Biasanya ada seragam khusus untuk membedakan satuan ini dengan prajurit atau kelompok yang lain, bahkan satu pin yang disebut dengan The SEAl Trident. Untuk mendapat pin ini sejumlah prajurit harus mengikuti banyak tiga lapis pendidikan dari yang umum hingga yang khusus selama kurang dari satu tahun.

Salah satu operasi militer yang dilakukannya adalah menembak mati Osama bin Laden di tempat persembunyiannya, Pakistan. Namun dalam operasi ini tiga anggota Navy SEALs tewas saat menyelamatkan kapten mereka yang disandera oleh orang-orang Somalia.

2. Alpha Group
Adalah pasukan elit militer Rusia yang telah dibentuk sejak tahun 1974. Kendati Uni Soviet runtuh namun pasukan ini tetap menjadi andalan untuk menumpas teroris.

Pada tahun 2004, pasukan militer ini berhasil menyelamatkan 350 sipil saat terjadi penyanderaan di sebuah sekolah. Saat itu mereka menembak mati 31 teroris yang berasal dari kaum separatis.

Kini negara-negara pecahan Uni Soviet turut juga membangun satuan elit mereka yang bernama Alfa. Sebagai contoh Georgia juga menamai satu dari tiga satuan elit mereka dengan Alfa sedangkan dua lagi Delta dan Omega. Rentang 10 tahun dari Georgia, Kyrgystan dengan nama Alfa. Mereka sebagian besar adalah para penembak jitu.

3. Pasukan Kaibiles
Pasukan ini adalah pasukan tak kenal takut yang dibuat saat revolusi Kongo. Mereka telah terbukti mampu mengatasi beratnya hutan dan para pemberontak.

Motto mereka adalah "Jika aku maju maka ikuti aku, Jika aku berhenti desak aku untuk maju, jika aku mundur maka bunuhlah aku!".

Semua orang bisa mengikuti rekrutmen satuan elit ini, meskipun ada beberapa ketentuan dan tes fisik dan mental yang harus ditemui. Pelatihan satuan ini mencapai 2 tahun atau paling cepat 60 hari. Hanya 64 orang yang lolos satu angkatan dengan umur tidak boleh lebih dari 28 tahun.

Keberhasilan terbesar yang mereka capai adalah menangkap Jenderal pertahanan militer Uganda saat kekerasan di Kongo terjadi. Namun akibat peristiwa itu 8 anggota Kaibiles terbunuh dan 5 lainnya luka.

4. Sayeret Matkal
Adalah pasukan pertahanan elit Israel yang meski jumlahnya sedikit namun berkualitas. Mereka beroperasi dengan mengandalkan bela diri dan intelegensi mereka untuk berperang. Sampai saat ini mereka terus disibukkan dengan misi untuk memberantas terorisme dan menyelamatkan sandera-sandera.

Sebelum tahun 1970, perekrutan satuan ini berlangsung rahasia dan hanya direkrut oleh para pimpinan Sayaret Makal. Namun beberapa tahun kemudian perekrutan dibuka dengan lebih transparan. Setahun dua kali pembukaan untuk menjadi pasukan elit ini dibuka, semua pelatihan dimonitor oleh dokter dan psikolog karena pelatihannya yang amat berat.

Kehebatan mereka terlihat saat terjadi pembajakan di pesawat Air France di Uganda beberapa pada 1976. Saat itu 6 pembajak dan 3 sandera tewas dalam operasi tersebut. Namun tetap berhasil membebaskan 100 sandera.

5. Kopassus
Dibentuk tahun 1952, Kopassus menjadi pasukan andalan milik Indonesia. Meski pada awalnya militerisme mereka dianggap negatif karena berkaitan dengan pemerintahan Soeharto saat itu.

Terlepas dari itu, baret merah ini punya segudang prestasi. Pertama, menembak tepat sasaran menjadi salah satu keahlian yang dimiliki Kopassus. Kedua Kopassus meraih peringkat dua dalam melakukan operasi militer strategis, seperti; intelijen, pergerakan, penyusupan, penindakan. Bahkan kopassus pernah melatih pasukan militer Kamboja dan Afrika Utara.

Operasi militer yang paling terkenal yang dilakukan Kopassus adalah pembebasan 50 orang sandera di pesawat Garuda pada tahun 1981.

Saat itu pesawat Garuda dibajak oleh kaum ekstremis. Tiga ekstremis pembajak Garuda berhasil dibunuh dan sandera pun dibebaskan.

6. Special Service Group (SSG)
Pasukan elit Pakistan ini dilatih untuk bisa menghadapi sabotase, penyanderaan dan pertarungan satu lawan satu dengan berbekal senjata dan intelegensi mereka.

Pasukan elit ini sering berlatih bersama dengan pasukan khusus Amerika dan China serta pelatihan udara dengan Inggris. Sebelumnya hanya ada 3 batalyon dalam pasukan elit ini. Kini jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 10 batalyon.

Hal yang paling mencolok adalah ketika mereka menyelamatkan anak-anak dan guru di dalam bus yang dibajak. Saat masih berlangsung negosiasi, pasukan ini datang menyergap dengan gas air mata kemudian langsung membunuh tiga pembajak.

7. Delta Force
Pasukan elite ini digunakan Amerika sebagai pasukan perang. Selain itu pasukan ini dikenal sebagai pasukan perang pertama di dunia yang terlebih dulu dikenal sebagai Detachment-Delta. Anggota Delta Force mencapai 800 hingga 1.000 orang. Sebelumnya, pasukan elite ini selalu gagal dalam pertempuran udara. Oleh karena itu, pecahan dari satuan ini, Airborne dibentuk untuk menanggulangi kesalahan dan kegagalan satuan ini.

Dalam perang Irak tahun 2003, pasukan inilah yang paling berperan menginvasi Irak. Mereka memasuki Baghdad dengan kapal tempur mereka dan menyabotase jaringan komunikasi di Irak.@


Tidak ada komentar: