Jumat, 03 Januari 2014

Benarkah Harga Mayat Seorang Teroris Rp 700 miliar?

Jurnalis Independen: Harga seorang teroris yang terbunuh akan diberikan imbalan Rp 700 miliar dari pemerinmtah Amerika Serikat. uang itu diberikan sebagai pengganti dana operasional yang dikeluarkan pihak keamanan Indonesia, benarkah?
Sejumlah keluarga terduga teroris di Ciputat kembali menjalani tes DNA di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat I R Said Sukanto, Kramatjati, Jakarta, Jumat (3/1).

Hingga siang ini, terlihat ada 12 orang yang menjalani tes DNA. Mereka terdiri atas 6 pria dewasa, 1 anak perempuan, 4 perempuan dewasa, dan 1 perempuan lanjut usia.

Humas Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati Kombespol Sarwoto membenarkan bahwa yang datang tersebut adalah keluarga terduga teroris. Namun, dia belum bisa memastikan mereka keluarga dari siapa saja.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri memerlukan
kehadiran dan keterangan serta DNA keluarga para terduga teroris untuk
mengidentifikasi keenam jenazah yang tewas dalam penggerebekan di Ciputat.

Pada Selasa (31/12) sore hingga Rabu (1/1) pagi, tim Detasemen
Khusus 88 Antiteror Polri dan Polda Metro Jaya melakukan penggerebekan di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan.

Dalam penggerebekan yang disertai baku tembak itu, enam terduga teroris yang diduga bagian dari kelompok Abu Roban tewas. Terduga teroris yang tewas adalah Nurul Haq alias Dirman, Ozi alias Tomo,
Rizal alias Hendi, Edo alias Ando, dan Amril. Sementara itu, satu orang sebelumnya tewas ditembak di ujung Gang Hasan ketika mengendarai motor adalah Daeng alias Dayat.

Sementara terkait korban penembakan terduga teroris, Musdalifah, perempuan yang mengaku sebagai ibu angkat keenam terduga teroris yang tewas di Ciputat hari ini, Jumat (3/1), kembali datang ke Rumah Sakit Kepolisian RS Sukanto di Kramatjati, Jakarta Timur.

Namun, kali ini Musdalifah yang mengenakan jilbab bercadar hijau datang bersama salah satu dari anggota keluarga terduga teroris.  Berdasarkan pantauan, sekitar pukul 10.00 WIB, Musdalifah terlihat keluar dari ruang forensik bersama dua perempuan bercadar lainnya. Di tengah-tengah mereka, terlihat seorang perempuan tua yang lemas.

Dari ekspresi wajah perempuan tersebut, terlihat jelas bahwa dirinya sangat terpukul. Ia terus memegang kepalanya. Sambil melangkah lemas, Musdalifah menuntun perempuan tua itu menuju toilet lalu mengantarnya kembali ke ruang forensik.

Ketika dimintai keterangan oleh sejumlah media, Musdalifah hanya melambaikan tangannya dan tetap cuek tidak memberikan jawaban terkait dengan identitas perempuan yang digandengnya tersebut.
  
Sehari sebelumnya, Musdalifah yang mengaku ibu angkat keenam terduga teroris yang disergap di Ciputat, Rabu (1/1), sempat menuturkan bahwa dirinya kecewa dengan mekanisme identifikasi tersangka teroris tersebut.

"Pokoknya saya merasa dipersulit dalam proses identifikasi ini. Saya juga tidak setuju dengan autopsi ini karena sudah jelas-jelas mereka (para korban) itu anak-anak saya dan meninggal karena tertembak," jelas Musdalifah tanpa menghentikan langkah cepatnya saat keluar dari ruang instalasi kedokteran forensik Rumah Sakit Bhayangkara R Said Sukanto, Kamis (2/1).

Sebelum dijemput seorang pria berkaus biru untuk datang ke Rumah Sakit Bhayangkara R Said Sukanto , Musdalifah juga sempat mengatakan bahwa jenazah keenam tersangka tersebut akan dikuburkan di Pondok Rangon, Jakarta Timur.

Terkait pembantaian terduga teroris yang dilakukan pihak Polri, Pengamat Teroris, Noor Huda Ismail Mengkritisi sejumlah penggrebegan terduga teroris yang selalu berujung penembakan yang menewaskan si terduga. Noor Huda mengungkapkan model seperti itu ada dua hal yang kehilangan yaitu informasi intelejen dan rasa haus masyarakat terhadap wacana narasi tunggal polisi terduga teroris itu terpenuhi.

Selain itu ada rumor di luar, pembunuhan terhadap target terduga teroris yang dilakukan pihak Polri, khususnya Desus88, satu nyawa terduga teroris berharga Rp700 miliar. Dana tersebut langsung dicairkan oleh pemerintah Amerika Serikat, sebagai induk semang terorisme internasional dan yang paling berkepentingan dengan kelompok islam garis keras yang menentangnya.


Jika pihak polri maupun Densus88 berhasil membunuhnya satu nyawa dihargai Rp 700 miliar, namun jika hanya menangkap hidup, pihak Densus88 hanya mendapatkan setengahnya alias Rp 350 miliar saja, sebagai ganti biaya operasi yang dikeluarkan pihak Polri. Jika kali ini berhasil membunuh terduga teroris hingga Enam nyawa, tinggal hitung saja, berapa uang yang diterima. Namun, kebenaran isu itu sulit dibuktikan dan tak ada yang berani diklarifikasi.(*)

Tidak ada komentar: