Kamis, 12 Juni 2014

Pilpres dan Piala Dunia Sepakbola


Jurnalis Independen:  Acara pertandingan Piala Dunia Sepakbola jangan dikira tidak ada hubungannnya dengan pilihan presiden (pilpres) di negeri ini. Sementara Pilpres 2014 kali ini bukanlah pilihan presiden seperti lima tahunan yang sebelumnya.

Kandidat pasangan calon presiden, terutama salah satu dari dua pasangan yang sedang berlaga kali ini, menunjukkan sebuah "pertarungan" yang telah dirancang 50 tahun lalu oleh tangan-tangan imperialis, kapitalis dan liberalis guna menghancurkan negeri yang dikenal sebagai surga dunia.

Negeri ini selain memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) terutama dengan penduduk muslim terbesar dunia yang dikenal militan juga memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah. Dua sumber daya itu sangat menggetarkan kaum kafir. Lantaran itulah, berbagai rekayasa mengeruk dan meninabobokan potensi kedua sumber daya itu terus dilakukan hingga negeri dan bangsa ini lumpuh total.

Hal ini bisa dibuktikan dengan menganalisa beberapa tahun kebelakang. Diantaranya dengan mencermati tumbuh dan berkembangnya olahraga asal manca ini. Munculnya media elektronik, terutama media televisi dengan muatan olahraga yang satu ini cukup mencengangkan.

Pelan namun pasti, media elektronik mendapat ruang penyiaran tanpa kendala di negeri ini, terutama saat Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Kebebasan tumbuhnya media di era Presiden Gus Dur menjadi momentum tak terhindarkan menggerus ketahanan masyarakat akan semua informasi tanpa filter sedikitpun.

Sementara pemodal hingga awak media, lebih banyak dikendalikan oleh "Orang Asing", manusia yang sengaja hendak menggerus moralitas masyarakat timur yang masih kental dengan tatakrama.

Masyarakat dibuat terlena oleh olahraga yang didalam negeri sendiri cukup memprihatinkan alias "miskin prestasi". Dilain pihak, anggaran yang dikeluarkan negara tidak sedikit nilainya. Bahkan banyak rupiah yang musnah ditelan para siluman terkait dengan bidang olahraga ini, tentu saja semakin gamblang jika dikaitkan dengan "Proyek Hambalang".

Kini, Momentum Piala Dunia Sepakbola itu "ditujukan" untuk meninabobokan para pemilih dalam pilpres yang juga menentukan masa depan Bangsa Indonesia. Padahal ada rekayasa dari salah satu calon yang telah “disusupkan” demikian rupa, dibela dengan bantuan media, uang, maupun dukungan dari para "politisi yang terbeli".

Jika hal ini tidak segera disadari, terutama oleh masyarakat, tokoh masyarakat muslim khususnya, maka negeri ini akan semakin membuka lebar apa saja yang datang dari luar. Semua budaya asing akan masuk menggempur negeri yang telah jauh dari kultur bangsanya sendiri. Terkuras habis segala sumber hidup milik anak cucu tidak lagi menjadikan para pemimpin yang sedang berebut kuasa, padahal kapasitasnya sebagai penguasa sudah teruji ketidakmampuannya.

Segala yang datang dari luar, harus ditiru dan dipuja dan menjadi gaya hidup masyarakat nusantara. Pola ekonomi, politik, budaya, termasuk olahraga harus sama dengan yang ada dibelahan dunia tuannya. Walhasil, negeri ini tidak lagi memiliki kekuasaan, pengelolahan, kemandirian dalam segala bidang dan menjadi bangsa GEDIBAL.

Piala Dunia Sepakbola lebih menyita penggemarnya dari pada harus mencermati calon pemimpin negeri lima tahun kedepan. Padahal salah memilih dari dua yang “layak“ dipilih akan berakibat fatal bagi negeri ini. Lakon pemerintahan Orde Baru Jilid II akan menjadi kenyataan lantaran terpilihnya kandidat yang memiliki “karakter” dengan pemimpin Orba masa lalu.

Hal itu bisa dibuktikan dengan plat form sang kandidat yang hendak mesejahterakan para birokrat dan penegak hukum tanah air untuk menghindari perilaku korup, sementara rakyat paling banter hanya mendapatkan janji-janji belaka, namun yang pasti tidak akan memiliki kebebasan yang selama ini telah dinikmati rakyat, terutama bagi kalangan pergerakan.

Jika pada piala dunia yang digelar empat tahunan, penonton mendapatkan pertarungan, adu ketrampilan, skill yang relatif lebih fear dan untuk menikmatinya harus mengeluarkan biaya, sebaliknya dalam pilpres penonton akan mendapatkan uang yang disodorkan terutama dari pasangan yang memang sudah terendus permainan money politiknya.

Permainan money politik salah satu kandidat tersebut, terbukti dengan adanya dan sering tampilnya pengiklanan dan pencitraan di media. Selain itu banyaknya pamflet, benner, stiker, kaos maupun baliho yang merajai banyaknya wilayah seolah menandakan sang kandidat memiliki mesin uang tak terdeteksi oleh Komisi Pemilihan Umum. Hal itu sama dengan yang dilakukan oleh penyelenggara piala dunia. Padahal semua itu hanyalah pembodohan pada rakyat belaka, sebab kualitas mereka sudah terlihat dalam debat beberapa hari lalu.

Sementara para politisi tidak sadar lantaran terbius dengan janji mendapatkan jatah kursi, padahal sebelumnya banyak diantara mereka menjadi penggerak “penggulingan” pemerintahan Orde Baru Era Soeharto bahkan lantaran aksinya di masa itu ada yang mendapat julukan sebagai Bapak Reformasi Indonesia, namun justru kini menjadi penyokong calon pemimpin Orde Baru Jilid II, mereka te
Sementara persamaan dari piala dunia dan pilpres, sama-sama dimanfaatkan para cukong menjadi ajang judi yang sulit terendus oleh pihak yang berwenang.JI

Tidak ada komentar: