Minggu, 23 November 2008

Mr. Chessplenx Berani Bicara


Jurnalis Independen: Peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan tahun ini, diramaikan dengan berbagai peringatan. Pada momen tersebut salah satu partai peserta pemilu 2009, PKS membuat iklan yang menyakiti sebagian masyarakat. Bahkan mengundang kontroversi tokoh-tokoh politik negeri ini.
Tokoh calon pahlawan itu adalah mantan Presiden RI selama 32 tahun, Soeharto.Sebenarnya, tidaklah masalah, bila setiap individu mendapat sebutan sebagai pahlawan. Sebab pada dasarnya setiap manusia adalah pahlawan. Paling tidak, bagi seorang manusia lainnya. Biasanya seseorang akan dipahlawankan oleh anggota keluarganya sendiri. Seorang anak yang baik, tentu mengatakan bahwa bapak- ibunya adalah seorang pahlawan bagi dirinya.

Permasalahan menjadi lain, ketika pendapat itu dikemukakan kepada umum. Terlebih secara vulgar melalui media. Dalam hal ini pemimpin Era Orde Baru itu, Soeharto disejajarkan dengan orang-orang besar yang pahlawan seperti Wahid Hasyim, Ahmad Dahlan dan lainnya. Hal inilah yang ditentang sebagain tokoh masyarakat dan masyarakat lainnya.

Tak bisa dipungkiri, bahwa mantan Presiden Soeharto adalah orang besar. Jika bukan orang besar, mana mungkin "beliau" bisa berkuasa di Indonesia yang memiliki kekayaan dan jumlah penduduk sangat besar ini. Sebab sangat mungkin ada orang lain selain Soeharto yang lebih cerdas, jujur, adil dan amanah hidup dinegeri ini pada masa itu. Tetapi karena ia tidak ditakdirkan menjadi Presiden, maka orang tersebut tidak dikenal dan menjadi orang besar seperti Soeharto.

Ada manusia lain dan banyak jumlahnya, juga tergolong sebagai orang besar. Tetapi ia lebih dikenal sebagai preman. Nama seperti Jhoni Indo (kini bertobat), Anton Medan, Kusni Kasdut, Jaksa Urip Trigunawan, Aidit, Untung dan masih banyak lagi orang besar baik dijaman dulu maupun sekarang. Mereka semua bisa digolongkan sebagai orang besar seperti Soeharto. Namun, tidak semua orang besar bisa disebut sebagai pahlawan! Sebab pahlawan adalah seseorang yang berjasa kepada seluruh bangsanya. Dalam bertindak, seorang pahlawan tidak memikirkan diri sendiri, tetapi lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan Negara.

Kelompok orang yang disebut belakangan, termasuk mantan presiden Soeharto, lebih pas bila disebut sebagai orang besar atau tokoh. Sebab seorang tokoh, adalah seorang yang banyak dikenal, tetapi belum tentu mereka terkenal karena kebaikan, keihklasan, keadilan dan kejujurannya. Tetapi justru sebaliknya, mereka bisa terkenal karena kezalimannya kepada orang lain. Seperti seorang preman!

Kelompok \preman baik jaman dulu maupun sekarang, juga memiliki orang besar dan terkenal. Bisa jadi, orang seperti itu dianggap sebagai pahlawan oleh anak keturunannya. Seperti sebutan Titik, salah seorang putri Soeharto kepada ayahandanya. Sah-sah saja ia menyebut ayahnya Soeharto sebagai pahlawan. Tetapi orang lain yang pernah ditindas, dicekal, diusir, dimiskinkan, dirampas kemerdekaannya, tentu berkata lain. Lha wong, seorang pejuang kemerdekaan saja dibilang atau disebut ekstrimis oleh penjajah. Mungkin sekarang pejuang seperti itu juga dilabel dengan teroris, kan bisa aja.

Yang jelas, sebutan pahlawan secara yuridis formal, hanya sah bila disebutkan, dikeluarkan oleh pihak pemerintah yang berkuasa. Bung Tomo saja, harus menunggu hingga puluhan tahun untuk dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Padahal beliau setahu penulis, tidak pernah menyengsarakan, memeras, memenjarakan dan menghilangkan nyawa orang yang tidak berdosa. Karena itu, sabarlah wahai manusia, baik kelompok maupun individu dan keluarga terkait, untuk menunggu almarhum mendapat sebutan pahlawan…. Okey?........(suarabaru)


Tidak ada komentar: