Kamis, 10 Maret 2016

Bercermin pada Peradaban, Lelaku Peka Rasa

Reportase Maiyah Rebo Legi Maret 

Seperti biasanya, Sinau Bareng Maiyah Rebo Legi, yang diselenggarakan pada Selasa, 1 Maret, 2016 pukul 20.30 WIB di Beranda Masjid An Nur Kampus Polinema. Jl. Soekarno Hatta no 9, Kota Malang, gayeng, santai dan tetap menarik untuk disimak.


Malam beranjak kian larut. Seperti di malam Rebo Legi sebelum-sebelumnya, sejak pukul 20:30 jamaah mulai berdatangan lalu mengambil tempat duduk melingkar. Ada yang unik pada pertemuan kali itu, cuaca begitu cerahnya padahal selama beberapa hari sebelumnya, Malang diguyur hujan sepanjang hari hingga malam. Relegi bertambah semarak dengan kedatangan cukup banyak rekan muda dari luar kota, dari Surabaya, Kediri, Magelang hingga Blitar. Sungguh satu hal yang patut disyukuri, bagaimana Allah memperjalankan mereka dari tempat-tempat yang cukup jauh ke Malang dan bertatap muka dengan sesamanya dalam forum yang kecil sederhana.

Acara malam itu diawali dengan pembacaan Al Qur’an bersama-sama dan diikuti Wirid Wabal dipandu oleh Faqih Qodril dan Muslich Adym. Tema yang diangkat malam itu adalah Lethologica: Bahasa Cermin Peradaban. Prayogi Saputra, atau lebih dikenal dengan sapaan Cak Yogi, memulai forum dengan pancingan soal bahasa. Menurutnya, pada jaman Nabi Ibrahim, bahasa pergaulan (lingua franca) yang digunakan dalam keperluan diplomasi antar bangsa serta perdagangan internasional adalah bahasa Akkadia. Bahasa Akkadia/Aram kuno adalah bahasa yang dituturkan di wilayah Mesopotamia, tempat tinggal Ibrahim. Nabi Ibrahim besar di lingkungan Babilonia (Irak) yang dalam perjalanan kenabian harus terusir dari kampung halamannya menuju Palestina. Terusirnya Nabi Ibrahim tak lain dan tak bukan dikarenakan kisah penghancuran berhala yang berujung pada pembakaran dirinya. Masa itu tercatat sebagai puncak Peradaban Babilonia. Salah satu indikasinya adalah penggunaan bahasa Akkadia secara luas.

Cak Yogi melanjutkan penuturannya bahwa setelah Nabi Ibrahim berada di Palestina, beliau melanjutkan perjalanan menuju Mesir. Ketika Ibrahim menyeberang ke Mesir, Ibrahim telah cakap berkomunikasi dengan Firaun (Raja Mesir Era jaman Ibrahim bukan Firaun jaman Musa) dengan bahasa Akkadia. Di Mesir, Ibrahim menikah dengan Hajar, seorang putri dari Raja Mesir. Dari Hajar kemudian lahir Ismail. Gen Ismail kelak akan menurunkan Muhammad. Sementara dari Sarah — istri pertama Ibrahim — lahir Ishaq. Ishaq memiliki anak Yaqub. Anak keturunan Yaqub inilah yang sekarang dikenal sebagai Bani Israel. Gen Ishaq merupakan garis keturunan yang menurunkan Musa dan Isa. Musa adalah pembawa risalah Taurat, agamanya disebut Yahudi. Isa dianugerahi Injil yang agamanya disebut Nasrani. Sedang Muhammad sebagai Nabi akhir zaman membawa risalah Al Quran yang agamanya disebut Islam. Penyempurna ajaran pendahulunya.

Taurat merupakan kitab yang berbahasa Ibrani. Berdasar sejarah maka dapat disimpulkan bahwa Ibrani berakar dari bahasa Akkadia.Taurat sendiri terdiri dari 5 kitab. Kitab Kejadian, di bahasa Latindiesbut Genesis, Kitab Keluaran(Exodus), Kitab Imamat (Leviticus), Kitab Bilangan (Numerii) dan Kitab Ulangan (Deuteronomium). Sementara Injil yang sekarang terangkum dalam bible merupakan kitab berbahasa Suryani (Suriah). Biblemerangkap perjanjian lama (Old Testament) dan perjanjian baru (New Testament). Perjanjian lama dalam Injil merupakan kitab yang menerangkan tentang Taurat. Betapa jelas benang merahnya bahwa ketiga agama tersebut berakar dari keturunan yang sama Ibrahim. Dan memiliki satu ajaran pokok yakni tuntunan untuk mengamalkan monotheisme, tauhid.

Simpulan sederhana paparan awal ini adalah bahwa Bahasa Akkadia merupakan puncak dari kejayaan Babilon. Peradaban yang amat terkenal dengan taman gantungnya yang kini terdaftar sebagai salah satu keajaiban dunia. Taman gantung simbol persembahan Cinta Raja kepada permaisurinya yang konon berasal dari Nusantara, Ratu Amuhia.
Melompat ke era yang lebih kekinian, Bahasa Inggris sekarang menjadi puncak dari kejayaan Inggris. Kalau dirunut jauh sebelum bahasa Inggris meluas, tepatnya sebelum bergulirnya Perang Dunia II, bahasa pergaulan antar negara kala itu adalah bahasa Perancis. Sementara sesudah jatuhnya Perang Dunia II English mulai mencuri perhatian. Amerika Serikat dan Australia adalah negara besar simbol puncak peradaban Inggris. Karena keduanya adalah bagian dari keturunan Inggris. Bukti nyata bahwa Amerika Serikat juga merupakan bagian dari Inggris adalah aturan tak tertulis bahwa presidennya harus memiliki kriteria yakni berkulit White, berketurunan Inggris, Anglo Saxon dan beragama Protestant. Selama 44 kali pemilu USA bergulir, kriteria tersebut hanya dipatahkan oleh John F. Kennedy yang Katolik dan Barrack Obama yang berkulit hitam.

Dari sekilas kisah sejarah ini, tergambar ringan bahwa peradaban Islam sendiri berkembang mulai dari bahasa Akkadia Ibrahim, kemudian Ibrani Musa, bahasa Suryani Isa hingga seperti yang kita kenal sekarang yaitu Arab Muhammad.

Majapahit juga Melayu

Tak hanya menyinggung peradaban ‘bule’ Internasional. Cak Yogi, yang juga dikenal sebagai penulis buku Spiritual Journey: Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun Nadjib, juga menyikut banyak perihal Peradaban Kuno Nusantara. Peradaban yang terwakili dari cerita Majapahit. Majapahit di berbagai serat kuno disebutkan menggunakan bahasa Sanskerta dalam pemerintahannya. Sanskerta atau Sanksrit merupakan bahasa yang digunakan pada masa Jawi Kawi (kuno). Pertanyaan besarnya adalah apakah Sanskerta benar-benar dari India? Ataukah India hanya bangsa yang mempopulerkan bahasa Sanskerta?
Pertanyaan tersebut timbul dari berbagai fakta sejarah. Pertama, bangsa India merupakan bangsa pedalaman yang hanya memiliki akses ke satu pelabuhan besar yang terpandang dalam perdagangan Internasional yakni di pantai sekitar Gujarat. Sementara Nusantara atau yang dulu dikenal sebagai Dwipantara (kepulauan antara) memiliki banyak pelabuhan Internasional. Sebut saja Malaka, Sunda Kelapa serta pelabuhan yang menyebar di timur wilayahnya. Ada begitu banyak jalur laut Internasional yang mendiami pulau kawasan Nusantara.
Empu Walmiki menulis cerita yang menggambarkan kondisi sosial yang seolah terjadi di tanah Nusantara. Cerita yang melegenda itu ditulis dengan bahasa Sanskerta, bertajuk Ramayana. Sanskerta sendiri menyebar hingga Sulu Filipina, Asia Tenggara dan Asia Selatan, bahkan diduga sampai di kawasan Asia Timur tepatnya di Taiwan. Bahasa Sanskerta disebut sebagai bahasa kuno yang memiliki struktur menakjubkan oleh ahli bahasa kenamaan Eropa Sir William Jones. Ia menyatakan bahwa bahasa Sanskerta lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya.
Sementara bahasa Jawa yang kita kenal dewasa ini, yang terdiri dari Krama Inggil (halus), Madya (biasa) dan Ngoko (kasar) dan digunakan di seantero Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah jauh berbeda dengan bahasa Jawa Kawi periode masa lampau.

Kenapa Islam Bahasa Arab?

Paparan awal disampaikan dengan runut oleh Cak Yogi yang telah lama olah kanuragan dengan beragam sumber buku. Kini tiba masa di mana Cak Fuad memberikan siraman keindahan rangkaian kalimatnya. Siraman tersebut senantiasa tersemat dengan indah dalam bait Sirah Nabawiyah.

Pada masa kecil, Rasulullah dikirim ke pedesaan. Pengiriman ini terjadi ketika ia masih dalam masa menyusui atau kisaran usia 2 tahun. Pengiriman ini merupakan bagian dari tradisi masyarakat Arab pra Islam. Lalu timbul pertanyaan, apa alasan yang melatar belakangi munculnya tradisi tersebut? Sejarah mencatat bahwa ada dikirimnya Rasulullah ke pedesaan itu memiliki beberapa alasan, di antaranya :
1. Untuk dididik menjadi anak yang fasih berbahasa. Bahasa di desa berbeda dengan bahasa di kota besar sekelas Makkah. Bahasa di desa adalah bahasa murni dan sumber utama bahasa Arab berada di desa. Jaman itu ketika seorang ahli bahasa hendak membuat kamus maka salah satu ukuran apakah kata tersebut bagian bahasa murni atau tidak adalah dengan memvalidasinya bilakah kata tersebut digunakan oleh suku Badui atau tidak. Suku Badui merupakan penduduk yang menetap di desa.
2. Desa memiliki lingkungan yang lebih baik. Sopan santun dan tata krama di desa lebih terjaga sehingga mampu mendorong mentalitas perkembangan anak ke arah yang lebih baik.
3. Menjadikan badan kuat dan sehat. Lingkungan baik tidak hanya menyoal tentang perilaku. Desa memiliki lingkungan baik dalam artian mempunyai udara yang bersih serta makanan yang menyehatkan.
4. Sumber lain yang memperkaya alasan di balik pengiriman anak Arab ke desa adalah bahwa para suami ingin agar para istri tetap melayaninya secara khusus tanpa gangguan dari anaknya.
Cak Fuad kemudian memberi contoh tentang kisah salah satu khalifah bani Abasiyah bernama Malik Ibnu Marwan. Malik ini pernah memperbandingkan kedua anaknya. Anak pertama bernama Alkhan tidak ia kirim ke desa dengan alasan putranya itu agak rentan sakit. Sementara anak keduanya bernama Sulaiman ia kirim ke desa. Hasilnya, ternyata Sulaiman memiliki kefasihan bahasa yang lebih tinggi dibanding Alkhan. Kefasihan tersebut diyakini adalah imbas dari pendidikan yang ada di lingkungan pedesaan.

Bahasa Arab versus Bahasa Jawa.

Salah satu alasan lain mengapa Islam turun dalam bahasa Arab barangkali juga karena kekayaan kosa katanya. Sama halnya dengan Bahasa Jawa, Bahasa Arab juga sangat kaya akan kosakata. Misalnya kata memukul dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Jawa banyak sekali variasinya, antara lain ngampleng, nabok, ngaplok, nempiling, nonyo, nggepuk, ngeplak dan lain sebagainya, dalam Bahasa Arab pun juga demikian.

Apabila Bahasa Jawa memiliki tingkatan seperti Krama Inggil, Madya dan Ngoko sementara bahasa Arab tidak memiliki gradasi tingkatan semacam itu. Yang lebih kuat dalam bahasa Arab adalah pengucapan, pilihan kata, susunan bahasa serta ada unsur balaghoh. Unsur utama lain yang juga ada pada bahasa Arab adalah keaslian kata. Keaslian kata adalah cermin tingkat intelektualitas serta kefasihan pada masa itu. Selepas kedatangan Islam, tradisi pengiriman anak ke desa tidak hilang. Sebab memang Islam tidak pernah melarang adanya tradisi selama tradisi tersebut membawa kebermanfaatan.

Sembari diiringi kelakar yang menerbitkan senyum, Cak Fuad berkisah mengenai kehidupan masa mudanya. Ayah Cak Fuad sendiri di masa lalu lebih senang anaknya melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta dibanding ke Malang. Entah adakah unsur untuk mengikuti teladan Rasulullah di benak Ayahandanya. Namun jelas, dari dulu hingga kini kekayaan bahasa Jawa memang sangat terjaga di Yogyakarta. Pada masa Cak Fuad muda, Yogyakarta memiliki lingkungan Bahasa Jawa yang terjaga dengan baik. Mau tidak mau sebagai pemuda perantauan Cak Fuad harus banyak belajar tentang kondisi tersebut. Cak Fuad menuturkan bahwa meski ia sudah berupaya keras namun tak jarang ia masih melakukan kesalahan yang konyol saat ber-Kromo Inggil terhadap induk semangnya. Sebagai orang Jawa Timur di Yogyakarta, itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Tuntunan Mempelajari Bahasa Arab

Mengapa umat muslim seharusnya mempelajari bahasa Arab? Alasan sederhananya adalah karena kitab suci umat Islam menggunakan bahasa Arab. Kitab suci tersebut adalah pedoman. Dan untuk dapat membaca Arah pedoman tuntunan tersebut maka wajib mengetahui maksudnya. Jika tidak mengetahui tentang bahasa Arab sama sekali maka seseorang akan gampang terjerumus. Misal saja fenomena akhir-akhir ini yang banyak beredar di beberapa daerah yakni kaos dengan kaligrafi Arab yang laris dibeli dan dipakai anak muda. Apakah pemakai kaos itu mengetahui apa makna di balik kaos yang dipakainya? Belum tentu. Bisa jadi mereka tidak tahu dan membeli kaos itu hanya sebagai gaya padahal isinya mungkin lain dari yang mereka sangka.

Kekayaan bahasa Arab banyak dipengaruhi berbagai hal. Contoh sederhana kekayaan kosa kata bahasa Arab adalah tentang makanan. Jika dalam bahasa inggris makanan hanya disebut sebagai food maka dalam bahasa Arab lebih beragam. Misal saja makanan saat pernikahan disebut walimahan, makanan untuk menjamu tamu disebut mad’am, makanan bontotan disebut naqiah, makanan khitanan disebut afirah dan lain sebagainya. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Cak Fuad, Bahasa Arab masih lebih kaya kosakata dibanding bahasa lain yang menjadi bahasa Internasional versi PBB. Bahasa Inggris memiliki 600.000 kosa kata. Bahasa Perancis memiliki 160.000 kosa kata. Bahasa Rusia memiliki 130.000 kosakata. Sementara bahasa Arab memiliki jumlah paling besar yakni 12.302.912 kosa kata. Maka tak heran jika banyak yang beranggapan bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang susah dipelajari, mengingat demikian banyak kosakatanya.

Bahasa Arab memang sekilas terlihat sulit dipelajari, hal tersebut bisa disebabkan karena pengajar yang tidak memiliki kemampuan khusus. Umumnya para guru mengajarkan apa saja yang ia ketahui, padahal belum tentu hal tersebut diperlukan. Bahasa Arab cakupannya teramat luas. Bahasa Arab yang dipakai seorang supir tentu berbeda dengan Bahasa Arab mereka yang bekerja di bank maupun rumah sakit. Solusi awal yang tepat dalam mempelajari bahasa Arab adalah mempertimbangkan dahulu keseuaian dengan bidang dan tujuan yang ingin dicapai. Selanjutnya ketika telah fasih di bidang tertentu dapat dikembangkan sesuai keinginan hati.
Selain kosa kata, ada beberapa hal lain yang menjadikan bahasa Arab kaya. Salah satu faktor tersebut adalah Istiqoq. Istiqoq merupakan penyebutan untuk satu akar kata yang bisa dibentuk ke banyak kata lain. Selain Istiqoq, bahasa Arab juga memiliki banyak murotif atau padanan kata.

Pandangan Eropa-Amerika Mengenai Bahasa Arab

Ahli bahasa dari berbagai negara Eropa Amerika pernah menyatakan kekagumannya terhadap bahasa Arab. Selain karena bahasa Arab tergolong bahasa paling tua dan yang masih bertahan hingga sekarang, juga dikarenakan tak banyak perubahan yang terjadi dalam bahasa Arab. Ada beberapa perubahan kecil tentunya, namun secara keseluruhan bahasa Arab masih memiliki esensi yang sama seperti bahasa Arab era turunnya al-Quran 15 abad silam.

Bahasa adalah media untuk mengungkapkan budaya. Melalui bahasa nilai-nilai budaya bisa diturunkan. Budaya yang ada di masyarakat menginspirasi banyak norma-norma. Norma berisi pesan-pesan. Pesan yang menjadi pedoman tindak yang pantas maupun yang tak layak. Bahasa memiliki peranan mentransmisikan pesan tersebut. Ini adalah salah satu wujud konkrit bahwa bahasa erat kaitannya dengan kebudayaan serta peradaban.

Dalam sejarah tercatat bahwa bahasa Arab al Quran teramat berperan mengubah Arab jahiliah menjadi Arab yang lebih beradab. Perubahan perilaku yang sangat signifikan. Bahasa Arab al Quran juga menyampaikan nilai-nilai baru yang merubah bahasa Arab lama. Seperti kata taqwa, tauhid, zakat dan adil adalah beberapa kata yang memiliki definisi berbeda setelah kedatangan Islam.

Piagam Madinah serta khutbah terakhir Haji Wada’ banyak menyimpan istilah baru yang sekarang disebut sebagai nilai modernitas. Nilai yang sebelumnya belum ada dalam bahasa Arab lama. Pesona bahasa Al Quran telah banyak berpengaruh terhadap perilaku masyarakat yang awalnya bermusuhan menjadi berukhuwah, semula diskriminatif menjadi egaliter dan yang mulanya eksploitatif menjadi masyarakat yang gotong royong. Ini adalah berkat Al Quran dan Al Quran itu jelas bagian dari bahasa.

Al Quran sangat berperan mengangkat bangsa Arab ke tingkat bangsa yang berkebudayaan tinggi. Bahasa ini pula yang mendorong masyarakatdan memacu peradaban Islam baik di bidang Ilmu Pengetahuan maupun bidang lain. Peradaban yang pernah memimpin dunia selama lebih dari 7 abad. Keunikan lain yang ada di perjalanan Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa peradaban besar adalah bahwa para ahli bahasa Arab 80% bukan orang Arab.

Bahasa dalam Sejarah Indonesia

Di Indonesia sendiri, bahasa juga telah mengantarkan perubahan masyarakat. Bahasa menjadi idiom yang mengendap di bawah sadar masyarakat sebagai bagian dari keinsafan bathiniyah. Misal peribahasa kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Mangan gak mangan ngumpul, menceritakan bahwa tak apa miskin asal tetap bersaudara. Idiom tersebut abadi dan berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku.

Berdasar sumber yang pernah dibaca Cak Fuad, konon Bahasa Jawa tidak memiliki konsep keadilan. Maka diseraplah kata adl dari bahasa Arab. Bahkan seperti yang bersama kita ketahui bahwasanya di Pancasila banyak kata serapan dari bahasa Arab. Artinya bahwa bahasa Arab memberikan sumbangsihnya untuk turut membantu membangun sejarah Indonesia.

Beberapa kata serapan tersebut, ada kata-kata yang berubah dari makna aslinya. Misal saja kata amal. Amal dalam bahasa Arab asli berarti bekerja. Sementara ketika dijadikan bahasa Indonesia artinya bergeser menjadi sedekah. Dalam berbahasa ada istilah penghalusan kata-kata, eufisme. Misal kata buruh, pekerja dan karyawan, maka orang cenderung lebih memilih disebut sebagai karyawan dibanding buruh yang terkesan rendahan. Seperti halnya kata lamasa dalam bahasa Arab yang awalnya berarti menyentuh, namun dalam penggunaannya digunakan sebagai kata lain dari hubungan suami istri.

Bahasa juga dapat berpengaruh buruk terhadap perilaku. Contoh kecil saja, dalam sepak bola ada banyak kata-kata yang terkesan kejam seperti mencukur gundul, mempermalukan, mencundangi dan melibas habis. Bisa jadi kata-kata tersebut juga memicu kekerasan yang ada di sepak bola tanah air. Selain itu juga pernah ada iklan shampoo yang menunjukkan proses pembasmian ketombe dengan senjata laras panjang, secara tidak langsung hal ini mengajarkan pada pemirsanya tentang tindak kekerasan dan konsumerisme.

Budaya itu ketika masih berada di kawasan tertentu, jika telah meluas antar bangsa maka selanjutnya disebut sebagai peradaban. Dunia Barat juga telah banyak belajar dari peradaban Islam mengenai apa itu egaliterisme, kemuliaan manusia, toleransi dan lain sebagainya. Nurcholis Majid pernah menjelaskan dalam salah satu bukunya mengenai hal itu. Di dunia Barat dahulu, barang siapa terbukti tidak memeluk ajaran Kristen maka pilihannya Cuma dua, masuk Kristen atau dibunuh. Sebuah gambaran bahwa dulu Eropa tidak mengenal toleransi sama sekali.

Tak Ada Tanya Pada Rumput yang Bergoyang

Memberi jalan untuk memancing diskusi menyusul paparan komprehensif dari Cak Fuad, moderator berujar, “Sejarah mengatakan bahwa Ibnu Sina yang ahli kedokteran juga memanfaatkan bahasa Arab. Ibnu Rusyd yang meski berasal dari Spanyol juga menggunakan bahasa Arab. Imam Bukhari yang lahir dan besar di Bukhara Samarkhand juga berbahasa Arab. Termasuk di Jawa, meski bahasanya tetap Jawa namun menggunakan tulisan Arab untuk memaknai.”

Diskusi menghangat. Malam yang dingin tak mampu membuat hadirin beranjak dari tempatnya. Di bagian tanya jawab pertama ini, Febrian yang merupakan mahasiswa UIN Malang tampil. Ia menanyakan perihal apakah bahasa melahirkan peradaban ataukah peradaban melahirkan bahasa? Serta seberapa jauh peradaban terwakili bahasa? Sambil menekankan pertanyaannya ia berpendapat, “Kalau menurut saya kok peradaban lebih mencerminkan perilaku, sebab disitu ada kata adab.”
Nadia yang juga dari UIN juga turut mengajukan berbagai pertanyaan. Diiringi senyum simpul yang terlihat menawan diantara Jamaah lelaki malam itu, Nadia mengutarakan tanda tanya yang ada di pikirannya. Nadia bertanya, “Kapan tepatnya Rasulullah ditinggal meninggal istri dan pamannya?“ Diikuti pertanyaan lain mengenai hubbu dan habbah, serta kemiripan kata dalam bahasa Arab.

Merespon pertanyaan yang muncul, Cak Fuad menyampaikan hubungan bahasa dan peradaban, “Kalau ditanya mana yang ada terlebih dahulu antara bahasa dengan peradaban maka jawabannya adalah yang dipelajari manusia lebih dulu adalah bahasa. Peradaban adalah karya yang telah mendunia. Bahasa dan peradaban tentu tak bisa dipisahkan, karena salah satu hal yang paling berperan dalam peradaban adalah bahasa itu sendiri. Bahasa digunakan untuk mengungkapkan nilai-nilai yang abstrak, bahasa pula digunakan sebagai media menurunkan nilai-nilai tersebut kepada anak cucu sehingga mampu berkembang sebagai suatu peradaban.”

Mengenai pertanyaan kedua, Rasulullah mengalami Amul Huzni pada tahun ke-10 kenabian. Amul Huzni adalah masa di mana Rasulullah ditinggal istrinya Khadijah yang merupakan pendukung spiritual sekaligus material. Serta ditinggal pamannya Abu Tholib yang juga pendukung Muhammad secara politis. Abu Tholib sendiri adalah petinggi Quraisy yang berpengaruh. Selanjutnya untuk menghibur diri Rasulullah maka Allah memperintahkan untuk ‘berekreasi’ dalam agenda Isro’ Miroj menuju Masjidil Aqsa dan Sidrotul Muntaha.

Hubbun dan habbatun memang satu akar kata, dari huruf ba’ dan ta‘ kemudian berkembang menjadi kata-kata lain. Sebagian kata yang berakar dari kata yang sama bisa dicari benang merahnya dan memiliki makna yang dekat, namun sebagian lagi tak bertalian dan terkesan jauh. Misal untuk kedua kata tersebut berarti biji, habbatun. Biji dapat tumbuh jika terus disirami dan disayangi. Sebagaimana Rasulullah yang mengajarkan bahwa manusia juga harus menyayangi tanaman. Karena dengan rasa cinta akan tanaman tersebut, hal itu mampu mempengaruhi si tanaman untuk dapat tumbuh lebih subur. Ini juga adalah contoh bagian dari istiqoq.

Tanya demi tanya kembali mengalir. Salah satunya disampaikan oleh saudari Mery. Dia menanyakan perihal apakah bahasa mempengaruhi perilaku ataukah perilaku yang mempengaruhi bahasa? Cak Fuad kembali menjelaskan dengan saksama. Dalam sejarah Islam ada istilah jahiliah. Jahiliah itu bukan peradaban. Budaya adalah adat istiadat yang baik. Kalau buruk seharusnya tidak bisa disebut sebagai bagian dari budaya. Seperti budaya korupsi misalnya, korupsi tidak layak dimasukkan sebagai produk budaya.

Cak Yogi menimpali, pada bahasa Sasak daerah Lombok malah tidak memiliki kosa kata berkenaan dengan maaf. Sehingga dapat ditarik hipotesis bahwa pada masa itu di pikiran masyarakatnya tentu tidak ada konsep maaf. Sama halnya Jawa yang tidak ada konsep kalah. Pokoke kudu menang. Sekarang, kita mengenal kata rakyat, demokrasi dan lain sebagainya. Padahal dulu mengenal kata itu saja tidak, karena manusia umum berkedudukan sebagai kawula. Kawula itu abdi, manut kepada raja. Bertindak atas titah raja. Kemudian konsep rakyat dihadirkan oleh para cendekiawan anyar yang baru saja pulang dari sekolah Belanda. Salah satu pelopornya adalah Mohammad Hatta dkk.
Sebelum ada Maiyah, dahulu konsep pengajian yang umum adalah pengajian di mimbar, pondok, panggung dan sebagainya. Belum ada konsep pengajian yang melingkar duduk bersama seperti demikian ini. Mungkin 20 tahun lagi, konsep pengajian mainstream menjadi seperti Maiyahan ini, kiranya begitulah contoh nyata perkembangan peradaban.

Proses Berpikir dan Berbahasa

Usai tanya jawab di sesi pertama, pembahas tema didaulat untuk maju, dialah Armadhania. Sosok mahasiswi muda yang tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Psikologi. Di paparan awalnya, Dhania, begitu sapaan akrabnya langsung membahas tentang bahasa. “Bahasa itu mempengaruhi perilaku” paparnya. Contohnya adalah shalawat. Kalau tidak ada rasa menghargai orang lain bagaimana bisa membuat puji-pujian semacam itu.

“Manusia mulai berpikir sejak kapan?” sambungnya. Anak balita itu sudah bisa berpikir meski belum bisa membahasakan. Biasanya ada anak kecil yang bisa berjalan terlebih dahulu, ada pula anak kecil yang bisa bicara dulu. Ketika anak kecil cakap berbicara dahulu berarti bagian otak frontal (depan) lebih cepat berkembang dibanding otak motoriknya.
Bahasa sendiri sangat luas. Sebagaimana dunia pikiran itu lebih luas dibandingkan struktur penyusunnya. Dengan kata lain, organ otak kalah keren jika dibanding produk yang dihasilkan otak. Filosof pernah mengungkap bahwa ada konflik antara tubuh dan pikiran. Tubuh itu dunia fisik, ada hukum dan objeknya otak. Namun kalau pikiran itu dunia psikologis, pikiran terkait kognisi bagaimana manusia berpikir.
Sebelum berpikir umumnya manusia harus menyiapkan inputnya, bahan-bahannya, karena berpikir adalah proses dan tentu sebelum proses dilakukan harus ada bahan yang diolah. Kenapa manusia berpikir? Ada banyak sebab, salah satu sebabnya adalah karena ada berbagai inputan kemudian otak manusia menyaring salah satu dari inputan tersebut.
Nah, perhatian akan satu hal yang telah disaring itu mempengaruhi bagaimana cara manusia berpikir. Umumnya orang akan akan menaruh perhatian setelah mendapatkan rangsangan informasi yang masuk ke indera. Berhubung otak manusia tidak terlalu mampu berpikir multitasking maka segala informasi yang masuk akan dipilih satu yang paling mencuri perhatian.

Dewasa ini, lucunya banyak orang yang tak terlalu paham sesuatu tapi banyak omong. Padahal harusnya secara kaidah ilmiah ketika orang tak memiliki banyak informasi maka cenderung diam. Pikiran itu seperti jembatan, ketika sering dilalui dan digunakan maka akan semakin hafal dan terbiasa. Keterbiasaan inilah menjadi sesuatu yang tak sadar akan diulang-ulang sehingga memunculkan reflek.

Armadhania kembali melanjutkan paparan deskripsinya. Ia sampaikan bahwa kemampuan untuk bereaksi terhadap sinyal bergantung pula pada kejernihan sinyal. Artinya bahwa informasi yang masuk ke indera, yang kemudian dikirimkan untuk diproses ke otak sangat berpengaruh terhadap hasil pikiran tersebut. Berhubung manusia satu sama lain memiliki kapasitas kerja otak berbeda maka tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda pula dalam mengolah informasi yang masuk tersebut. Ada yang sekali berpikir mampu mengolah banyak input sekaligus, serta menghasilkan banyak output. Adapula yang menerima banyak input namun hanya mampu mengolah satu output saja.
Kecenderungannya adalah manusia hanya mampu menghasilkan satu output saja. Tak heran jika kita sedang mengobrol bareng kemudian ada dua pertanyaan bersamaan maka pertanyaan tersebut akan diolah satu saja, kemudian baru mengolah yang lainnya. Terkait lethologica, secara definisi teramat sederhana, lethologica adalah kelainan dalam bahasa. Yang berpengaruh pada kata-kata yang telah diujung lidah namun tak bisa diungkapkan.Armadhania mengakhiri paparannya dengan mengesankan.

Cak Yogi kembali naik permukaan, “Materinya tergolong berat, namun ada titik-titik yang dapat kita tarik menjadi sebuah garis,” ujarnya. Ia melanjutkan bahwa anak kecil ternyata semenjak dini sudah mampu berpikir meski belum mampu membahasakan alam pikirnya. Ada yang berpendapat bahwa sebetulnya konsep al-Quran sudah diturunkan secara lengkap pada Rasulullah. Namun hanya konsepnya saja, kemudaian wahyu lengkapnya turun secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Sama seperti bayi yang dimasa perkembangannya sudah memahami konsep berpikir, dan dalam perjalanannya kematangan pikir berangsur-angsur mulai berkembang.

Di sela-sela hangatnya forum malam itu, satu dua sholawat tak lupa dilantunkan oleh hadirin secara bersama-sama . Menambah energi dan kekhusyukan yang terjalin.

Pada sesi berikutnya Hilwin, pemudi dari Blitar, maju memberanikan diri. Ia bertanya perihal bahasa mempengaruhi peradaban: bagaimana sikap kita terhadap bahasa yang kian lama kian tergerus serta adakah kiat khusus agar tidak mengalami lethologica?

Penanya lain menyambung. Ia sampaikan bahwa sepengetahuan dia, dalam kajian Maiyah, otak adalah hardware. Dan softwarenya adalah akal. Ia bertanya, bisakah otak menangkap bahasa dalam bentuk energi? Misal saja, ada kerinduan tertentu ketika mendengar nama Cak Nun, meski sebelumnya belum pernah bertemu sekalipun. Bagaimana menjelaskan itu secara neurologis?

Julian yang berasal dari kampus Universitas Muhammadiyah Malang juga turut unjuk suara. Ia adalah salah satu mahasiswa perantauan dari Lombok. Menurut Julian, sejarah masuknya Islam ke Lombok Barat itu karena dulu ada putri yang menikah dengan keluarga kerajaan Makassar. Di Lombok juga ada tradisi lembo ade - tradisi tidak mengenal terima kasih. Ia juga sampaikan bahwa dulu Cak Nun pernah menyatakan bahwa tafsir itu relatif kebenarannya, namun sumber yang difatsirkan itu absolut. “Dan berdasar tafsiran saya, orang yang memiliki kapasitas besar seharusnya lantang berbicara. Karena ia menguasai lapangan, pandai beretorika, memilih diksi dan lain sebagainya.” lanjutnya.
Sandy dari Malang menyambut pernyataan Julian. Di beberapa keadaan, orang yang banyak ilmu justru cenderung diam. Ketika menguasai bahasa maka kecenderungannya diam. Misal di sosmed maka orang yang pinter cenderung ndak banyak ikut debat. Terkait bahasa cermin peradaban, barangsiapa menguasai bahasa maka akan mampu menguasai dirinya.

Kepekaan Rasa, Lelaku Suci

Armadhania sebagai pemateri turut menyumbang pemahamannya. Menurutnya, tafsir tergantung persepsi seseorang. Dan mengenai bagaimana seseorang yang belum mengenal namun sudah memiliki keterikatan, di dunia ini ada hubungan transpersonal yang nanti akan berkaitan dengan chemistry. Tiap orang juga memiliki aura yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal. Antar sel juga berbahasa, komunikasinya menggunakan energi listrik. Bahasa adalah kendaraan makna, bukan makna itu sendiri.

Lebih lanjut Dhania menambahkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang. Salah satunya adalah faktor situasional, individu, humanisme dan behaviorisme. Hubungan antara manusia dengan manusia lain sebenarnya adalah kosmis, saling terikat. Anak dan Ibu itu punya kelekatan. Semenjak anak masih dikandung dan jauh sebelum terlahir di dunia. Memorinya berkesinambungan. Kita seringkali akan cocok terhadap suatu hal, terlebih lagi jika hal tersebut disampaikan oleh orang yang kita sayangi. Manusia itu makhluk sosial, dengan siapa bicara, seberapa cocok frekuensinya semua ada takarannya dan berpengaruh terhadap suatu ikatan.

Bahasa yang bagus adalah cerminan perilaku. Bahasa yang bagus berujung pada kenyamanan. Manusia itu seharusnya kecenderungannya adalah imateri, rasa aman, rasa nyaman, bahagia dan seterusnya. Jika tujuan hidupnya masih berupa materi berarti ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

Cak Yogi juga turut memperkaya bahasan. Ia sampaikan bahwa mempertahankan bahasa atau bikin bahasa baru untuk menjaga bahasa ibu adalah sesuatu yang sulit. Akan lebih asyik jika mengambil hikmah di balik semua peristiwa.
Tafsir tetaplah tafsir, tafsir itu sifatnya relatif. Berdasar teori psikologi, otak manusia harusnya berhenti berkembang ketika menginjak usia 40. Namun nyatanya mukjizat terjadi pada nabi Muhammad ketika beliau dinobatkan jadi Nabi malah di usia 40. Maka secara tidak langsung, tafsir psikologi tadi terpatahkan.

“Ada satu hikmah dari Cak Nun,” sambung Cak Yogi. “Buat dirimu sebening mungkin, transparan, maka dalam kebeningan itu segala informasi akan masuk dan dirimu akan teramat peka. Bening itu ibarat nol. Nol berarti tak ada nafsu yang terlalu dominan, tak ada hasrat yang begitu mencuat. Semua tertakar rapi dan seimbang. Ini juga ada kaitannya dengan weruh sak durungewinarah dan lain sebagaianya. Matahari dan lilin, maka cahaya lilin lambat laun akan terserap menuju cahaya matahari yang lebih besar.”

Kang Yudi turut menambah kajian terkait peradaban Majapahit. Menurut Yudi, pada jaman Majapahit belum ada tingkatan bahasa Jawa. Semua bahasa masih sama. Jaman Majapahit itu juga orangnya rasioanl. Tidak beredar tahayul seperti sekarang. Tahayul mulai muncul di era Walisongo. Jadi pocong itu adalah hantu Islam. Sebab Hindu tidak dipocongi. Roro Kidul dan berbagai mitos mulai muncul di jaman panembahan Senapati.

Mas Adhon yang datang dari Surabaya turut bersuara dan mengungkap bahwa dulu Cak Nun pernah berbagi ilmu terkait bahasa. “Bahasa yang paling utama adalah ekspresi rendah hati untuk saling bersilaturahmi dan saling menggembirakan.”

Mas Faqih yang asli jebolan pondok pesantren urun rasa. “Otak itu pikiran, pikiran itu terbatas. Lebih dalam dari keluasan pikiran sebetulnya adalah olah rasa. Rasa itu lebih halus dan luas dibanding pikiran. Kedalamannya terkadang tidak bisa diungkapkan oleh pikiran. Suara hati, ketika olah rasa begitu tertata maka ekspresi dan bahasa menjadi tidak penting. Sebagai mana masnawi yang merupakan masterpiece dari Rumi. Puncaknya adalah sesuatu itu akhirnya malah tak mampu diucapkan dengan kata-kata. Mungkin lethologica bisa jadi adalah sesuatu yang disengaja, karena memang otak itu terbatas hingga ada banyak rahasia yang tak bisa diungkapkan dengan pikiran. Dan rahasia itu adalah ke-Maha seruan Allah untuk terus bercengkrama kepada para pencariNya.”

Pada bagian terakhir diskusi, Cak Dil memberikan buah-buah petuah yang bernas. Terkait tema pada malam itu, menurut Cak Dil sebenarnya akan lebih indah jika pembahasan tidak terjebak pada perkara definisi, namun lebih dalam lagi, mengeksplorasi gejala-gejala sosial masyarakat. Dimensi memang bermacam-macam. Cak Dil mencontohkan, belum tentu keberhasilan komunikasi itu tersampaikan dengan baik meski dilakukan dengan bahasa yang baik, karena sekali lagi bahwa kepastian adalah relatif. Bahkan terkadang bahasa yang lembut juga malah berisi kalimat ancaman. Maka, tak ada definisi mati terhadap suatu hal yang definitif.
Ada beragam fenomena. Salah satu contoh nyata yang terjadi di masyarakat saat ini menurut Cak Dil, adalah fakta bahwa ketika seseorang masih berada di sekolah dasar (SD) curiosity-nya tinggi, sering bertanya. Rasa kepo-nya besar. Namun seiring bertambahnya usia, saat SMP misalnya, rasa penasarannya semakin berkurang. Beranjak remaja menuju dewasa, di usia SMA malah makin berkurang lagi dan begitu seterusnya. “Ada apa ini sebenarnya? Kira-kira, anak muda kita mengalami gejala ini dalam hal apa saja?”

Cak Dil mengajak agar hadirin bisa mengambil banyak dari yang sedikit. “Mari gejala-gejala semacam ini kita analisis bersama. Bukan menilai betapa ketertinggalan dan kalahnya kita dibanding yang lain. Namun di setiap kekalahan manapun, selalu ada banyak hikmah yang dapat diambil. Seperti misalnya, soal TKW yang kerja di Taiwan. Ada stigma yang mengatakan bahwa orang Indonesia diperbudak, kolonialisme dan seterusnya. Padahal sebenarnya dipandang dari sisi lain, bisa pula diartikan bahwa sesungguhnya Indonesia-lah yang menjajah Taiwan. Bagaimana tidak, sebab anak orang-orang Taiwan dan para manulanya, di-openi, dididik dan dirawat oleh TKW Indonesia. Padahal masa depan mereka ada di anak-anak yang sekarang diasuh oleh TKW kita itu.”
“Kita kini berhadapan dengan suatu jaman dimana terjadi perang brubuh, hutan belantara. Mari bersama memahami tantangan jaman. Kita harus melakukan sesuatu karena waktu itu pendek, ”sambung Cak Dil. Terkait gejala lethologica dalam pergaulan sosial, ada istilah sing waras ngalah. Ada juga banyak hal yang memang tidak terkatakan. Yahudi punya tembok ratapan. Setiap tahun orang Yahudi berbondong-bondong datang ke tembok itu untuk meratap. Mark Zuckerberg yang orang Yahudi itu membuat FB yang ada dindingnya. Orang seluruh dunia ternyata membutuhkan itu, membutuhkan media itu untuk menyampaikan sesuatu.
Acara Maiyah Rebo Legi malam itu dipuncaki dengan membaca Indal Qiyam bersama-sam dan doa saat jam menunjukkan pukul 02.00 WIB.

(Ifa Alif)

2 komentar:

77777 mengatakan...

KAMI SEKELUARGA TAK LUPA MENGUCAPKAN PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH S,W,T
dan terima kasih banyak kepada AKI atas nomor togel.nya yang AKI
berikan 4D/ angka [] alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI.
dan alhamdulillah sekarang saya bisa melunasi semua utan2 saya yang
ada sama tetangga.dan juga BANK BRI dan bukan hanya itu AKI insya
allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKI..
sekali lagi makasih banyak ya AKI… bagi saudara yang suka main togel
yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi AKI ALIH,,di no (((_082==313==669==888 _)))insya allah anda bisa seperti saya…menang togel 275 JUTA , wassalam.


dijamin 100% jebol saya sudah buktikan...sendiri....


Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini !!!!


1"Dikejar-kejar hutang

2"Selaluh kalah dalam bermain togel

3"Barang berharga anda udah habis terjual Buat judi togel


4"Anda udah kemana-mana tapi tidak menghasilkan solusi yg tepat


5"Udah banyak Dukun togel yang kamu tempati minta angka jitunya

tapi tidak ada satupun yang berhasil..



KLIK DISINI ANGKA TOGEL JITU 2D 3D 4D 5D 6D





Solusi yang tepat jangan anda putus asah... AKI ALIH akan membantu

anda semua dengan Angka ritual/GHOIB:

butuh angka togel 2D/ ,3D/, 4D/ 5D/ 6D/ SGP / HKG / MALAYSIA / TOTO

MAGNUM / dijamin

100% jebol

Apabila ada waktu

silahkan Hub: AKI ALIH DI NO: (((_082==313==669==888 _)))


ANGKA RITUAL: TOTO/MAGNUM 4D/5D/6D/


ANGKA RITUAL: HONGKONG 2D/3D/4D/6D/



ANGKA RITUAL; KUDA LARI 2D/3D/4D/6D/



ANGKA RITUAL; SINGAPUR 2D/3D/4D/ 6D/



ANGKA RITUAL; TAIWAN,THAILAND



ANGKA RITUAL: SIDNEY 2D/3D/4D 6D/






..(`’•.¸(` ‘•. ¸* ¸.•’´)¸.•’´)..
«´
_ ¨`»082==313==669==888
..(¸. •’´(¸.•’´ * `’•.¸)`’•.¸ )..


الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

77777 mengatakan...

KAMI SEKELUARGA TAK LUPA MENGUCAPKAN PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH S,W,T
dan terima kasih banyak kepada AKI atas nomor togel.nya yang AKI
berikan 4D/ angka [] alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI.
dan alhamdulillah sekarang saya bisa melunasi semua utan2 saya yang
ada sama tetangga.dan juga BANK BRI dan bukan hanya itu AKI insya
allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKI..
sekali lagi makasih banyak ya AKI… bagi saudara yang suka main togel
yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi AKI ALIH,,di no (((_082==313==669==888 _)))insya allah anda bisa seperti saya…menang togel 275 JUTA , wassalam.


dijamin 100% jebol saya sudah buktikan...sendiri....


Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini !!!!


1"Dikejar-kejar hutang

2"Selaluh kalah dalam bermain togel

3"Barang berharga anda udah habis terjual Buat judi togel


4"Anda udah kemana-mana tapi tidak menghasilkan solusi yg tepat


5"Udah banyak Dukun togel yang kamu tempati minta angka jitunya

tapi tidak ada satupun yang berhasil..



KLIK DISINI ANGKA TOGEL JITU 2D 3D 4D 5D 6D





Solusi yang tepat jangan anda putus asah... AKI ALIH akan membantu

anda semua dengan Angka ritual/GHOIB:

butuh angka togel 2D/ ,3D/, 4D/ 5D/ 6D/ SGP / HKG / MALAYSIA / TOTO

MAGNUM / dijamin

100% jebol

Apabila ada waktu

silahkan Hub: AKI ALIH DI NO: (((_082==313==669==888 _)))


ANGKA RITUAL: TOTO/MAGNUM 4D/5D/6D/


ANGKA RITUAL: HONGKONG 2D/3D/4D/6D/



ANGKA RITUAL; KUDA LARI 2D/3D/4D/6D/



ANGKA RITUAL; SINGAPUR 2D/3D/4D/ 6D/



ANGKA RITUAL; TAIWAN,THAILAND



ANGKA RITUAL: SIDNEY 2D/3D/4D 6D/






..(`’•.¸(` ‘•. ¸* ¸.•’´)¸.•’´)..
«´
_ ¨`»082==313==669==888
..(¸. •’´(¸.•’´ * `’•.¸)`’•.¸ )..


الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل