Minggu, 23 November 2008

Bahaya Rimba Media

Bertaburannya media pada dekade 90 an di negeri ini laksana pisau bermata dua. Perkembangan media baik cetak maupun elektronik, merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, tidak semua masyarakat menilai positif bermunculannya media di negeri ini. Bahkan media dianggap menjadikan hidup tidak nyaman.

Sebenarnya, profesi jurnalis tidaklah berbeda dengan profesi lainnya. Pelaku jurnalistik layaknya pelaku bidang-bidang lainnya. Ada yang menggunakan sebagai lahan mencari nafkah secara halal, tetapi ada juga yang menjadikan jurnalistik atau media cetak dan elektronik sebagai sarana haram dalam mendapatkan sejuta keinginan manusia.

Dalam sejarah negeri ini, media cetak maupun elektronik (kala itu hanya radio), merupakan salah satu alat perjuangan menuju kemerdekaan. Saat itu, belum muncul istilah jurnalisme. Para pejuang kemerdekaan negeri ini, menggunakan media cetak (Koran) untuk mengemukakan irama perjuangan, mengikat emosi dan menyeberluaskan perlawanan rakyat terhadap imperialis.

Sebelum mempergunakan media cetak dan elektronik, para pejuangan telah mempergunakan media seni lain, sebagai alat bantu menyampaikan pesan perjuangan kepada rakyat. Dengan melalui kesenian para pejuangan memberikan informasi dari garis komando kepada jajaran dibawahnya.

Pesan-pesan tersebut ditangkap oleh lasykar pejuang dilapangan. Kemudian pesan-pesan tersebut diapresiasikan dengan cermat oleh para komandan pejuang dilapangan. Dari pesan melalui pertunjukkan seni, pejuang dikawasan tertentu yang kadangkala sangat berjauhan, kemudian membuat, melaksanakan strategi perlawanan terhadap pihak kolonial.

Karena keseharian pejuang yang hidup berbaur dengan masyarakat umum atau penduduk, maka secara otomatis warga masyarakat sipil juga mendapatkan bocoran pesan maupun rencana perlawanan terhadap penjajah. Sebab itu, kesenian di negeri ini sangat kental memuat pesan moral dan perjuangan.

Kesenian tidak hanya memiliki demensi hiburan semata, tetapi lebih dari itu memiliki nilai dan semangat perjuangan yang tinggi. Namun demikian juga memiliki nilai seni dan estetika.
Bila mau menghubungkan asal mula dan tujuan adanya media pada masa perjuangan kemerdekaan, maka bisa dikatakan bahwa media cetak maupun elektronik merupakan sebuah budaya yang lahir guna dijadikan sebagai alat perjuangan negara. Selain itu juga masuk dalam katagori kesenian. Oleh karenanya, para pelaku media bisa dikatakan sebagai kelompok kesenian.

Dalam perkembangannya, media kini telah mengalami perubahan yang cukup monumental. Kalimat ini hanya sekedar memperhalus istilah para pelaku media, agar tidak tersinggung dengan mengatakan lebih vulgar. Atau bila pelaku media lebih membuka telinga dan mau berdingin hati bisa dikatakan, bahwa media saat ini telah menjadi alat pemangsa ketenangan hidup manusia.

Walau tidak semuanya, media, kini telah dijadikan sebagai alat propaganda. Media dijadikan sebagai pemangsa siapa saja yang layak untuk dimangsa. Media juga digunakan sebagai pencari nafkah yang tidak halal. Media digunakan sebagai alat membohongi publik. Ia juga bisa digunakan untuk memecah belah sebuah bangsa yang merdeka.

Tidak sedikit awak media yang memiliki kemampuan, idealis nasionalis maupun agamis, yang tetap menjaga dan mempergunakannya untuk keutuhan dan kemaslahatan bangsa dan negara. Tetapi dibandingkan dengan pelaku media yang mementingkan diri sendiri, mereka tidaklah banyak.

Karena itu, sudah saatnya, pemerintah bertindak cerdas membenahi jagad media di negeri ini. Caranya adalah dengan membatasi munculnya media yang tidak memberikan nilai positif bagi masyarakat, bangsa dan negara. Kalau dahulu, media menjadi alat perjuangan kemerdekaan dan perlawanan terhadap penjajah. Kini, sudah selayaknya media menjadi alat pemerintah untuk memerangi sejuta permasalahan yang membuat bangsa dan negeri ini terpuruk dalam lembah kemiskinan, kesengsaraan dan kebodohan.

Pemerintah harus memiliki sebuah media yang dapat mengendus pelaku korupsi, pejabat hitam, pengusaha drakula, serta organisasi makar dan sejuta masalah pengangguran dan kemiskinan.
Pekerja lapangan media (wartawan) haruslah orang handal. Ia harus mampu bertindak bak seorang intelejen. Bila seorang wartawan menemukan gepeng dijalan dan berhasil mendokumentasikan, maka hal ini bisa dijadikan sebagai bukti bahwa pejabat dimana gepeng berada tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Hal itu akan bisa dijadikan sebagai bukti dan menindak kepala daerah, dinas sosial diwilayah itu.

Demikian pula, bila di wilayah tertentu yang banyak terdapat pemukiman liar, PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berjualan dijalan dan trotoar maka pejabat terkait harus mempertanggungjawabkan dan dituntut sesuai hukum yang berlaku. Sebab dengan bukti itu, pejabat terkait jelas-jelas terbukti bersalah tidak mampu menjalankan amanat undang-undang.

Seseorang yang tidak memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) tidak dengan seenaknya ditangkap oleh Polisi beneran atau polisi tidak beneran (Polisi Pamomg Praja). Tetapi lebih dulu harus diselidiki hal ikhwal mengapa orang tersebut tidak memiliki KTP. Sebab, jaman sekarang banyak orang yang tidak memiliki KTP lantaran bila mengurus harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bila hal ini terjadi, maka yang bertangung jawab adalah RT, RW, Lurah setempat dan harus dikenakan sanksi hukum.

Demikian seterusnya dalam bidang-bidang lainnya. Walhasil, dengan adanya media milik pemerintah yang seperti itu, maka akan menjadikan pejabat dari tingkat bawah hingga orang nomor satu negeri ini tidak melupakan dan melalaikan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Lebih dari itu, jabatan kursi pemerintahan dari tingkat RT hingga Presiden, tidak menjadi barang rebutan dari manusia rendah moral dan amanat.

Karena posisi strategis pekerja media, termasuk wartawan. Maka gaji yang tinggi harus diberikan kepada mereka. Dan yang mampu memberikan upah itu, tentu saja hanya pemerintah yang memiliki sumber kekayaan, kekayaan dan kemauan. Bukankah pemerintah juga mampu memberikan gaji tinggi pada profesi guru yang nota bane menjadi pendidik anak bangsa dari generasi ke generasi? Dan profesi pekerja media adalah juga sama seperti guru! Yaitu, menjadi pendidik kepada masyarakat! Bukankah begitu sobat? Setujukah saudara dengan pemikiranku ini?

Pertanyaannya, beranikah para pejabat, pembuat undang-undang, satpam undang-undang ( Eksekutif, Legeslatif, Yudikatif) melaksanakan ide ini? Maukah Pemerintah, KPK (Komite Pemberantas Korupsi), Kejagung, Polri, membawai media sebagai bawahan/mitra dari institusinya? Tentu saja, itu semua ditujukan demi untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara menuju terwujudnya keadilan dan keberadaban! Bukan untuk kelompok atau pengusaha.
Jawablah! Katakan Ya kalau Iya…, katakan Tidak bila Tidak……jangan ya…iya dong saja……
Kutulis ini dengan harapan….. Jangan sampai media dan jurnalistiknya menjadi benang kusut. Sebab, media dan jurnalis yang merupakan bagian dari seni, menjadi bagian industrialisasi. Pada kenyataannya, industri-industri lainnya di negeri ini, ketika dikangkangi oleh konglomerat, kapitalis, pebisnis yang ada hanya manipulasif, pemerasan dan tipu daya………
Jangan jadikan "media seperti rimba" yang tidak bertuan, dan hanya dihuni oleh "binatang"…….
Media dan jurnalisme, idealnya adalah dimiliki, dikelola oleh pejuang. Dan sebenar-benarnya pejuang adalah Negara. Sebab hanya Negara yang benar-benar memperjuangkan nasib rakyat, bangsa dan negaranya. Dan orang-orang yang berjuang untuk negaranyalah yang bisa disebut sebagai negarawan………

Gara-Gara Kisah Cinta Lastri Si Gerwani

Aktivitas di bekas sebuah pabrik gula di daerah Solo, pada minggu ke tiga bulan November, membuat gusar Forum Pembela Islam (FPI) setempat. Kegusaran itu, terpicu oleh kegiatan Eros Djarot yang sedang menggarap sebuah film drama percintaan. Aktivitas seniman asal Jakarta itu, seolah mengusik dan membuat rasa takut sebagian ummat islam seperti FPI.

Bahkan pembuatan film itu, tidak hanya menciptakan kegusaran. Tetapi hampir-hampir menimbulkan ketegangan. Sehingga aparat harus turun tangan untuk melerai kedua kelompok yang berbeda pandangan itu. Demi menjaga hal yang tidak diinginkan, maka pihak kepolisian setempat, menghentikan kegiatan pengambilan gambar film yang disutradarai oleh pemimpin salah satu partai politik di negeri ini. Sebelum dihentikan oleh pihak keamanan, sempat terjadi dialog antara kru film yang dikomandoi Eros dengan pihak FPI.

Pihak FPI ngotot dan berusaha menghentikan kegiatan itu, bukan tanpa dasar. FPI Solo, menghawatirkan pembuatan film drama percintaan tersebut akan menggugah dan memunculkan kembali kekuatan Partai terlarang Komunis di negeri ini (PKI). Sebab, film yang sedang melakukan pengambilan gambar di lokasi tersebut, adalah sebuah film yang berlatar belakang sebuah kejadian yang berujung dengan terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G30S-PKI).

Eros Djarot menyangga kekhawatiran FPI Solo. Bahwa dirinya tidak akan membangkitkan faham PKI di negeri ini. Sebab menurutnya, dirinya hanya ingin menyajikan sebuah film drama percintaan dengan mengambil sebuah simpul kejadian yang memang bersinggungan dengan sisi kehidupan seorang Gerwani. Kita tahu memang, bahwa Gerwani merupakan sebuah wadah wanita komunis.

Totoh wanita yang akan diangkat menjadi tokoh sentral film percintaan Eros tersebut bernama Lastri. Lastri adalah salah satu tokoh gerakan wanita PKI yang akhirnya mati dibantai di sebuah lokasi pabrik gula oleh warga Solo.

Entah apa yang menjadi latar belakang sang sutradara Eros, hingga mau memfilmkan kisah cinta wanita PKI ini. Apakah film percintaan yang dibalut politik? Atau sebaliknya, film bermuatan politik yang disamarkan dengan kisah cinta! Seharusnya, si seneas tahu, ada resiko tinggi bila dirinya memaksakan kehendak. Padahal, Eros si sutradara adalah anak seorang kyai. Tentu ia sangat memahami kebersinggungan ummat islam dengan segala sesuatu yang berbau komunis di negeri ini.

Apakah karena ia seorang seniman sehingga dengan mengatasnamakan seni, mengaburkan fakta sejarah pahit negeri ini? Apakah boleh seseorang mengatasnamakan kebudayaan, kebebasan, demokrasi, hak azasi maupun adat istiadat. Kemudian menguak dan menciptakan rasa sakit dan ketidaknyamanan hidup bermasyarakat dan bernegara? Apakah seniman yang juga politikus ini tidak menyadari, bahwa belakangan ini, generasi anak-anak PKI seolah bangga dengan predikat yang disandang diri dan keluarganya?

Bukankah sang seniman film ini juga tahu bahwa ada anak-anak PKI yang telah mewarnai legeslatif kita? Dan bukankah hanya kelompok islam saja yang menghawatirkan akan munculnya kembali kekuatan anti tuhan dan berusaha menguasai seluruh rana kehidupan negeri ini?

Disisi lain, ketakutan berlebihan FPI khususnya, islam pada umumnya di negeri ini, pada kembalinya embrio PKI hanya mengada-ada? Tetapi bila melihat tak kunjung muncul "soliditas" kekuatan islam yang mayortitas di negeri ini, seolah menyiratkan kepada kita bahwa islam dianggap tak pernah ada! Padahal, mungkin FPI hanya ingin mengatakan, jangan beri jalan pada kelompok masyarakat yang anti tuhan memimpin negeri ini. Jangan beri mereka alasan untuk mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri Pancasila ini. Atau mungkin, FPI khususnya, ummat islam umumnya, tidak menginginkan sejengkal tanah sekalipun, lepas dari genggangaman Republik ini? Yang mungkin bisa terjadi atas hendak disuguhkannya film Lastri tersebut.

Dalam wawancara dengan salah satu tv swasta, Ridwan Saidi yang sejarahwan, seolah menyiratkan kepada sang sineas Eros Djarot. Bahwa sang sineas hendaknya menyadari bahwa kekuatan komunis masih menjadi ancaman serius bagi negeri ini. Dengan di "pendetani" oleh RRC, komunis layak di waspadai kemunculannya kembali di negeri ini. Dan menciptakan neraka bagi rakyat yang berketuhanan Yang Maha Esa ini.

Janganlah merasa aktivitas seni dan sejenisnya dibatasi di negeri ini. Apalagi oleh FPI yang terkesan garang, suka melarang, bertindak terlalu dini. Bahkan terkesan, melebihi aparat. Semuanya dilarang oleh FPI!

Lebih baik mengalah dan membuat film lain saja. Sebagai saran, Batalkan percintaan Lastri. Untuk apa mengatasnamakan seni dan segala macamnya. Bila nantinya hanya berakibat tumpahnya darah saudara sebangsa.

Jangan meminta sangat banyak kepada islam, tetapi berbuatlah sedikit untuk islam. Itu akan lebih adil dan bijaksana. Sebab negeri ini telah terlalu banyak meminta kepada islam. Sebaliknya, sedikit sekali memberi kepada islam.

Ingatlah! Siapa yang menolak UU Pornografi dengan berbagai dalih? Siapakah yang hendak memisahkan diri dari NKRI? Siapakah yang berjuang untuk negeri hingga hari ini? Siapa yang membawa lari kekayaan negeri ini? Siapakah yang selalu hidup di bui bahkan mati demi negeri ini? Dan siapakah yang selalu memprovokasi? Pak Eros, jangan tumpahkan darah untuk kesekian kali gara-gara kisah cinta Lastri Si Gerwani……..!!!!???? (suarabaru)

Gara-Gara Kisah Cinta Lastri Si Gerwani


Sekelompok massa islam, berusaha menghentikan kegiatan pembuatan sebuah film. Perbuatan tersebut, bukan tanpa dasar. FPI Solo, menghawatirkan pembuatan film drama percintaan tersebut akan menggugah dan memunculkan kembali kekuatan Partai terlarang Komunis di negeri ini (PKI). Sebab, film yang sedang melakukan pengambilan gambar di lokasi tersebut, adalah sebuah film yang berlatar belakang sebuah kejadian yang berujung dengan terjadinya


Gerakan 30 September 1965 (G30S-PKI).
Eros Djarot menyangga kekhawatiran FPI Solo. Bahwa dirinya tidak akan membangkitkan faham PKI di negeri ini. Sebab menurutnya, dirinya hanya ingin menyajikan sebuah film drama percintaan dengan mengambil sebuah simpul kejadian yang memang bersinggungan dengan sisi kehidupan seorang Gerwani. Kita tahu memang, bahwa Gerwani merupakan sebuah wadah wanita komunis.

Totoh wanita yang akan diangkat menjadi tokoh sentral film percintaan Eros tersebut bernama Lastri. Lastri adalah salah satu tokoh gerakan wanita PKI yang akhirnya mati dibantai di sebuah lokasi pabrik gula oleh warga Solo.
Entah apa yang menjadi latar belakang sang sutradara Eros, hingga mau memfilmkan kisah cinta wanita PKI ini. Apakah film percintaan yang dibalut politik? Atau sebaliknya, film bermuatan politik yang disamarkan dengan kisah cinta! Seharusnya, si seneas tahu, ada resiko tinggi bila dirinya memaksakan kehendak. Padahal, Eros si sutradara adalah anak seorang kyai. Tentu ia sangat memahami kebersinggungan ummat islam dengan segala sesuatu yang berbau komunis di negeri ini.


Apakah karena ia seorang seniman sehingga dengan mengatasnamakan seni, mengaburkan fakta sejarah pahit negeri ini? Apakah boleh seseorang mengatasnamakan kebudayaan, kebebasan, demokrasi, hak azasi maupun adat istiadat. Kemudian menguak dan menAktivitas di bekas sebuah pabrik gula di daerah Solo, pada minggu ke tiga bulan November, membuat gusar Forum Pembela Islam (FPI) setempat. Kegusaran itu, terpicu oleh kegiatan Eros Djarot yang sedang menggarap sebuah film drama percintaan. Aktivitas seniman asal Jakarta itu, seolah mengusik dan membuat rasa takut sebagian ummat islam seperti FPI.
Bahkan pembuatan film itu, tidak hanya menciptakan kegusaran. Tetapi hampir-hampir menimbulkan ketegangan. Sehingga aparat harus turun tangan untuk melerai kedua kelompok yang berbeda pandangan itu. Demi menjaga hal yang tidak diinginkan, maka pihak kepolisian setempat, menghentikan kegiatan pengambilan gambar film yang disutradarai oleh pemimpin salah satu partai politik di negeri ini. Sebelum dihentikan oleh pihak keamanan, sempat terjadi dialog antara kru film yang dikomandoi Eros dengan pihak FPI.
Pihak FPI ngotot dan ciptakan rasa sakit dan ketidaknyamanan hidup bermasyarakat dan bernegara? Apakah seniman yang juga politikus ini tidak menyadari, bahwa belakangan ini, generasi anak-anak PKI seolah bangga dengan predikat yang disandang diri dan keluarganya? Bukankah sang seniman film ini juga tahu bahwa ada anak-anak PKI yang telah mewarnai legeslatif kita? Dan bukankah hanya kelompok islam saja yang menghawatirkan akan munculnya kembali kekuatan anti tuhan dan berusaha menguasai seluruh rana kehidupan negeri ini?
Disisi lain, ketakutan berlebihan FPI khususnya, islam pada umumnya di negeri ini, pada kembalinya embrio PKI hanya mengada-ada? Tetapi bila melihat tak kunjung muncul "soliditas" kekuatan islam yang mayortitas di negeri ini, seolah menyiratkan kepada kita bahwa islam dianggap tak pernah ada! Padahal, mungkin FPI hanya ingin mengatakan, jangan beri jalan pada kelompok masyarakat yang anti tuhan memimpin negeri ini. Jangan beri mereka alasan untuk mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri Pancasila ini. Atau mungkin, FPI khususnya, ummat islam umumnya, tidak menginginkan sejengkal tanah sekalipun, lepas dari genggangaman Republik ini? Yang mungkin bisa terjadi atas hendak disuguhkannya film Lastri tersebut.
Dalam wawancara dengan salah satu tv swasta, Ridwan Saidi yang sejarahwan, seolah menyiratkan kepada sang sineas Eros Djarot. Bahwa sang sineas hendaknya menyadari bahwa kekuatan komunis masih menjadi ancaman serius bagi negeri ini. Dengan di "pendetani" oleh RRC, komunis layak di waspadai kemunculannya kembali di negeri ini. Dan menciptakan neraka bagi rakyat yang berketuhanan Yang Maha Esa ini.
Janganlah merasa aktivitas seni dan sejenisnya dibatasi di negeri ini. Apalagi oleh FPI yang terkesan garang, suka melarang, bertindak terlalu dini. Bahkan terkesan, melebihi aparat. Semuanya dilarang oleh FPI!
Lebih baik mengalah dan membuat film lain saja. Sebagai saran, Batalkan percintaan Lastri. Untuk apa mengatasnamakan seni dan segala macamnya. Bila nantinya hanya berakibat tumpahnya darah saudara sebangsa.
Jangan meminta sangat banyak kepada islam, tetapi berbuatlah sedikit untuk islam. Itu akan lebih adil dan bijaksana. Sebab negeri ini telah terlalu banyak meminta kepada islam. Sebaliknya, sedikit sekali memberi kepada islam.
Ingatlah! Siapa yang menolak UU Pornografi dengan berbagai dalih? Siapakah yang hendak memisahkan diri dari NKRI? Siapakah yang berjuang untuk negeri hingga hari ini? Siapa yang membawa lari kekayaan negeri ini? Siapakah yang selalu hidup di bui bahkan mati demi negeri ini? Dan siapakah yang selalu memprovokasi? Pak Eros, jangan tumpahkan darah untuk kesekian kali gara-gara kisah cinta Lastri Si Gerwani……..!!!!???? (suarabaru)


Kamis, 13 November 2008

Makam Shuhada Amrozi cs Semakin Monumental

Dengan dieksekusinya Amrozi cs, semakin nyata sudah campur tangan asing di negeri ini. Selain itu, tentu saja juga membuktikan lemahnya pemerintah. Namun demikian, dengan tereksekusinya Amrozi cs, akan lebih mudah membuktikan kebenaran apa yang diperjuangkan oleh kelompok ini. Dan sebaliknya juga akan membuktikan kesalahan langkah kelompok yang menyebut dirinya sebagai kelompok Mujahidin tersebut.

Pembuktian ini amat mudah. Tentu saja bila diizinkan untuk dibuktikan oleh pihak-pihak terkait. Pihak terkait tersebut, tentu saja adalah keluarga tereksekusi disatu sisi dan pemerintah disisi lainnya. Bila pembuktian ini jadi dilakukan, tentu harus ada konsekwensi yang dijadikan sebagai taruhannya.

Pertama, bila jasad tereksekusi terbukti layaknya jasad manusia pendosa, maka keluarga, kerabat maupun anggota kelompoknya, harus rela dikucilkan dan mendapat stikma seperti yang selama ini diberikan kepada pelaku dan kelompok tersebut oleh media, pejabat dan masyarakat. Sebaliknya, bila jasad tereksekusi layaknya seperti jasad para pahlawan, syuhada, mujahidin yang gugur dimedan pertempuran, maka pemerintah dan seluruh jajarannya yang menyebabkan kematian Amrozi cs, harus menerima saksi yang telah disepakati bersama.

Kedua, bila kebenaran ada di pihak tereksekusi, maka system pemerintahan harus mendukung keyakinan yang sedang diperjuangkan oleh kelompok almarhum Amrozi cs. Hal ini harus dijamin oleh undang-undang dan didukung oleh segenap komponen bangsa di negeri ini.

Ini bukan ajakan makar, tetapi sebuah pembuktian dengan konsekwensi tinggi. Sebab selama ini, kelompok seperti Amrozi tidak akan pernah menang bila bertarung. Walaupun ada kemungkinan besar mereka bisa menang secara konstitusi- demokrasi. Namun sejarah membuktikan, kelompok Hamas di Palestina harus menerima kenyataan pahit walau ia memenangi pemilu secara demokratis.

Apalagi di negeri ini? Sebagai contoh, pemilihan Gubernur Jatim putaran II yang semula dimenangi oleh pasangan Kaji. Beberapa hari kemudian telah disulap oleh para maling menjadi sebaliknya. Padahal beberapa lembaga survey sebelumnya telah menyatakan kemenangan pasangan yang hendak membongkat kebobrokan pemimpin diwilayah ini yang korup dan manipulatif.

Jika pasangan Kaji menang dan memegang kekuasasan pemerintah daerah Jatim, tentu kepemimpinan nasional akan menjadi sesuatu yang rumit untuk diraih oleh penguasa sekarang ini. Indikasi kecurangan pada pilkada Jatim, bisa dijadikan sebagai acuhan bagi siapa saja, termasuk kelompok seperti Amrozi. Hal seperti itu bisa dipastikan akan terjadi pada kelompok yang berfaham seperti Amrozi cs. Karenanya, kematian orang seperti Amrozi layak untuk dijadikan taruhan tentang kejelasan nasib bangsa dan negeri ini.

Kelompok penjahat akan selalu berhadapan dengan kelompok penegak keadilan yang jujur dan adil. Dalam masalah Amrozi cs siapa yang disebut penjajah?. Amrozi Cs diadili dan dituntut oleh seorang jaksa yang belakangan diketahui menerima suap yang dalam kasus yang merugikan negara ratusan triliun rupiah. Ya, jaksa Urip Tri Gunawan akhirnya dihukum 20 tahun sebagai ganjaran menerima suap. Aparat seperti ini tidak layak memutuskan hukuman mati pada seseorang. Sebab dirinya terindikasi tidak jujur. Bila tidak jujur, dipastikan tidak adil, apalagi amanah.

Sistem peradilam negeri ini, hampir semua pejabatnya seperti Urip Tri Gunawan. Bahkan diinstansi lain, kondisinya tidak jauh berbeda dengan institusi hukum tersebut. Karenanya, secara keseluruhan pemerintahan negeri ini tidak layak mendapatkan mandat dari rakyat. Sayangnya, tidak banyak warga masyarakat seperti kelompok masyarakat yang mampu membawa amanah, bersikap jujur dan bangga dengan bangsa dan hasil karyanya.

Maka untuk mendidik dan mengingatkan akan perjuangan untuk bertindak jujur, adil dan berani berkorban apa saja demi tegaknya aturan ilahi, perlu kiranya kematian Amrozi cs dijadikan sebagai monumen kebangkitan menegakkan keadilan dan kejujuran. Atau apabila mungkin hari kematian terpidana mati dijadikan sebagai Houl setiap tahunnya. Jangan hanya mereka saja yang bisa mendramatisir sebuah kejadian, tetapi kita hrsu banyak belajar dan memberikan perlawanan yang seimbang.

Sekali lagi sayangnya, tidak banyak masyarakat yang serius berjuang untuk menegakkan keadilan yang hakiki. Padahal bila kita mau, kita juga bisa membuat sarana media baik cetak maupun elektronik yang orang kafir gunakan sebagai sarana paling ampuh mencuci otak generasi robbani. Bahkan kelompok Mujahidin juga bisa membuat monumen yang sangat bersejarah dari berpulangnya para Mujahidin seperti Amrozi cs.***

Ekstrimis Pahlawan Bangsa

Jurnalis Independen: Hilang sudah sosok "teroris" pelaku Bom Bali I. Tepat pada 9 November 2008 (9/11), tokoh teroris asal Indonesia itu telah mati dieksekusi. Sebagian masyarakat, keluarga korban Bom I Bali merasa lega. Terutama Amerika Serikat (negara & Masyarakat Barat), Australia! Sebab, mereka lebih berkepentingan dengan eksekusi tersebut dibandingkan negara lainnya.

Senin, 27 Oktober 2008

Hitam Tetap Hitam, Putih Tetap Putih

Mengapa Larang Sebut Amrozi CS Sebagai Suhada, Mujahidin atau Pahlawan
Larangan sebut Pahlawan, Syuhada, Mujahidin atau Pahlawan kepada Amrozi CS, menandahkan kebencian kepada Tuhan. Mereka para pelarang membiarkan bahkan menerima stikma teroris pada agama dan aturan Allah SWT. Mereka jelas-jelas telah menjadi penentang Tuhan. Bila tidak demikian, mengapa tidak sekalian melarang ummat islam menjadikan Al Quran sebagai kitab suci? Suruh saja ummat Islam membuang Qur'an dan tafsirnya dan ganti dengan Talmut sekalian. Ternyata, banyak manusia di negeri ini yang menjadi penganut dan antek dari ajaran Talmut bikinan Thogut.

Kalau mau jujur dan melihat permasalahan dengan jernih dan hati bening, bukankah sabda Amrozi telah menjadi kenyataan? bahwa yang mengadili, menuntut dengan hukuman mati adalah para Jaksa penuntut yang korup. Coba ingat, Jaksa Urip yang menuntut hukuman mati sang Mujahidin ternyata adalah seorang koruptor deles! Sedangkan Amerika kini telah menelan sumpah yang dilontarkan oleh Calon Shuhada Bali I, negeri itu kini dilanda oleh seresi dan kepanikan ekonomi yang hebat.

Semoga krisis ini menghasilkan resesi ekonomi yang berlanjut dengan perang dunia III seperti perang dunia sebelumnya yang selalu didahului dengan resesi ekonomi! Selain menunjukkan kebenaran aturan Tuhan yang selama ini dilanggar oleh kebanyakkan manusia sombong.

Hal ini juga menunjukkan kebenaran akan perjuangan para Mujahidin seperti Amrozi. Tersenyumlah kawan, engkau memang melawan Dajjal dan teroris ! Walau selaksa regu tembak menghadangmu, tetapkan langkah maju. Bukankah dahulu nenek moyang kita juga dihukum rajam dan gantung yang lebih sadis oleh nenek moyang kaum Thogut?

Minggu, 14 September 2008

Serial Ngajidin



Diskusi Anak-Anak Tuhan
Setiap manusia, memiliki tiga main stream dasar. Yaitu Bibir (lidah), Hati dan Otak. Ketiga main stream manusia ini membentuk karakter manusia. Namun ketiganya terkadang saling berlawanan satu dengan yang lainnya.Perlawanan itu, sering kita rasakan. Namun amat jarang kita tanggapi secara semestinya.
Ketiga mahkluq yang tergolong istimewa ini, memiliki pengaruh sangat dominan. Ketiganya juga merupakan dalang (konseptor) semua perbuatan manusia. Namun ketiganya tak pernah mau dipersalahkan oleh siapapun.
Hal ini terbukti dengan adanya dialog yang mereka lakukan. Ketiga mahkluq saling menyalahkan dan membenarkan diri sendiri.
Awal dialog itu dimulai dari manusia bernama Ngajidin. Ngajidin adalah seorang remaja lancur. Ia berusia, belum genap 20 tahun. Seorang remaja muda yatim piatu. Ia hidup dan besar di sebuah pondok, di daerah Kediri, Jawa Timur.
Beberapa bulan terakhir, ia pergi meninggalkan pondok tanpa sepengetahuan pengawas pondok dan izin dari Wak Yai. Tidak ada seorang temannya yang ia pamiti. Maklum ketika itu, Wak Yai, santri-santri senior dan santri lainnya sedang sibuk. Sebab ada salah seorang alumnus pondok, mencalonkan diri menjadi calon gubernur. Karenanya, Kyai dan santri pondok dimana Ngajidin menuntut ilmu sedang sibuk "membantu" persiapan pemilu daerah itu.
Apa yang terjadi di pondok Ngajidin merupakan kesibukan yang sangat luar biasa. Kesibukan itu juga terjadi pada Otak Ngajidin. Hati Ngajidin, juga tak kalah sibuknya. Sedangkan bibirnya terus mengoceh tak karuan menanggapi tingkah "pondoknya" menyambut pilkada.
Din, begitu teriak Fikri (Otak). "Ngapain kamu duduk termangu disitu". Ketika itu Ngajidin sedang duduk dibawa beduk masjid pondoknya. " Lebih baik, kamu suruh kakimu melangkah pergi dari tempat ini", kata fikri lagi.
Hati Ngajidin, tidak bergeming sedikitpun, mendengar perintah Fikri. Namun kaki Ngajidin, setapak demi setapak melangkah pergi meninggalkan area pondok, yang berubah menjadi pasar malam. Sedangkan bibirnya (lidah), terus berceloteh menyayangkan penghuni pondok yang turut larut dalam hiruk pikuk pemilihan calon gubernur.
Perjalanan meninggalkan pondok, tanpa disadarinya, telah membawa Ngajidin di sebuah tempat bernama terminal.
Dari singgasananya, Fikri terbangun dari tidurnya. Ia tersentak kaget ketika menyaksikan Ngajidin telah berada di sebuah terminal kota Surabaya. Terminal itu bernama Bungurasih. Kesadaran Fikri, membuat ia merasakan desahan nafas Tyas (Hati). Nafas Tyas yang lembut dan hangat biasanya melenakan Fikri.
Anehnya, kali ini nafas Tyas dirasakan Fikri panasnya agak tinggi. Hal ini membuat Fikri bertanya kepada Tyas. "Tyas ada apa denganmu"? Tanya Fikri. Tiba-tiba hawa panas keluar dari badan Tyas, mendahului Jawabannya. Dengan suara nyaring Tyas membentak Fikri. " Apa kamu tidak tahu, Ngajidin sudah berjalan dua hari dua malam tanpa berhenti. Lagi pula, semenjak berjalan keluar pondok, tak sebutir nasipun ia telan", kata Tyas. Semprotan Tyas disambung oleh Totok (Tutuk = Bibir). " Ya, itulah Fikri. Setiap ada kesempatan selalu membius Ngajidin. Sehingga ia tidak menghiraukan aku. Dua hari, dua malam aku tidak diberikan makanan dan minuman", kata Totok.
Ngajidin duduk, termangu sambil bersandar pada sebuah tiang bangunan terminal. Pagi itu, ia merasakan kelelahan yang amat sangat. Selain itu, perutnya yang keroncongan minta diisi makanan atau sekedar seteguk air. Sayangnya, dirinya tidak memiliki uang sepeserpun untuk membelinya. Akhirnya, ia hanya duduk dilantai sambil bersandar menikmati pemandangan hilir mudiknya manusia sambil menjinjing tas maupun kopor.
Tanpa sepengetahuan Fikri, rupanya Tyas dan Totok telah bersekongkol untuk mendampratnya. Mereka tengah merencanakan sesuatu. Menyadari hal itu, Fikri bangkit berdiri sambil berkacak pinggang dan berkata. " Hai, kamu Totok dan Tyas. Aku tak pernah membius Ngajidin. Aku hanya tertidur. Dan ketika tidur itulah, Ngajidin tidak merasakan apapun. Rasa haus, lapar ataupun capek tak terasakan olehnya. Bila hal itu terjadi hingga 2 hari sekalipun", kata Fikri. "Sebenarnya yang salah adalah kalian berdua", tegas Fikri.
Merasa disalahkan, mereka berdua, Tyas maupun Totok, tak mau diam saja. Mereka pun membela diri. " Koq malah aku yang disalahkan", tukas Totok. " Coba jelaskan dimana salahku dalam masalah ini", sambung Tyas.
"Totok Bayu Samudra dan kau Ratna Ning Tyas, dengarkan penjelasanku, kata Fikri Nur Rahmat. "Sejak pertama kita bertemu dan saling mengenal, kita telah sepakat untuk mengajak Ngajidin menuju jalan yang lurus. Menyelamatkan dirinya dari rongrongan yang bermaksud menjerumuskan Ngajidin menjadikan dirinya seperti hewan".
Mahkluq yang namanya hewan, bukankah kalian berdua sudah tahu! Betapa bejadnya mereka. Pekerjaan mereka hanya berebut makanan dan berebut lawan jenisnya saja. Dan itu dilakukan sepanjang hidupnya, tanpa mengenal rasa malu dan belas kasihan! Dan kalian bersekongkol hendak menjerumuskan Ngajidin kederajad lebih rendah, yaitu hewan.
Apa kalian tidak kasihan dengan Ngajidin. Selain itu, kalian juga menginginkan dirinya tetap berdiam di pondok. Bila aku biarkan ia berada disana, Ngajidin akan menjadi boneka. Ia akan diperalat oleh yang lainnya, agar supaya dirinya mau membantu mantan santri mendapatkan jabatan sebagai seorang gubernur. Apakah kalian tidak mengerti, bila sebenarnya mantan santri Wak Yai itu, sebenarnya, hanya memperalat Wak Yai dan santrinya untuk mengahantarkan dirinya memenuhi keinginannya menjadi gubernur. Bila sudah jadi, tidak mungkin mereka mau menurut apa yang menjadi kehendak Wak Yai. Ia akan lebih menurut kepada majikan barunya, yaitu para pengusaha, seperti Alim markus dan sejenisnya.
Manusia yang menjadi alat seseorang agar bisa menduduki jabatan tertentu, akan memperoleh getahnya. Orang seperti itu juga menerima bagian dosa dengan menempatkan seseorang menjadi pengayom masyarakat. Padahal, perbuatannya, justru sebaliknya malah menindas masyarakat lainnya", jelas Nur Fikri.
"Kamu jangan memutarbalikkan fakta", kata Tyas menyangga penjelasan Fikri. Bukankah selama ini, yang membuat manusia berbuat seperti itu atas perintahmu? Bukankah segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia atas perintahmu? Aku hanya mengamini apa yang menjadi keinginan dan perintahmu semata. Bukankah seperti itulah yang terjadi pada manusia lainnya, seperti Ngajidin, sambung Tyas.
Totok pun segera menimpali sanggahan yang dilakukan oleh Tyas. " Aku ini kan hanya pion, hanya pesuruh", kata Totok dengan nada pasrah. "Aku hanya makan atau minum, itu pun karena perintahmu. Bukan atas kemauanku sendiri", katanya lagi.
Tidak bisa, aku hanya memerintahkan dirimu untuk makan secukupnya. Tapi, seringkali engkau makan minum berlebihan. Terkadang engkau makan barang yang bukan menjadi hak Ngajidin. Juga kamu minum barang yang terlarang seperti tuak, alkohol, bahkan kamu juga makan bubuk putih yang membuat aku lemah dan bahkan mati. Masak aku menyuruh engkau makan yang membuat diriku mati? Apakah itu mungkin? Tanya Fikri. Oleh karena itu, hai Totok Samudra. Engkau harus menyadari. Terkadang ada perintah yang bukan dariku. Tetapi itu tidak pernah engkau ketahui, apalagi memahami. Perintah itu datang dari Tyas. Tyaslah yang memerintahkan dirimu makan minum tanpa ada batasan, jelas Fikri. Totok Samudra, terdiam dan menatap tajam kepada Tyas.
Tyas yang tersudut bangkit berdiri. Ia tak mau kalah oleh tingkah dan diplomasi Fikri.
"Hai Fikri", kata Tyas dengan suara merdu seperti seruling. " Kamu jangan lempar batu sembunyi tangan", kata Tyas lagi. Aku berbuat seperti itu, untuk melindungi dan menjaga hidup Ngajidin. Lihatlah, ia duduk dan tertidur lemas karena kelaparan dan kehausan, pakah engkau tidak merasa iba dengan pemandangan ini? Jelas Tyas.
Karena kelelahan, haus dan kelaparan, Ngajidin tertidur dilantai terminal. Rasa dingin dan lapar mengharuskan dirinya memeluk lututnya sendiri. Ngajidin, tidur setengah melingkar. Tubuhnya ditekuk sedemikian rupa. Mirip tubuh hewan bernama trenggiling yang lari menyelamatkan diri ketika dikejar musuh.
Perdebatan antara Fikri, Totok dan Tyas, tidak menjadikan rasa kantuknya hilang. Bahkan ia justru tertidur pulas. Seakan tak terjadi apa-apa dengan dirinya. Rasa lapar dan haus pun, tak membuat serta merta tangannya menyambar tas, makanan manusia yang lalulalang di terminal itu. Ngajidin bukan tipe orang yang mudah menyerah dan merebut hak orang lain. Tidak seperti orang kebanyakkan.
Seiring dengan dengkuran suara perut Ngajidin, Totok merasa ingin segera menyuap sesuatu dan memasukkannya kemulut Ngajidin yang mengecap-ecap. Disisi lain, Tyas semakin mendongkol dan mengeluarkan hawa panas dari tubuhnya. Sedangkan tubuhnya sendiri semakin berwarna merah.
Fikri! bentak Tyas pada Fikri. " Apakah kamu ingin Ngajidin mati lemas.? Dengan membiarkannya tanpa makan dan minum? Biarlah aku berbuat sesuatu untuk Ngajidin. Agar ia tidak kelaparan dan kehausan, kata Tyas setengah memohon kepada Fikri.
Mata Fikri melotot. Saking lebarnya ia memelototkan matanya, mata itu hampir-hampir copot keluar. Seiring dengan apa yang dialami Fikri, kepala Ngajidin mengeluarkan uap dingin berwarna putih. Ngajidin nampak menggigil kedinginan. Keadaan Ngajidin yang seperti itu, tak luput dari perhatian orang yang lalu lalang di terminal Bungurasih.
Tak jarang orang yang menyaksikan kondisi Ngajidin menjadi iba. Selain rasa dingin yang membuat tubuhnya terlihat pucat, pakaian kumel Ngajidin menambah nilai kekerean. Melihat itu, banyak diantara orang-orang tersebut melemparkan uang recehan. Bahkan ada juga yang menyempatkan merogoh kantungnya dan mengeluarkan puluhan ribu rupiah. Mereka melemparkannya ke samping tubuh Ngajidin.
Lihatlah!, kata Fikri. Apa yang dilakukan manusia ketika melihat kondisi Ngajidin. Rasa iba! Rasa iba, memunculkan rasa sosial. Hal seperti itu pasti dilakukan oleh manusia. Namun, hal tersebut akan menjadi sebaliknya. Bila si manusia tersebut menuruti kehendakmu, jelas Fikri sambil menatap tajam kepada Totok dan Tyas bergantian.
"Apa maksudmu", tanya Totok dan Tyas hampir bersamaan. Begini, kata Fikri berusaha menjelaskan. Manusia itu dalam hidupnya, hendaknya bisa menguasai diri. "Bahkan mematikan diri", kata Fikri lagi.
Nah, kalau manusia tersebut, katakanlah seperti apa yang sedang dilakukan oleh Ngajidin. Kalian berdua harusnya, membantunya, bukan malah sebaliknya. Menentang kemauan manusia seperti Ngajidin. Dengan melakukan tipu daya dengan berbagai cara.
Kalian membanding-bandingkan keadaan Ngajidin dengan manusia lainnya. Padahal manusia-manusia yang kalian jadikan pembanding, adalah manusia-manusia lemah yang mudah dan telah kalian perdaya.
Stop, stop ocehanmu, Fik, kata Totok menghentikan penuturan Fikri. " Apa nggak keliru apa yang kamu bicarakan. Selama ini, siapa yang menipu Ngajidin, kami berdua atau dirimu yang pongah, congkak, sombong tak berperasaan! Semenjak Ngajidin pergi meninggalkan pondok yang engkau katakan telah keluar dari pakem, Ngajidin tak menelan apapun selain ludahnya sendiri", kata Totok. Dus, dengan demikian, engkaulah yang menyiksa dirinya, sehingga ia mengalami hal seperti ini. "Ia hidup terhina dan terlantar di sebuah terminal", cibir Tyas menimpali sanggahan Totok kepada Fikri.
Ngajidin, menguap. Kemudian meregangkan tubuhnya, seolah meluruskan otot-ototnya yang kaku. Beberapa saat kemudian ia duduk, menyapu sekelilingnya dengan pandangan mata yang masih terlihat lelah dan ngantuk.
Saat ia menoleh kesebelah kiri tubuhnya, tangannya menyentuh sesuatu yang menghendaki pandangan matanya tertuju kearah dimana tangannya merasakan bulatan dingin. Setelah matanya menemukan apa yang dirasakan oleh tangannya tadi, iapun tertegun beberapa saat. Di sebelah kanan dirinya, dimana ia duduk didapati puluhan keping uang recehan dan beberapa lembar uang puluhan ribu rupiah.
Ia pun termenung beberapa saat. Disekitarnya tak terlihat ada orang. Maka diberesinya uang yang berceceran itu. Setelah itu, ia berdiri melangkah sambil menggenggam selembar uang puluhan ribu. Sedangkan lainnya ia masukan kedalam buntalan sarung yang berisi dua potong pakaian yang dibawanya dari pondok. Pakaian itu sebagai ganti dalam pengembaraannya.
Dengan selembar uang di tangan, Ngajidin menuju ke sebuah warung dan memesan segelas kopi dan memakan sepotong pisang gorong. Ia duduk di sebuah kursi salah satu restorasi yang ada di terminal.***

Serial Ngajidin
Bertemu Tuhan Di Bungkul
Ngajidin menyeruput kopi panasnya sedikit demi sedikit. Rokok ketengan bermerk 76, dihisapnya kuat-kuat dan dihembuskannya perlahan dari mulut dan lubang hidungnya. Puluhan pasang mata, memandang penuh selidik dan tanda tanya. Mungkin dalam hati, pemilik beberapa pasang mata itu bergumam dalam hati. Baru minum kopi dan menghisap rokok 76, sudah demikian nikmatnya. Apalagi bila ada seorang cewek cantik yang mendampingi? Pemuda ini tentu merasa sebagai pemilik dunia. Demikian piker banyak orang yang ada disekelilingnya.
Pemuda lecek ini, bukan tak tahu pikiran yang menggerayangi beberapa orang yang juga sedang menikmati pelayanan kafetaria terminal itu. Namun, dasar Ngajidin, selalu cuek bebek dengan keadaan sekelilingnya yang sekiranya hanya menimbulkan prasangka buruk bagi dirinya. Hingga, beberapa saat kemudian, ada mulut usul yang bertanya kepadanya. Bade tindak pundit mas? (mau pergi kemana mas?)
Ngajidin melihat kearah pemilik suara, ternyata adalah seorang kondektur Bus Antar Kota. "Saya bade tindak Bungkul, mas," jawab Ngajidin sekenanya. "Mau ziarah toh? Iya, jawab Ngajidin lagi. "Kalau mau ke Taman Bungkul, saya mesti naik mobil yang mana mas ya"? Tanya Ngajidin. " Sampean naik Bus Kota aja, yang jurusan Perak. Itu busnya, yang ada tulisannya P4 jurusan perak lewat Tunjungan", kata mbak-mbak penjaga Café Been terminal Bungurasih, menimpali tanya jawab Ngajidin dengan kondektur Bus Antar Kota.
Beberapa saat kemudian, Ngajidin telah bergelantungan di dalam Bus Kota yang penuh sesak. Bus itu membawanya menuju Taman Bungkul yang berada di tengah Kota Surabaya. Ya, namanya juga Bus Kota. Sudah menjadi kelaziman di jaman yang katanya modern dan maju ini. Ya seperti inilah, bus kota di negeri ini. Negeri yang gemah ripa lo jinawi. Bukan lautan tapi kolam susu, tongkat dan batu jadi tanaman. Tapi nyatanya apa? Semua yang namanya kendaraan umum, kendaraannya kaum kere, ya pasti kumuh, jelek, polutif, penuh sesak selain itu pasti tidak aman.
Lain dengan kendaraan peribadi! Ngajidin melihat, kendaraan pribadi yang kebetulan sedang melintas di jalur sebelah kanan. Ia membandingkan dengan bus yang ia tumpangi yang sekali-kali mengeluarkan asap hitam dengan mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil-mobil itu terlihat mulus, elegan dan mewah, sedangkan orang yang duduk didalamnya terlihat berkepala botak, kalau tidak yang terlihat berkulit kuning, bila wanita terlihat sangat mulus dan cantik.
Itu kalau kaca mobilnya terang. Kalau mobilnya berkaca gelap, Ngajidin tidak mengetahui, apakah yang duduk didalam mobil itu pejabat, maling, koroptor, perampok, manusia, setan berkumis atau setan berkepala botak, ia tidak mengetahuinya. Yang jelas, sepertinya hanya mobil dan motor yang tidak mengeluarkan polusi lah yang layak dan pantas melewati jalanan ini. Sedangkan angkutan umum yang ditumpanginya, seharusnya sudah masuk mesium atau pabrik untuk didaur ulang.
Keruwetan fikir dan hati Ngajidin mengarahkan langkah kakinya menuju Taman Bungkul. Sesuai pelajaran sekolah yang ia dapat dari guru sejarahnya, bahwa Sunan Bungkul merupakan seorang "Tokoh Tua Sebelum Jaman Wali Sembilan Tanah Jawa". Entah apa yang menggerakkan hatinya sehingga dirinya memilih tempat itu sebagai pelampiasan kegundahan hati. Yang jelas, bila dibandingkan dengan tempat seperti Sunan Ampel, mengingat tempat Sunan Bungkul terasa lebih menyejukkan jiwanya.
Ngajidin memang belum pernah melakukan ziarah ke semua makam, petilasan Sembilan Wali. Tetapi ia pernah "melihat makam Sunan Giri dan Malik Ibrahim di Gresik. Dirinya juga pernah bermunajat kepada Penciptanya di Sunan Bonang yang terletak di dekat alun-alun Tuban, Jatim. Bahkan ia pernah menginap di Sunan Drajat, Lamongan selama dua hari.
Sesampai di depan Taman Bungkul bus yang ditumpanginya berhenti, ia pun segera turun dan menyeberang untuk segera memeluk hawa sejuk pelataran Bungkul. Di pelataran itu, ia menyaksikan banyak pemandangan yang mengisyaratkan akan kebesaran Sang Pencipta.
Dua puluh tahun lalu, yang disebut Taman Bungkul, tidak seperti yang ia saksikan sekarang ini. Dulu, tempat itu lengang dan berkesan magis. Walau saat itu, ketika ia dating ke tempat itu masih berusia beberapa tahun. Kini tempat itu bak pasar. Ramai oleh banyak pengunjung, baik tua, muda laki-perempuan dengan mengenakan pakaian yang menandakan jamannya sendiri. Tetapi juga tak sedikit oaring yang mengenakan pakaian spiritual. Ya, pakaian yang dianggap menyiratkan jiwa spiritual pemakainya. Di sekeliling taman, menjadi bagian tempat parker kendaraan yang rata-rata kendaraan roda dua. Sedangkan kendaraan roda empat, diparkir dibagian depan rumah sakit milik angkatan udara. Namun semua itu, tak mengurangi nuansa sejuk yang dirasakan jiwanya.
Segera Ngajidin melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang melingkari Taman Bungkul. Sambil berjalan mengitari taman, Ngajidin memberikan ucapan salam kepada penghuni makam Taman Bungkul, walau hanya didalam hati. " Assalammualina ya ahli kubur, khusushon Sunan Bungku", katanya dalam hati. Setelah itu ia menuju ke sebuah kedai minuman memesan secangkir kopi pahit dan sebatang rokok favoritnya.
Ia sengaja tidak langsung memasuki areal pemakaman. Dirinya ingin mendapatkan kejelasan tentang apa yang pernah ia rasakan selama ini, yaitu apakah kedatangannya itu atas "undangan" dari yang empunya tempat? Dirinya perlu mendapatkan jawaban sebelum ia memasuki "rumah" Sunan Bungkul yang dikenal waskita itu.
Sebelum memutuskan keluar pondok yang terletak di kota Kediri, yang kebetulan saat itu penghuni pondoknya sedang dihinggapi demam Pilkada, Ngajidin telah mendapatkan panggilan hati untuk melakukan ziarah ke Tamn Bungkul. Karenanya, momen itu dijadikan Ngajidin sebagai momen untuk meninggalkan pondok dan memenuhi keinginan hatinya. Walau begitu, dirinya masih belum merasa yakin. Bahwa keinginan itu tidak keluar dari keinginan hati atau nafsunya sendiri. Sebab selama ini ia di pondoknya, tidak pernah mendapatkan pengajaran apapun. Dirinya hanya diberikan tugas oleh Wak Yai untuk mengisi air dan memenuhi setiap kolam yang dijadikan sebagai tempat wudhu dan tempat mandi para santri. Walau ia sudah mondok lebih dari 4 tahun.
Sejenak setelah memesan kopi dan rokok, Ngajidin duduk di bangku kayu kedai. Sebelumnya, ia membuka dan memasukkan songkok bulat berwarna putih yang ia pakai kedalam saku celana yang hanya sepanjang betis. Sambil menikmati rokok dan kopi, ia menyaksikan pernak pernik Taman Bungkul. Dirinya melihat beberapa pemuda-pemudi seusianya, sedang bermain papan luncur. Tanpa sadar, dirinya menghitung kumpulan pemuda yang begitu riang bermain dengan mengunakan papan luncur itu.
Ada enam orang pemuda. Dua perempuan dan empat lelaki. Dua pemudi itu menggenakan celana berwarna gelap ketat sepenjang dengkul. T-Shirt berwarna hitam, selain ketat, juga hanya sebatas pinggang. Seolah si pemakai sengaja memamerkan bentuk tubuhnya. Terutama bagian pinggul yang nampak ehem… Sedangkan yang Empat pemuda berpakaian layaknya orang kota. Ada yang memakai kalung, gelang dan dua orang mengenakan anting ditelinga bagian kirinya.
Dikedai itu, Ngajidin duduk membelakangi arah pintu masuk areal pemakaman. Tampak olehnya dari arah jalanan rombongan orang tua, muda, besar maupun kecil memasuki pelataran dan langsung menuju areal pemakaman. Pakaian mereka serba putih sengan songkok bulat berwarna putih pula. Mereka bergegas menuju areal pemakaman Sunan Bungkul yang berada di belakang sebelah kanan tempatnya duduk. Tampaknya rombongan itu dari luar kota. Entah dari mana, ia tidak peduli. Yang sedang ia pikirkan, ketika rombongan itu memasuki areal pemakaman, adalah begitu kontras. Kekontrasan itu, bila ia membandingkan antara pemuda yang sedang bermain papan luncur dengan rombongan yang baru datang tersebut. Yang satu datang untuk "bermain" dengan mengenakan pakaian modern. Sedangkan disisi lain ada rombongan yang datang tentu juga bisa disebut sedang "bermain".
Selain kedua kelompok itu, ada juga kelompok lain yang membawa alat-alat musik menghantarkan lagu dan syair. Di pelataran sebelah barat, juga tidak sedikit pemuda-pemudi melakukan aktifitas "layaknya pemuda". Bahkan ada yang sedang bermain bola dan bercengkrama. Pendeknya di tempat itu tergambar "Allahu Akbar". Yaitu, salah satu sifat Sang pencipta yang selama ini lepas dari perhatiannya.
Ya, bukankah semua apa yang terhampar didepannya, sebenarnya merupakan wujud dari kebesaran Nya? Baik itu yang terekam lewat panca indra atau tidak. Mungkin, selama ini apa yang terlihat seperti yang ada di Bungkul, merupakan sebuah kontradiksi. Tetapi bagi indra telah beriman, hal itu merupakan sebagian dari wujud af’al Allah.
Dan di Taman Bungkul itu Ngajidin juga dapat melihat akan Sifat Allah. Bagaimana tidak, apa saja yang tidak mendapatkan kasih sayang dan rezeki dari Nya? Ada orang berjualan bermacam-macam barang dagangan. Semuanya laku dan banyak dikunjungi oleh pembeli. Sedangkan para pemuda dengan pakaian Hypis, rambut gimbal dengan telinga ditindik sebelah, juga mendapatkan bagiannya dengan menjadi tukang parkir. Dan para pengamen yang tampak "agak sopan". Dan yang jelas, lebih ganteng dari dirinya, juga mendapatkan daun yang tidak sedikit. Sikap mereka semua terkesan bersahabat, bila dibandingkan dengan yang berada di tempat lain. Hal ini menunjukkan kepada dirinya, bahwa Tuhan menampakkan "Diri Nya" melewati sebuah lubang bernama Sifat Nya. Di Taman Bungkul itulah ia baru bisa melihat Tuhannya!
Tanpa disadari oleh Ngajidin, tangannya ada yang menggandeng. Ia dipapah dan menggerakkan langkah kakinya menuju ke dalam. Ngajidin memasuki areal pemakaman "tidak dengan keinginan diri". Otaknya, tidak memerintahkan, hatinya tidak menggerakkan, sedangkan lidahnya keluh tanpa firman, saat memasuki peraduan Sunan Bungkul!

Biasanya, hatinya selalu bertanya dan berkata macam-macam ketika ia melihat dan berkeinginan sesuatu. Lidahnya tak mau berhenti bicara, saat melihat keadaan yang lain dari pada biasa. Dan sedangkan otaknya, senang memerintah dirinya untuk melakukan segala macam hal, bahkan terkadang hal yang buruk menurut tatanan umum sekali pun. Tetapi kali ini tidak sama sekali.
Ketika tiba di dalam, areal pemakaman yang tergeletak hanyalah puluhan batu nisan. Ia tidak melihat Sunan Bungkul. Ia tidak melihat Sunan Kalijaga atau siapapun. Sekali lagi, ia hanya melihat batu nisan! Yang terdengar, hanya pujian Asma Allah. Itupun tidak didengar lewat daun telinganya, juga tidak melewati gendang telingahnya. Namun yang jelas pujian tentang Asma Allah itu berada di dalam kepalanya! Sebab Tuhan tidak berada dimana-mana, tetapi juga tidak kemana-mana. Sebab, Tuhan Allah hanya ada dan bersemayam diatas Arsy Nya. Dan Ngajidin bertemu Tuhannya di dalam Arsy dengan perantara Nya pula. Allah Sang Pencipta hanya bisa ditemui oleh Diri Nya sendiri. Tidak oleh siappun termasuk manusia bernama Ngajidin!***